Latest Entries »


1By : Nur Sholahuddin Fajri

EDUCATION FAIR (FREE)
Pemburu Beasiswa

“ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015”
Sabtu, 14 September 2013 | Graha Saba Pramana UGM

Ini link registrasi ONLINE Education fair 2013  —-> http://pemburubeasiswa.org/pendaftaran-edufair-2013-pemburubeasiswa/

993948_4532969982945_1487721991_n

“ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015”
Sabtu, 14 September 2013, 08:00-15:30 di Graha Saba Pramana UGM

‪#‎PameranBeasiswa‬
ADS, AMINEF, British, DAAD, IIEF, Monbugakusho, Neso, etc.
‪#‎Seminar‬
1.Harry Firmansyah

2. Bezie Galih Manggala

3. Muhammad Assad

4.Dude Harlino

5. Nadia K Hakman

6.Dinar Catur Instiyanto,

7. Nur Febriani Wardi


#‎SkypeVideoConference‬

1. Agus Sofyan (Amerika Serikat)

2. Iwa Kartiwa (Korea Selatan)

3. Ferry Anggoro Ardy Nugroho (Swedia)

4. Asri Pramutadi Andi Mustari (Jepang)


Tegang! Mungkin itulah padanan kata yang tepat ketika saya pernah berselisih paham dengan seorang sahabat. Adalah M, sahabat saya tersebut. Seorang gadis muda yang tegas namun penuh ketulusan dalam setiap langkahnya, meskipun tidak setiap orang bisa memahami ketegasan di balik ketulusannya itu. Ketegangan yang sempat terjadi diantara kami membuat kami harus mengevaluasi diri, dimana letak salah kami selama ini.

Namun bukan apa sebab ketegangan yang ingin saya bicarakan di sini, tapi sikapnya yang begitu bijak menyikapi ketegangan tersebut. Coba lihat sebuah pesan yang dia kirimkan kepada saya,

When the nails grow, we cut the nails, not the fingers. Similarly, when the misunderstandings raise, we should cut the misunderstanding, not the relations. (Ketika kuku tumbuh, yang kita potong adalah kukunya, bukan jarinya. Sama halnya, ketika kesalahpahaman terjadi, yang kita potong adalah kesalahpahamannya, bukan hubungannya).”

Begitu bijak kata-kata tersebut hingga menginspirasi hidup saya dan meredakan ketegangan yang terjadi. Entah darimana ia dapatkan kata-kata itu, dari buku, internet, atau dari manapun, tak menjadi persoalan bagi saya, karena yang penting kata-kata itu bisa merubah cara pandang saya dalam menyikapi sebuah perselisihan.

Sebab bagaimanapun buruknya sebuah perselisihan dan ketegangan, ia tak bisa diselesaikan dengan kebencian apalagi kekerasan, ia hanya bisa diselesaikan dengan pengertian dan kesabaran. Bila pengertian laksana cahaya dan perselisihan laksana kegelapan, maka cahaya sekecil apapun pasti bisa bersinar di tengah kegelapan. Jadi cobalah untuk bisa mengerti sebelum ingin dimengerti orang lain.


PB

cropped-header-fb-profile

Sampul Pemburu Beasiswa

By : Sholahuddin Fajri

267221_10200413301319173_374312343_nKOPDAR  Panitia  13 Juli 2013

PB2

Minggu, 21 juli 2013  @Balairung UGM

2

1

Perasaan untuk Hari Esok


Sebenarnya mata saya sudah benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, tinggal beberapa watt breeeeg terkapar. Tapi lagi lagi tertampar tulisan dari mas gun (KURNIAWAN GUNADI, Mahasiswa Faculty of Art and Design ITB 2009)

Saya copas dari tumblr nya : (tanpa mengurangi sedikit tulisan hasil karya nya)

 

Orang yang pandai menjaga perasaannya akan tahu makna penjagaan itu sampai datang waktu tibanya. Meredam segala letupan-letupan kecil di masa muda untuk sesuatu yang lebih berharga, seumur hidup.

Diluar sana, banyak yang bermain dengan letupan kecil itu hingga menjadi ledakan besar. Hingga hilang arah kemana lagi dia harus mengembalikan perasaannya. Hingga menghancurkan apapun yang telah ia gadang-gadang untuk masa depannya.

Sebelum terlampau jauh, sudahilah atau biarkanlah letupan itu menjadi sesuatu yang biasa saja. Didepan sana ada banyak hal yang lebih penting daripada mengurus hal-hal seperti itu. Ada hal yang menjadi rahasia di hari esok dan itu membutuhkan perjuangan besar.

Diluar sana, banyak yang dengan mudahnya berkata-kata menjanjikan sesuatu. Menjanjikan masa depan yang bahkan dia tidak bisa menjanjikan masa depannya sendiri. Justru menjanjikan masa depan kepada orang lain.

Kemudian juga banyak yang meninggalkan dengan mudahnya. Laki-laki telah menyulut api dan membiarkannya terbakar. Perempuan bermain api dan tak tahu cara memadamkannya.

