Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…..

FORKOMWAT adalah

Jembatan yang bisa menghubungkan akhwat-akhwat yang tengah maupun telah lulus menempuh pendidikan di luar negeri. Diharapkan semua anggota persatuan pelajar indonesia dapat berbagi pengalaman atau tips-tips dalam menghadapi kehidupan di luar negeri juga berbagai macam tips beasiswa di luar negeri. Juga dapat saling memotivasi agar tetap bisa mempertahankan kondisi Islami walau tengah berada jauh dari tanah air kita tercinta.

email : forkomwat@ymail.com
website : Http://forkomwat.com/
Note : Hanya yang sedang berdomisili di luar negeri

\

ARTIKEL FORKOMWAT

 

 

Motivasi Beasiswa 1

St. Antikira Novichaka
Universiti Teknologi PETRONAS (UTP),
Tronoh, Perak, Malaysia
novichaka.antikira@gmail.com
http:antikiranovichaka.blogspot.com

Antikira Novichaka: “Teruslah Berusaha & akan Kau lihat Pintu-Pintu Kesempatan Terbuka untukmu!”

Terkadang menulis itu perlu pemikiran besar untuk dituangkan. Terkadang menggambar itu perlu imajinasi tinggi untuk dilukiskan. Terkadang berbicara itu perlu cukup keberanian untuk diucapkan. Terkadang belajar itu membutuhkan sebuah niat kuat untuk dilakukan. Dan terkadang berusaha itu perlu kesungguhan untuk diwujudkan. Semua itu tidaklah menjadi hambatan yang bisa menghalangi kita mewujudkannya melainkan menjadi sebuah tantangan yang sudah sepatutnya harus kita hadapi dan jalani hingga menuju sebuah pintu kesuksesan.

Ya, terkadang apa yang kita impikan tidak selalu terwujud langsung di langkah pertama. Kita perlu melakukan langkah kedua, ketiga, keempat, bahkan hingga keseratus demi memperolah impian itu. Kita perlu jatuh bangun berulang-ulang demi mencapai hasil yang maksimal. Hal seperti ini bisa dialami oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Dan saya pun tidak terlepas dari itu.

Sejak kecil saya bercita-cita ingin menjadi dokter dan tekad itu tetap kokoh sampai saya menginjak bangku sekolah menengah. Bahkan sampai detik-detik terakhir menjelang pengumpulan formulir pendaftaran ujian SPMB, saya tetap ingin menuliskan fakultas kedokteran sebagai pilihan. Namun mimpi itu harus kandas karena realita yang ada. Mengapa? Sebab sampai try out SPMB terakhir yang saya ikuti, hasilnya menunjukkan ketidakmampuan saya untuk menembus passing grade jurusan itu.

Akhirnya pilihan ditetapkan. Saya memilih dua jurusan yang sesuai dengan kemampuan yang ada. Satu pilihan untuk universitas di ibukota Jakarta karena memang saya sangat ingin merasakan hidup mandiri yangnotabene-nya jauh dari keluarga, dan pilihan kedua adalah universitas di kota kelahiran saya Bandar Lampung. Saya sangat berharap agar dapat diterima di pilihan pertama. Walaupun saya tidak dapat mewujudkan cita-cita menjadi dokter, paling tidak saya dapat diterima di universitas yang saya cita-citakan. Karenanya, saya berdoa dan berusaha keras saat ujian agar berhasil memperolehnya, akan tetapi Alloh punya rencana lain. Saya diterima di pilihan kedua.