Aku pernah mengatakan kepada kawan terdekatku yang sedang disulut perasaannya. Ketika kamu menghadapi perasaanmu, kamu membutuhkan logika orang lain untuk mencarikanmu jalan keluar.

Logika orang lain dibutuhkan untuk menamparmu, agar sadar. Bahwa, segala bayangan-perasaan nyaman-dan segala sesuatu yang terlihat sangat indah itu hanyalah bayangan. Sesuatu yang tidak nyata dan cenderung menyesatkan. Sesuatu yang tidak sebenar-benarnya kamu miliki.

Luruskanlah hati, luruskanlah perasaan. Perasaan bisa datang dari dua arah, dari setan atau dari Tuhan.

Laki-laki mudah memberikan janji, perempuan suka dijanji-janjikan. Laki-laki mudah melupakan janji, perempuan mengingat setiap janji. Seandainya tidak ada ikatan yang ada pada keduanya berupa ikatan yang sangat kuat (mitsaqan ghaliza), terputuslah keduanya hanya karena masalah-masalah tidak penting.

Seandainya membangun sebuah bahtera dengan mudahnya bercerai dan pindah ke bahtera lain. Niscaya, tidak akan ada cerita cinta yang indah di dunia ini. Segala yang perempuan bayangkan tidak ada dalam bayangan laki-laki. Segala yang laki-laki pikirkan tidak ada di pikiran perempuan. Keduanya tidak akan bertemu menjadi satu sebelum terikat. Ikatan yang mengikat hidupnya ketika hidup dan setelah mati.

Bandung, 21 Juli 2013

Untuk temanku yang sedang disulut api selama 5 hari :)

 

Dan saya hanya ingin bilang, ini pas banget buat saya #pelajaran berharga #cukup

“Pilihlah lelaki yang baik agamanya. Jika marah tidak akan menghina, bila cinta akan memuliakan.” (Hasan Basri)

*signout*

 


Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

“Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.

“Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Naaaa, kalau begitu, saya sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.

Jangan berkata “tidak” sebelum pernah mencobanya.

= = =

Suatu hari ketika di suatu majlis ta’lim, ada akhwat yang bertanya padaku, “Lagi ngafal qur’an ya mbak? Kok bisa sih ngafal qur’an? Kalau saya apa bisa ya? Sulit banget..”. Saya pun menanggapi, “Mbak lihatnya langsung satu qur’an utuh seluruhnya.. tentu kelihatan sulit..”, jawabku seolah menyetujui pernyataannya.

“Kalau ngafal qur’an, ngafalnya satu ayat dulu mbak. Kalau diminta menghafal satu ayat bisa kan? Nah, sebenarnya itu yang dilakukan, menghafal satu ayat dulu, lalu ayat ke-2. lalu ayat ke -3, trus digabung.. lalu ayat ke-4, ayat ke -5, ayat ke-6… dan seterusnya hingga mencapai satu halaman. Kalau sudah hafal satu halaman, pindah untuk menghafal halaman seluruhnya.

Intinya, mengumpulkan keberhasilan-keberhasilan kecil.. sedikit demi sedikit.. terus-menerus.. hingga khatam.”

“Oh, begitu.”, jawabnya mendengarkan penjelasanku.

“Iya, memang awalnya agak sulit karena belum terbiasa menghafal, tapi kalau udah terbiasa nanti bisa lebih mudah dan lebih cepat. Saya dulu menghafal qur’an bisanya cuma 1 juz dalam satu bulan. Sekarang bisa dua juz dalam satu bulan (target normal mahad tahfidz), bi idznillah. alhamdulillah.”

= = =

Dengan doa, keyakinan, kesungguhan, dan kesabaran, sesuatu yang nampaknya tidak mungkin bisa menjadi mungkin. bi idznillah.. Allahu Akbar!

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghafal qur’an. Aamiin. Walaqod yassarNal qur’aana lidz-dzikri fahal min muddakir..


Bismillah..

Suatu hari di kamar dengan posisi duduk di atas tikar berwarna hijau..

“Alhamdulillah, akhirnya kakak sudah selesai menghafal.”, kataku pada adik sepupu perempuanku yang bersekolah di IT Informatika. Saya menyerahkan mushaf al-qur’an berwarna merah hati pada adik lalu berkata, “Dik, ayo kakak disimak ya! Satu halaman saja. Yang ini!”, kataku sambil menunjuk halaman yang perlu dia simak.

Lalu adik menyimak hafalanku. Alhamdulillah, saya bisa membaca hafalanku dengan lancar. Namun, ketika akan berakhir, adikku memberi kode dengan kepalanya. Saya sadar, berarti ada yang salah atau kurang pada hafalan yang sedang kubentuk itu. Pada halaman itu ada tiga ayat yang sangat mirip. Saya sudah berhasil membedakan dua ayat sebelumnya, tapi pada ayat yang ketiga, ada satu kata yang belum kuucapkan, yaitu kata “minnaa”.

“Wah, ayatnya sangat mirip. Ternyata masih kurang satu kata..”, kataku sendu. Saya merasa belum berhasil, karena target ‘hafalan baru’ haruslah hafalan yang sempurna tanpa kesalahan, tanpa terbata-bata, atau berhenti untuk mengingat-ingat. Hanya saja, memang sudah kukenali kalau hafalanku itu.. biasanya bisa menjadi sempurna kalau sudah disimak dua kali oleh orang lain. Kalau disimak satu kali, kadang masih ada yang kurang, atau mungkin masih ragu2 meskipun akhirnya nanti bisa melanjutkan sampai akhir.

= = = = =

“Alhamdulillah… Halaman ini kakak hafal dalam waktu setengah jam.”, kataku pada adik yang sudah menyerahkan kembali mushaf merah itu padaku.

“Lho, kok bisa cepet banget?”, jawabnya agak heran.

“Mm.. karena kakak sudah biasa mendengar ayat itu. Selain itu, halaman itu sudah kakak terjemahkan..”, jawabku.

Lalu aku balik bertanya padanya, “Kalau adik, target hafalannya berapa?”

“Sekolah menargetkan satu semester satu juz.”, jawabnya. Satu juz pada mushaf madinah terdiri dari 10 lembar. Satu semester ada 6 bulan, tapi mungkin bulan terakhir untuk ujian, maka waktu menghafal adalah 5 bulan.

“Berarti kalau dihitung2, baiknya tiap bulan adik menghafal dua lembar (2 lembar = 4 halaman). Satu bulan ada empat pekan, berarti satu pekan menghafal satu halaman”, jawabku menjelaskan.

“Oh ya, sebenarnya kakak dulu bisa menghafal satu halaman dalam waktu 10 menit. Tapi kondisinya harus sangat tenang, misalnya pagi hari sebelum shubuh.”, tambahku. Hal ini kukatakan padanya untuk memberi motivasi.

“Ya sudah, gitu aja ngafalnya..”, jawab adikku. Mungkin dia berpikir, kenapa tidak 10 menit aja? Kan lebih cepat, lebih enak..

Lalu Saya menjawab, “Tapi kakak tidak suka menghafal cepat2, soalnya kalau ngafalnya cepat biasanya cepet ilang. Trus rasanya kering dan kurang berbekas pada hati. Ya sudah, kakak lebih suka menghafal satu halaman dalam waktu setengah atau satu jam saja. Hati bisa lebih basah dan ada bekasnya. Selain itu, juga tidak mudah hilang.”, jawabku menjelaskan. Ternyata cepat hafal bukanlah segalanya..

= = = = =

Guru ngaji saya tipenya bukan orang yang mudah silau dengan cepatnya murid2 beliau menghafal.. karena beliau melihat dari sudut pandang keseluruhan. Memang menghafalnya bisa cepat, tapi bagaimana dengan tugas tilawah hariannya.. bagaimana dengan tugas muraja’ah hafalannya? Semuanya harus dalam keadaan baik, baru beliau akan menganggap kondisi kita dalam keadaan baik.

 

 

 

 


…Dan karena Allah akan menguji kita dengan orang yang paling kita sayang, untuk melihat sejauh mana kita sayang Allah melebihi dari orang tersebut.  Kalimat ini beberapa yang lalu tiba-tiba ngena banget di hati saya, entahlah..banyak kejadian yang sebenarnya tidak saya ingin kan dan tidak mau diambil pusing, eh ternyata pusing sendiri karena capek. Lebih capek mikir pakai otak, daripada main-main dengan otot itu benar adanya.

Kita akan diuji melalui apa yang kita sayangi dan dengan apa yang selalu kita katakan. (Pahrol Muhammad Juoi)

Sebenarnya kalau tidak ada ujian, saya tidak akan tahu. Iya saya tidak akan tahu orang-orang yang sayang sama saya #eaaa niat nya bukan bahas sayang yang lain. Saya baru sadar ketika saya buat status, ketika saya nulis diam-diam beberapa sahabat saya itu selalu menyimak meskipun tidak mengomentari apapun, tapi mereka selalu ada memberi semangat dan motivasi dan mungkin mereka juga berdoa untuk saya. Saya bukan GeEr tapi ketulusan seseorang itu tidak bisa di lihat tapi hanya bisa dirahasakan oleh HATI. Dan itu yang saya rasakan, saya nulis uneg2 apapun masih sempat ada yang tanya ,’ina kamu lagi gak galau kan? cerita dong kalau mau hehe, ya meskipun simple tapi mereka selalu ada, saat susah ataupun senang. Mungkin saya akan bilang ke semua orang yang kenal sama saya,’ Saya TIDAK APA-APA, tidak peduli mau di benci semua orang. Asal kedua orang tua saya dan Allah itu TIDAK. Hanya itu
Selama Benar, Saya TIDAK PEDULI. Ya sudahlah niat saya nulis ini mau bersih2, bersih hati dan pikiran saya dari masa lalu yang kejam. Kejam karena kelakuan saya sendiri, Semua ini ujian buat saya, saya akan terima karena saya tahu Allah sayang sama saya.