Namun demikian, usaha saya tidak berhenti di situ. Saya masih penasaran untuk bisa kuliah di Jakarta dan memutuskan untuk ikut SPMB lagi tahun berikutnya. Mencoba lagi ujian masuk universitas bukanlah hal yang mudah dan merupakan tantangan bagi saya. Itu dikarenakan saya harus menyeimbangkan waktu untuk belajar materi ujian SPMB dan kuliah yang tengah saya jalani. Jika Senin-Jumat saya disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, maka Sabtu dan Minggu saya akan berkutat dengan rumus-rumus dan buku pelajaran SMA. Kesabaran saya sangat diuji ketika dihadapi dengan berbagai problema yang mengharuskan saya membuat prioritas antara kuliah dan belajar untuk SPMB. Sebagai contoh saya harus memilih antara mengikuti ujian try out SPMB dan menghadiri kuliah umum dari universitas pada waktu yang bersamaan. Selama satu tahun saya harus menjalani kehidupan seperti itu.

Kesabaran ekstra sangat diperlukan agar saya tidak down demi menggapai apa yang saya harapkan. Memang hanya orang yang sabar untuk bertahan saja yang akhirnya akan berhasil sukses mewujudkan cita-citanya. Bukankah hal ini telah ditanamkan oleh kita bahkan saat kita masi di dalam kandungan. Sebelum janin terwujud, beribu-ribu sel sperma berkompetisi demi menembus satu sel telur. Hanya sel yang paling kuat untuk bertahan dan gigih mencobalah yang akhirnya keluar jadi pemenang sehingga terbentuklah janin. Konsep dasar ini perlu betul-betul tertanam di otak kita agar sekali gagal kita akan terus mencoba demi meraih seribu kesuksesan.

Janganlah pernah bersedih kalau kau tak berhasil hari ini, itu bukan berarti kau gagal untuk selamanya, melainkan kau menyimpan kesuksesan di hari depan. Itu semua akan terwujud kalau kita tetap mencoba bukannya duduk berpangku tangan menyesali kegagalan. Bukankah Alloh telah menyuruh kita agar tidak pantang menyerah seperti yang terkandung dalam ayat berikut :

“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)

Setelah berusaha keras selama kurang lebih satu tahun, Alhamdulillah kerja keras saya membuahkan hasil. Pada ujian SPMB di kali kedua tahun 2008 saya berhasil diterima sesuai dengan harapan yaitu di universitas terkemuka di Jakarta. Segera saya memberitahukan kabar gembira ini kepada keluarga dan kerabat. Dengan doa restu mereka saya pergi merantau ke Pulau Jawa, ke daerah ibukota yang terkenal kejam. Kejam dalam konteks persaingan hidup. Hanya orang-orang dengan semangat tinggi dan usaha yang kuat yang dapat bertahan dan sukses di daerah ini.

Apakah perjuangan saya selesai begitu masuk universitas idaman itu? Tidak, justru sebaliknya. Saya harus berjuang lebih keras lagi. Itu semua demi mendapatkan beasiswa. Ibu saya hanya pegawai negeri biasa dengan gaji yang tidak begitu besar jumlahnya. Jumlahnya tidak berbanding lurus dengan biaya kebutuhan hidup beliau, saya, dan kedua adik saya. Sementara jika harus meminta keringanan biaya dari kampus, diharuskan melampirkan surat keterangan miskin. Dan menurut pihak kelurahan, keluarga saya masih tergolong mampu. Sampai akhir penentuan biaya perkuliahan pun saya tetap dianggap golongan mampu dan harus membayar dengan harga yang terbilang tinggi.

Semangat saya tidak redup, akan tetapi semakin menyala. Diri saya bergelora untuk mencari beasiswa ataupun pekerjaan sampingan. Setiap hari saya berusaha mendapatkan informasi tentang hal itu. Pantang menyerah sangat diperlukan untuk meraih apa yang kita harapkan. Semangat !

Benar, faktor lain dibalik sebuah kesuksesan adalah semangat yang membara. Jangan pernah padamkan semangat itu. Biarkanlah semangat itu berkobar-kobar dalam diri kita bahkan setelah kesuksesan dicapai. Semangat masih diperlukan setelah itu untuk menjaga dan mempertahankan apa yang telah kita peroleh. Kalau api semangat itu redup, tambahkan lagi minyak pemicu yang bisa membuatnya menyala kembali bahkan lebih besar. Bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau mempertahankan suatu kesuksesan itu lebih sulit daripada meraihnya.

“setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dngan kemiskinan dan menyuruh
kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (Al-Baqarah:268)

Lalu pada suatu hari teman saya yang dulunya sempat satu kampus di Lampung menawarkan program beasiswa yang tengah ia ikuti. Saya tertarik untuk mencoba. Setelah bertanya, ternyata beasiswa ini bukan berupa pemberian biaya perkuliahan kampus saya sekarang. Ini merupakan program pendidikan yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan terkenal di Malaysia yaitu PETRONAS. Mengharuskan penerimanya melakukan pendidikan di universitas yang telah disediakan di Malaysia, Universiti Teknologi PETRONAS (UTP). Saya bimbang apakah harus mencobanya atau tidak. Jika diterima, otomatis akan pindah kampus lagi, terlebih ke luar negeri. Itu artinya saya harus mengulang kembali perkuliahan karena jurusan yang ditawarkan berbeda dengan jurusan sekarang. Begitu banyak pertimbangan dilakukan. Hingga sampai pada kesimpulan bahwa saya akan mencobanya. Kelengkapan dokumen untuk seleksi tahap pertama pun disiapkan dan dikirim. Tidak banyak berharap untuk dapat lolos seleksi. Saya beranggapan ini sebagai iseng-iseng berhadiah. Walaupun tidak lulus, toh saya sudah kuliah di sebuah perguruan tinggi.

Waktu demi waktu pun berlalu. Saya terkejut ketika mendapat telepon dari pihak PETRONAS yang menyatakan bahwa saya berhasil melalui seleksi dokumen. Saya diminta untuk datang interview sebagai tahap selanjutnya. Pada walk interview pun saya masih tidak terlalu berharap untuk mendapatkannya. Bahkan sampai tahap terakhir tes kesehatan pun. Dan pada akhirnya saya benar-benar memperoleh beasiswa itu.

Setelah menerima berita gembira itu saya kembali bingung. Apakah saya harus menolaknya atau menerimanya yang berarti mengundurkan diri dari kampus tempat saya belajar sekarang. Yang lebih membingungkan lagi adalah saya tidak memberitahukan ibu saya akan perihal ini. Posisi sulit pun dihadapi karena ketersedian waktu yang terbatas untuk
menjawab penawaran beasiswa itu. Saya memohon kepada Alloh agar diberikan petunjuk. Juga bertanya-tanya kepada keluarga dan kerabat dekat untuk memberikan saran terbaik. Lalu apa jawabannya? Pada akhirnya saya memutuskan untuk melepas UI, kampus saya itu. Itu artinya, saya menerima tawaran beasiswa PETRONAS untuk berangkat ke Malaysia melanjutkan studi di sana. Anugerah besar yang sangat sayang untuk ditolak karena program pendidikan yang
diberikan adalah full scholarship. Saya tidak perlu repot mengurus visa, memikirkan biaya tiket pesawat, ataupun akomodasi selama kuliah di Malaysia. Hal yang perlu saya lakukan adalah pembuatan paspor dan perlengkapan yang hendak dibawa.

Sesampainya di Malaysia, lagi-lagi saya harus melanjutkan perjuangan. Berjuang untuk mempertahankan beasiswa agar tidak dicabut, berjuang beradaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi berjuang menggunakan Bahasa Inggris yang tidak pernah saya gunakan sekali pun dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya di Indonesia. Ya, walaupun di Malaysia, kampus saya ini adalah kampus internasional dimana pelajarnya berasal dari berbagai negara yang ada. Dan yang paling berat adalah berjuang melawan rasa rindu ingin bertemu sanak saudara di tanah air tercinta, juga makanan khas Indonesia.