sudah itu aja *sign out*

 


Bismillah…

Ada yang aneh..Ada yang salah..Ada yang keliru..Ada yang tidak serba jelas..Iya semua ada semenjak awal bulan april sampai detik ini, saya di bingungkan dengan beberapa pertanyaan dari orang-orang yang belum pernah saya temui. Saya tidak akan menjudge itu salah siapa? itu mau nya apa? kalaupun ada yang harus disalahkan, jelas itu salah saya sendiri bukan yang lain. ini semua membuat saya berpikir keras,, ada apa sebenarnya dengan saya? apa yang telah saya lakukan? apa perkataan saya kemarin ada yang membuat beberapa orang mengorek kehidupan pribadi saya? Saya tidak terlalu mempedulikan apa maksud dan tujuan orang yang mau tahu urusan pribadi saya, hanya saya merasa ini semua sudah terlewat batas, mau tahu hidup saya dalam arti penasaran? ketemu juga belum pernah, mau apa coba. Tapi  semua kembali lagi Allah itu tahu apa yang semua hamba-hamba nya lakukan, jadi tetap khuznudzon. Terserah siapapun dia, apa maunya dan tujuan nya. Walllahu’alam

Sebenarnya di tulisan ini saya hanya akan meluruskan apa-apa yang harus diluruskan, tentang kamu kuliah di jerman? magang ke kanada? dan sepertinya  ini sudah saatnya saya buka semuanya. Hanya ketika saya mengetik didalam hati ini timbul tenggelam pertanyaan, “emang penting ya buat kamu saya dimana dan sekolah dimana?.” Saya sejujurnya agak kesal bukan dengan orang siapapun itu, tapi dengan tindakan atau tingkah yang dilakukan nya. Kalau mau konfirmasi seharusnya ke orangnya langsung secara baik-baik, tidak pakai acara diam diri, tanya kesana kemari tanpa kejelasan dan semua amanah di tinggalkan. Apakah ini yang namanya tanggung jawab? kata orang Laki-laki beneran itu menghadapi masalahnya dan menyelesaikannya sampai clear, ngga kenal budaya “lupakan saja” dan diungkit lagi suatu hari nanti. Laki-laki itu bicara, bukan memendam, perbaiki, bukan lari, tuntaskan, bukan lupakan. Seharusnya sih begitu, tapi apalah daya kita tidak tahu apa isi dan pikiran orang lain, yang hanya bisa dilakukan berprasangka baik dan berdoa. Saya tidak tahu akan menjadi seperti ini dan melebar kemana-mana, buat saya semua ini ujian yang di saat banyak deadline dan urusan yang harus saya segera selesaikan dan ini’ pun datang. Banyak amanah yang masih terbengkelai yang harus segera di selesaikan, dan memang benar adanya kalau semua ini di bawa terlalu serius bisa dan dadakan tanpa pemberitahuan si sakit pun datang. Saya terkapar 3 hari di rumah sakit untuk pertama kali, iya pertama kali karena dari kecil paling anti dan takut dengan rumah sakit. Saya terlalu memporsir lupa makan, lupa tidur, lupa kalau saya itu manusia! Tapi semua ini apa ada yang mau tahu? TIDAK. Semua yang saya lihat ini semu, mereka yang datang malah memojokkan pertanyaan tidak jelas dan seharusnya kalau ada apa-apa klarifikasi dan konfirmasi ke pihak yang bersangkutan.

Karena….Mengalah lebih baik daripada menjelaskan segalanya kepada orang yang tidak pernah mau mengerti, bukankah Allah juga membenci kesia siaan, di saat ini akhir akhir ini saya mecoba melupakan apa yang harus segera saya lupakan dan FOKUS dengan apa yang ada di depan mata saya. Dan karena inilah saya tahu, mana laki-laki yang bertangung jawab dalam apapun baik ucapan, dalam organisasi dan dalam apapun. Saya tidak akan menilai tapi semua ini bisa saya rasakan, ketika saya tidak mau membandingkan satu sama lain tapi keadaan yang memperlihatkan semua nya,, lihat ini dia yang harus kamu ikuti, ini dia orang yang benar-benar amanah, ini dia orang yang kesalahan besar apapun yang kita lakukan dia LEGOWO dan bisa menyelesaikan dengan baik, ini dia sosok yang pantas di jadikan teladan. Bumi tidak tau apa-apa soal hidup. Dia cuman tau kalau orang hidup ada di atasnya. Nginjek-nginjek dengan ribuan kaki. Ngakar dengan nyelip-nyelip di permukaan bumi. Digali biar dijadiin rumah sebenarnya dan rumah sementara. Dimainin permukaanya sama tangan-tangan anak kecil. Dia muter dengan kecepatan konstan dan nunggu Tuhan buat mempercepat atau memperlambat geraknya. Dia ngeliligin matahari tanpa pusing. Dia gak tau kalau ada yang ngomongin dia di tiap koran waktu hari bumi sedunia. Dia gak tau kalau ada yang ngomongin dia di detik saya bikin postingan ini. Tapi dia tau, kalau ada kehidupan dengan cinta dipermukaannya.