UTP tidak terletak di pusat kota melainkan nun jauh di pedesaan yang sekitarnya adalah hutan kelapa sawit. Sangat jauh dari pusat keramaian, seperti mall, bioskop, dll. Bahkan pemukiman penduduk terdekat dari kampus pun harus ditempuh dengan mobil sewaan atau taksi bagi yang tidak mempunyai kendaraan pribadi. Awal kedatangan ke UTP
adalah masa-masa paling sulit karena suasana sekitar benar-benar sepi. Tidak seperti sekarang yang sudah berubah walaupun belum benar-benar bisa dibilang ramai. Untuk masalah makanan, yang dijual di sekitar kampus pun berbeda
dengan masakan Indonesia yang kaya akan cita rasa. Terkadang jenuh menghampiri karena bosan akan rasa makanan yang banyak mengandung kari, berminyak, bahkan tidak jarang tidak ada rasanya alias hambar. Namun demikian, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan. Sesungguhnya ada banyak cara untuk mengatasinya. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas agar dapat memunculkan solusi-solusi dari problema yang ada.

Kreativitas adalah faktor lain menuju sukses yang perlu kita ketahui. Dunia kini semakin berkembang. Dahulu hanya dipenuhi dengan keterbatasan teknologi, tetapi sekarang teknologi sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi dikarenakan selalu berkembang setiap detiknya. Sebagai contoh, dulu kita tidak pernah menyangka kalau kulit pisang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung ataupun bahan bakar alternatif pengganti minyak dari ekstraksi buah jarak seperti yang berhasil ditemukan oleh para peneliti sekarang ini. Itu merupakan bukti nyata dari eksistensi sebuah kreativitas. Kreativitas bisa memicu kita menemukan hal-hal baru dan terkadang bisa dibilang
ajaib, tidak pernah disangka-sangka. Hanya orang yang memiliki kreativitaslah yang bisa berkembang dan bertahan di masa depan nanti karena dia akan terus berkembang dengan sejuta ide-ide menakjubkan. Jangan pernah sekali pun mematikan kreativitas pada diri kita karena hanya akan berujung pada kedinamisan pikiran sehingga membuat pandangan kita tidak meluas dan terbatas akan beberapa aspek saja.

Awalilah dengan mimpi demi memicu munculnya sebuah kreativitas. Sebagaimana tercermin dalam firman Alloh Swt. :

“dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan
untuk keberangkatan itu.”(at-Taubah:46)

Saya tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk bisa ke luar negeri melanjutkan studi bahkan sampai mendapatkan beasiswa. Benar-benar suatu nikmat dari Alloh yang patut disyukuri. Terkadang terbit senyum ketika memikirkan semua ini. Betapa tidak, kalau tidak bermimpi saja bisa dapat rezeki sebesar ini apalagi kalau benar-benar bermimpi untuk sukses yang artinya akan diwujudkan dalam sebuah perjuangan. Ya, perjuangan saya akan masih terus berlanjut dan tidak akan pernah berhenti sampai akhir hayat nanti. Seperti yang telah saya ceritakan bahwa begitu banyak usaha yang saya lakukan demi meraih cita-cita. Tidak jarang jatuh bangun harus saya alami untuk memperoleh kesuksesan hidup baik dunia dan akhirat. Dengan demikian untuk meraih kesuksesan diperlukan sikap pantang penyerah, semangat yang membara dan gigih berusaha, serta kreativitas untuk memunculkan sebuah inovasi hal baru yang lain dari sebelumnya.

Teruslah berjuang demi mencapai cita-cita yang diinginkan dan tetaplah terus berjuang demi mempertahankan hasil yang telah diraih itu. Terkadang apa yang kau tulis tak sesuai dengan apa yang kau pikirkan. Terkadang apa yang kau gambarkan tak sesuai dengan apa yang kau imajinasikan. Terkadang apa yang kau bicarakan tak sesuai dengan apa yang kau rancangkan. Terkadang apa yang kau pelajari tidak sesuai dengan apa yang kau kehendakkan. Dan terkadang hasil yang kau capai sebagai buah usaha dari apa yang kau kerjakan tak sesuai dengan apa yang kau rencanakan. Semua itu tidak bisa menjadi alasan untuk dipersalahkan dan membuat kita terperosok dalam keputusasan melainkan menjadi sebuah acuan dan pedoman untuk melangkah lebih jauh ke depan hingga berhasil keluar dari pintu kegagalan.