Saya memang mengakui kesalahan saya dimana,  nadzar yang sudah terucap saya semoga awal september tahun ini segera selesai. Jadi siapapun kamu semoga TAHU, dan semoga ini adalah awal dan terakhir saya kecewa dengan permainan. Entah ini permainan apa ini yang sedang saya jalani sekarang,, karena mungkin kemarin saya terlalu menganggap semua omongan nya bagaikan surga. Sudahlah. semua ini, disini, saya belajar….Bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya.

Kita tidak akan pernah menemukan orang yang benar-benar memahami kita, tahu kebiasaan kita, mengerti semua tentang kita. Impossible. Tapi kita bisa menemukan orang yang sungguh-sungguh bersedia memahami kita. Dan itu lebih dari cukup, sepanjang kita juga sungguh-sungguh bersedia memahaminya.

Jleb banget ketika saya postingan dari tere lije ini, sangat setuju sekali dan tidak bisa dipungkiri. Saya pertama kali memberanikan diri saya untuk menyukai seseorang , ya sekali karena saya tahu bagaimana teman-teman wanita saya dulu sakit hati karena laki-laki. Tapi ketika saya lakukan memang untuk awal saya merasa semua ini kekecewaan tapi semua ini ujian buat saya. Saya sadar sesadarnya saya salah, kalau apapun yang membuat orang itu PUAS saya akan lakukan..tapi..dan tapi yang saya inginkan tidak ada, hanya diam dan diam tanpa kejelasan.

Yakinlah dengan 3 hal ini:

(1) Tiada yang lebih sayang kepadamu, selain Rabbmu.

(2) Tiada yang paling tahu kegundahanmu, selain Rabbmu.

(3) Tiada yang bisa mengangkat kesulitanmu, selain Rabbmu.

Semoga dengan Ujian ini membuka mata dan hati saya, untuk lebih banyak diam. Karena banyak bicara akan menyebabkan kita kesulitan dlm menghadapi hari perhitungan (yaum al-hisaab) naudzubillah… entah mau menganggap semua ini Kebohongan? silahkan menjudge , dan saya pun terima apapun kesimpulan orang itu. Karena mereka , dia tidak mau tahu apa yang sebenarnya dan hanya menarik kesimpulan yang ada.

Setiap masalah adalah cara Allah untuk meningkatkan derajat manusia, tinggal manusia itu sendiri bersedia atau tidak menerima ujian tersebut dengan “ikhlas”. Beberapa lari dari masalah dengan mengakhiri hidupnya sendiri dan beberapa lagi menghadapinya dengan susah payah.

Sejatinya seperti itulah, Tidak akan pernah kita tahu kita sudah sampai derajat mana di hadapan Allah, yang terpenting adalah kita bersedia dan bersenang hati ketika datang sebuah masalah. Sebab kita sudah yakin bahwa :

Ini adalah cara Allah mengangkat derajat kita
Masalah ini pasti bisa kita lewati dengan kapasitas yang kita miliki saat ini karena Allah tidak akan memberi masalah diluar batas kemampuan hamba-Nya
Ini adalah cara Allah mengajarkan kita pemahaman baru. Dia ingin mengajarkan kita suatu hal baru.
Dan ini adalah cara Allah menunjukkan sesuatu bahwa Dia adalah maha menepati janji. ia sudah berjanji bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan dan Dia adalah sebaik-baik pemegang janji.

Kita hanya perlu sedikit membuka pemahaman dan kelapangan hati untuk melihat hakikat-hakikat dari masalah-masalah yang datang silih berganti, sayangnya hati kebanyakan manusia memang terlalu dekat dengan dunia.

Wallahu’alam…

“Tidak akan pernah bisa mengubah watak seorang lelaki. Maka carilah yang lurus agamanya” – Bella’s mom


“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam taushiyah Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc., Al-Hafizh, disebutkan setidaknya ada 15 parameter yang bisa mengindikasikan seorang Ahlul (ahli) Al-Qur’an. Parameter tersebut adalah:

1. Khatam Al Quran. Minimal satu bulan satu kali khatam, maksimal tiga hari satu kali khatam.

Hal pertama yang mesti dilakukan untuk menjadi ahlul Quran adalah dengan membacanya secara rutin. Minimal satu hari menghabiskan 1 juz (10 lembar). Agar mudah, sehabis shalat rutinkan untuk membaca sebanyak dua lembar, insya Allah kita bisa mengkhatamkan Al Quran dalam 1 bulan.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata,“Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan,“Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Menurut hadits di atas, kita dilarang mengkhatamkan Al Quran lebih dari 30 hari. Karena bila kita membaca Al Quran kurang dari 1 juz per harinya, kita akan kehilangan ruh dan akan menjauh dari Allah. Selain itu, kita juga dilarang untuk mengkhatamkan Al Quran kurang dari 3 hari. Hal itu telah dijawab oleh hadits berikut:

Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an, orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud)

2. Qiyamulail.

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (TQS. Al Isra’: 79-80)

“bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (TQS. Al Muzzammil: 2-6)

Saya kira sudah jelas mengapa Qiyamullail menambah kedekatan kita dengan Al Quran. Aktivitas tersebut merupakan salah satu indikasi ahli Quran.

3. Qiyamullail dengan bacaan 1 juz. Minimal satu pekan satu kali.

Pada poin kedua (poin sebelum ini), titik tekan pada kuantitas. Pokoknya yang penting Qiyamullail dulu. Sedangkan pada poin ketiga ini, titik tekan pada kualitas Qiyamullail. Diharapkan dalam sepekan ada 1 Qiyamullail yang membaca 1 juz Al Quran. Yang baik adalah dengan membacakan hafalan kita, insya Allah juz 30 bisa lah ya. Tetapi bila ingin mencari suasana baru, kita bisa membaca mushaf untuk juz-juz lainnya.

Syeikh Ali Jumu’ah mengatakan bahwa kebanyakan ulama membolehkan membaca surat/ayat dengan mushaf sewaktu shalat sunnah dan wajib. Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa Dzakawan hamba sahayanya Aisyah pada saat qiyamullail di bulan Ramadhan menggunakan mushaf. Dan tidak ada dalil yang melarangnya.

Adapun tentang membalikkan halaman-halaman kertas mushaf maka tidaklah mengapa dengan tetap memperhatikan bahwa hal itu dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin sehingga tidak menjadikan diri orang yang shalat itu keluar dari kekhusyu’an yang dituntut oleh syari’at didalam shalat.

Akan tetapi yang paling afdhal (utama) adalah seorang yang menjadi imam shalat bagi manusia adalah orang yang hafal Al Qur’an sedangkan makmumnya tinggal mendengarkan bacaan imam itu sehingga tidak disibukkan dengan sesuatu yang dapat menghilangkan kekhusyu’annya seperti membalikkan halaman-halaman kertas mushaf dan banyak gerakan diluar gerakan shalat. (Fatawa al Mu’ashiroh juz I hal 6)

4. Menambah hafalan Al Quran. Minimal satu tahun nambah satu juz.

Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghafalnya, memberitahukan kedudukan mereka serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, ‘Surat apa yang kau hafal?’
Ia menjawab, ‘Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.’
‘Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?’ Tanya Nabi lagi.
Shahabi menjawab, ‘Benar.’
Nabi bersabda, ‘Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.’”

(HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

Hadits di atas merupakan kemuliaan penghafal Quran di dunia, sedangkan di akhirat pun ada keutamaannya.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: ‘Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,’ kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah.’ Kemudian Al Quran memohon lagi: ‘Wahai Tuhanku ridhailah dia,’ maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: ‘bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga)’, dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia meninalinya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi(1/533).)

5. Membaca tafsir Al Quran. Minimal satu pekan satu kali baca tafsir.

Allah SWT akan memberikan suatu kemuliaan di akhirat bagi orang yang mempelajari Al Quran, ditambah lagi kemuliaan itu juga akan diberikan kepada kedua orang tuanya.

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.’” (Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).)

Bayangkanlah betapa bahagianya ketika nanti di hari dimana tidak ada naungan selain naungan dari Allah, orang tua kita terkaget-kaget saat diberi jubah kemuliaan seperti hadits di atas karena kita (anaknya) mempelajari Al Quran.

6. Membaca doa Al Quran. Minimal satu pekan satu kali.

Seorang mukmin hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dimanapun dan kapanpun ia berada sebagaimana Allah berfirman:

“dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka seseungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Rabbmu itu Mahapemalu dan Mahamulia, malu dari hambaNya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangan-nya.”(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, di-hasan-kan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani)

Ibnul Qayyim berkata: “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat, ia adalah musuh bala, ia mendorongnya dan mengobati, ia menahan bala atau mengangkat atau meringankannya jika sudah turun.”

Masih banyak keutamaan doa dan doa yang paling utama adalah doa yang berasal dari Al Quran. Misalnya, doa yang ada dalam QS. Al Baqarah: 201.

(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١

“Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah. Wa qina adzaban naar.”
Artinya: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” (TQS. Al-Baqarah: 201)

7. Tadarus Al Quran bersama keluarga. Minimal satu kali per minggu.

Membaca Al Quran bersama keluarga akan meningkatkan rasa cinta kita kepada Al Quran. Selain itu, membaca bersama-sama dapat memperbaiki bacaan bila masih ada bacaan yang salah secara tajwid. Kebiasaan Rasulullah dalam membaca Al Quran bersama keluarga terlihat ketika akan mengkhatamkan Al Quran.

Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati kekhataman dalam membaca Al-Qur’an, beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya guna mengkhatamkan bersama. Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an, hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR. Darimi)

Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas, adalah bahwa ketika khatam Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga. Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya.

Nah, bila jauh dari kedua orang tua dan kakak-adik, serta belum menikah, mungkin alternatifnya adalah tadarus Al Quran bersama kelompok halaqoh/mentoring.

8. Mengulang-ngulang hafalan Al Quran, minimal satu kali per minggu.

Bila dipikir-pikir, esensi utama dari menghafal Quran bukanlah mendapatkan hafalan Al Quran. Itu hanyalah bonus. Esensi utama dari menghafal Quran adalah agar kita semakin sering berinteraksi dengan Al Quran. Karena ketika kita menghafal al Quran, kita dituntut untuk senantiasa mengulangnya. Dan dengan mengulang itulah ingatan kita akan semakin tajam. Akan lebih baik lagi bila kita mengulangnya bersama keluarga atau kelompok halaqoh/mentoring.

Itulah mungkin sebab kita bisa membaca Al Fatihah tanpa mushaf dengan mudahnya, bahkan meski pikiran kita tidak fokus ke bacaan, kita masih bisa menyelesaikannya. Ya, karena kita telah beratus-ratus kali mengulangnya. Jadi, sesungguhnya tidak ada sikap permisif bagi yang merasa ingatannya kurang baik untuk tidak menghafal al Quran.

Info tambahan, penelitian yang dipimpin oleh Avi Karni, seorang ahli ilmu otak dari Universitas Haifa, Israel, mengungkapkan tidur siang baik untuk mendongkrak ingatan. Penelitian ini dipublikasikan jurnal Nature Neuroscience. Pengaruh tidur siang jelas terlihat hasilnya untuk meningkatkan kemampuan mengingat hal-hal jangka panjang dan hal-hal yang bersifat penjelasan. Memori jangka panjang biasanya tetap diingat seseorang selama bertahun-tahun.

Dalam percobaannya, Karni meminta sukarelawan mengingat-ingat permainan jari yang rumit. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok, salah satu tidur siang selama setahun dan lainnya tidak. Ternyata, sukarelawan-sukarelawan yang tidur siang mampu mengingat lebih baik daripada yang tidak tidur. Setelah tidur malam, kemampuan kedua kelompok tak jauh berbeda, namun kelompok yang tidur siang tetap saja menunjukkan kemampuan mengingat lebih baik.

9. Mengajarkan Al Quran minimal satu kali satu bulan.

Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)

Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: “Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain’ adalah bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.”

Mengajarkan Al Quran bukan lantas berhenti mempelajarinya. Dengan mengajarkan Al Quran justru membuat kita semakin terpacu untuk senantiasa mempelajarinya. Bahkan, tanpa kita sadari, dengan mengajarkan Al Quran, kita mendapatkan ilmu baru, yaitu ilmu untuk mengajarkan Al Quran kepada orang lain dengan berbagai perbedaan latar belakang ke-Quran-an, karakter bawaan, metode menerima materi, dan lain sebagainya.

10. Mentadabburi AlQuran minimal satu kali satu bulan.

Kata tadabbur berhubungan dengan kata ‘Yudabir’ yang artinya mengatur, seperti tersebut dalam QS. Yunus: 3.

“Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur/yudabbir segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izinNya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (TQS. Yunus: 3)

Jadi, kurang lebih tadabbur adalah usaha yang teratur/sistematis untuk memahami Al Qur’an, sehingga dapat melakukan petunjuk Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tadabbur merupakan aktivitas untuk mempelajari makna-makna dzahir yang tertera dalam Al Quran, namun bila untuk memahami pengertian tersirat yang ada dibalik ayat/surat yang akan dipelajari perlu adanya syarat-syarat khusus, karena hal tersebut sudah masuk kepada wilayah menafsirkan Al Quran.

Salah satu output dari mentadabburi Al Quran adalah munculnya kesan tertentu terhadap ayat/surat yang ditadabburi. Misalnya, ketika orang lain merasa biasa saja membaca surat Al Ma’uun, saya memiliki kesan ‘seram’ terhadap surat tersebut, terutama ayat keempat. Karena dari ayat tersebut saya berpikir, bisa jadi kita sudah bersusah payah melakukan ibadah shalat, tetapi bukan pahala dan keridhoan yang didapat, melainkan celaka.Na’udzubillah…

11. Mendengarkan bacaan Al Quran secara rutin. Baik itu dari radio, kaset, MP3, youtube, dll.

DariAbdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Bacakan Alquran kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagindalah Alquran diturunkan?” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri.”