-Anti-

Motivasi Beasiswa 2

Ardita F. Fauzia
Tokai University
Faculty of Applied Science, Nuclear Engineering

Hiratsuka-shi, Kanagawa, Japan

Ardita F. Fauzia: “Mengapa Keukeuh Berburu Beasiswa?”

Saya orang Bandungbanget. Dari lahir sampai setengah tahun setelah lulus S1 saya tinggal di Bandung bersama keluarga. S1 saya di program studi Fisika ITB, lulus pada Juli 2009. Lalu menjadi mahasiswa master beasiswa Monbukagakusho untuk program khusus bidang Energi Nuklir di Tokai University, Kanagawa, pada April 2010.

Cerita-cerita motivasi perjalanan mendapatkan beasiswa pasti sudah banyak didapatkan dari kawan-kawan lain yang luar biasa perjuangannya. Bisa dilihat dari cerita kawan-kawan di website motivasiberprestasi.org ini. Semua dasar dan kuncinya adalah sama: dari impian lalu ikhtiar sungguh-sungguh, berdoa, tawakkal, dan memang sudah menjadi rezeki di saat yang terbaik. Cuma itu aja kok yang harus dipegang teguh dan dijalani prosesnya dengan sabar.

Bagi saya sampai akhirnya bisa mendapatkan beasiswa master dari Monbukagakusho karena beberapa faktor utama dibawah ini:
1. Ibadah; Sholat wajib sudah pasti, ditambah rawatibnya. Merutinkan sholat dhuha, tahajud, dan shaum senin-kamis. Tilawah juga ga ketinggalan setiap harinya dan bersilaturahim dengan kawan-kawan dan saudara-saudara. Tapi niatnya memang ingin menjadi pribadi yang ingin bahagia dunia akhirat yaa.
2. Sedekah; Setelah lulus S1, sambil berburu beasiswa master dan mencoba lamar kerja juga, saya masih membantu menjadi asisten lab di kampus dan mengajar privat beberapa adik SMP-SMA. Kalau saya dapat gaji dari asistensi atau ngajar privat, saya usahakan selalu mengeluarkan sebagian untuk disedekahkan. Paling pertama adalah pada ibu, lalu pada pekerja yang selalu membantu di rumah, pada mamang tukang sampah, dan pada yang memang membutuhkan ketika bertemu di depan kampus atau di jalan. Saya tidak punya uang tabungan sedikit pun. Semua uang hasil asistensi atau ngajar selalu habis, tapi saya merasa sangat bahagia, seperti bisa merasakan keberkahan dari hasil mengajarkan ilmu dan bersedekah. Paling nyata adalah bisa mendapatkan rezeki lolos beasiswa S2, yang akhirnya dari uang beasiswa saya bisa punya tabungan, semakin bisa membantu perekonomian keluarga, dan meningkatkan nominal sedekahnya. Ya! bagi saya rezeki mendapatkan beasiswa ini adalah sepenuhnya rezeki bagi keluarga dan orang-orang disekitar saya. Lagipula, saya bisa mendapatkan beasiswa ini pasti karena orangtua dan orang-orang disekitar saya yang senantiasa mendoakan.
3. Enjoy every moment. Artinya selalu mensyukuri setiap hal dan kejadian yang Allah kasih, melihat semuanya dari segi yang baik dan positifnya. Try to open mind and heart.
4. Nothing to lose. Hanya berharap sama Allah dan meminimalisirkan pengharapan pada manusia. Kalau mau berharap sama manusia, siap-siap aja kecewa. Seperti halnya ketika hasil pengumuman beasiswa yang ga sesuai harapan, ga akan bikin kecewa dan menyurutkan semangat. Tapi tetap yakin bahwa keajaiban dari Allah itu pasti ada.

Saya ingin berbagi motivasi kenapa harus keukeuh berburu beasiswa dari pengalaman saya ketika sudah berada di negeri Sakura ini.
1. Mendobrak diri keluar dari zona nyaman; ketika dinyatakan lolos dan mendapatkan beasiswa untuk meneruskan sekolah, salah satu yang menguatkan untuk mengambil beasiswa ini adalah ingin menantang diri keluar dari segala kenyamanan bergantung pada keluarga, sahabat-sahabat, dan fasilitas kota Bandung yang serba ada dan mudah. Dan benar saja, ketika disini saya harus bisa membangun kenyamanan sendiri di tengah-tengah ketidaknyamanan. Harus berhati-hati terhadap makanan dan minuman yang tidak halal, mencari tempat untuk sholat di parkiran atau tangga darurat, Menikmati setiap momennya, setiap perjuangan memaksakan diri untuk berpikir baik dan positif. Hal-hal yang mungkin tidak bisa saya dapatkan kalau tidak mau keluar dari zona nyaman saya. Walau dari segi infrastruktur, budaya sopan santun, alat transportasi, kualitas pelayanan memang sangat jauh lebih nyaman di Jepang daripada di Indonesia.

2. Memahami arti keluarga; karena Semenjak lahir hingga lulus kuliah S1 saya selalu tinggal bersama keluarga, jadinya keluarga seperti bagian yang biasa saja. Terlebih saya tipe yang tidak terlalu terbuka terhadap orangtua. Budaya keluarga saya sangat jarang bisa mengungkapkan rasa sayang, kata maaf, atau terima kasih. Tetapi, pertama kalinya saya jauh dari keluarga ini, saya mulai memahami arti sesungguhnya sebuah keluarga. Rumah adalah tempat dimana kita akan selalu pulang dan bisa menjadi diri sendiri sebebas mungkin. Saya mulai merasakan sangat kangen dengan orangtua dan adik-adik, ketika menelfon keluarga bisa bebas cerita apapun (yang sebelumnya jarang banget dilakukan), bahkan ketika sms orangtua dan adik-adik mengucapkan “hati2 ya mam dan ayah, sun sayaaaaang!” (hal yang sama sekali ga pernah dilakukan waktu dulu tinggal bersama). Adik-adik juga tempat paling asik untuk curhat semuanya. Dan bisa merasakan ga sabar ingin pulang ketemu keluarga dan memeluk mereka.

3. Memahami arti persahabatan; sahabat-sahabat dekat dan sudah sangat mengenal satu sama lain, yang biasa pergi bersama kemana pun, sudah mengalami senang dan sedih, tetapi ketika terpisah itu semakin memahami arti dari persahabatan. Bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang senantiasa ada dan menguatkan walau jarak dan waktu memisahkan.

4. Memahami arti kesendirian; Tempat saya sekolah sekarang ternyata orang-orang Indonesianya sangatlah sedikit, hanya ada 5 orang saja, sehingga ga ada PPI kampus. Kalau ingin kumpul dengan komunitas orang-orang Indonesia pun harus menempuh jarak yang tidak dekat dengan waktu yang cukup panjang. Apalagi saya sebagai satu-satunya perempuan Indonesia muslim di daerah saya ini. Walhasil saya tidak punya banyak teman baru disini. Merasakan sangat kesepian dan sendiri, dimana hanya bisa berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat-sahabat melalui sosial media. Ketika merasa sangat down dan lemah karena berbagai permasalahan diri, ingin rasanya ada keluarga dan sahabat yang bisa memeluk langsung. Tapi mereka hanya bisa menyemangati lewat tulisan dan doa. Ketika itu pula, saat diri harus sadar untuk bisa bersahabat dengan lingkungan, menikmati sepi, dan ada Allah satu-satunya yang selalu menemani. Menyadari ketika berkeluh kesah hanya ada Allah yang selalu menampung mendengarkan. Ada Allah yang selalu menunjukkan kebaikan-kebaikan