12. Membaca surat pilihan harian (yang telah dikumpulkan dalam kitab Al Matsurat) tiap hari minimal satu kali.

Misalnya keutamaan membaca ayat kursi (QS. Al Baqarah: 255) masing-masing satu kali ketika pagi dan sore.
“Barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin).” (HR. Al Hakim 1/562 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albaniy dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib 1/273)

Lalu, keutamaan membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, masing-masing dibaca 3x ketika pagi dan sore.
“Barangsiapa yang membacanya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/322, At Tirmidziy 5/567, lihat Shahih At Tirmidziy 3/182)

Dan masih banyak lagi surat pilihan yang utama untuk dibaca ketika pagi dan petang. Lebih utama jika membaca bacaan zikir pagi dan petang juga.

13. Membiasakan membaca surat pilihan pekanan tiap pekan. Misalnya membaca Al Kahfi tiap hari Jumat

‫مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

14. Membiasakan membaca surat Al Mulk sebelum tidur.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,“Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: ‘Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)’” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad 2/299).

أخبرنا عبيد الله بن عبد الكريم وقال حدثنا محمد بن عبيد الله أبو ثابت المدني قال حدثنا بن أبي حازم عن سهيل بن أبي صالح عن عرفجة بن عبد الواحد عن عاصم بن أبي النجود عن زر عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

Telah menceritakan pada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdil Karim, ia berkata, telah menceritakan pada kami Muhammad bin ‘Ubaidillah Abu Tsabit Al Madini, ia berkata, telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Hazim, dari Suhail bin Abi Sholih, dari ‘Arfajah bin ‘Abdul Wahid, dari ‘Ashim bin Abin Nujud, dari Zarr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa membaca ‘Tabarokalladzi bi yadihil mulk… (surat Al Mulk)’ setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut ‘al Mani’ah’ (penghalang dari siksa kubur). Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim. Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Catatan: Keutamaan surat ini bisa diperoleh jika seseorang rajin membacanya setiap malamnya, mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, mengimani berbagai berita yang disampaikan di dalamnya.

15. Meneteskan air mata karena Al Quran.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (TQS. Maryam: 58)

Ibnu Sa’di berkata berkenaan dengan ayat di atas, “Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis, maksudnya adalah mereka khudhu’ dan khusyu’ dengan ayat-ayat tersebut, karena menggoreskan iman, cinta dan takut di hati mereka, sehingga membuat mereka menangis, berserah diri dan sujud kepada Tuhan mereka.”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai para ahli kitab yang shalih,

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.” (TQS. Al Israa’: 107-109)

Menangis, menurut Al-Ghazali, disunahkan saat membaca Al-Qur’an. Cara untuk memaksakan tangisan adalah membayangkan hal-hal yang dapat menyebabkan kita menangis, yaitu dengan merenungi ancaman dan janji yang ada di dalam Al-Qur’an, kemudian merenungi kealpaan sikap kita terhadap berbagai perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasa sedih dan tangis hanya menghampiri hati seseorang yang bersih. Hilangnya kesedihan dan tangisan hendaknya membuat kita bersedih (dan menangis), karena hal tersebut merupakan tanda musibah terbesar yang telah menimpanya.

Bahkan dalam sejarah kehidupan generasi awal Islam, banyak kita temui kisah-kisah tentang kelembutan hati dimana mereka sering menangis ketika membaca dan mendengarkan Al Qur an. Hati mereka begitu mudah tersentuh karena keimanan yang telah begitu kuat mengakar di dalam dada.

Lalu, pertanyaan terbesarnya adalah:
BAGAIMANA DENGAN KITA?
Sudah sejauh mana diri kita untuk bisa menjadi ahli Quran. Yuk, sama-sama evaluasi dan berbenah diri. Bukankah kita ini adalah umatnya Rasulullah sang pembawa risalah Al Quran? Masa enggan untuk mengikuti petunjuknya, sementara kita sudah mengetahui kebenaran dan keuntungannya.

Allahu’alam bish shawab
(mohon koreksi bila ada dalil yang tidak relevan atau dhoif/maudhu)

sumber tulisan

**http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2010/07/28/menjadi-ahlul-quran/**


MEMINTA MAAF tidak membuat kita HINA….

MEMBERI MAAF jangan menjadikan kita BANGGA….

Tapi MAU MEMAAFKAN yang membuat kita MULIA…

Semoga Allah pun mengampuni kita….

Mau mengakui kesalahan, mau meminta maaf itu berat, lebih berat lagi bagi orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya. Jangan merasa gengsi untuk mengucap “maaf”. Jangan malu untuk mengakui kesalahan. Dan jangan kikir untuk memberi maaf pada orang lain.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan….adalah orang yang mau bertaubat kepada Allah SWT, mau meminta maaf kepada orang yang telah didholimi, dan mau mengakui kesalahan disertai tekad untuk tidak mengulanginya.

Marhaban Yaa Ramadhan…Taqabbalallahu minna wa minkum..Shiyamana Wa Shiyamakum…

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS.An Nahl : 92)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 172 other followers

%d bloggers like this: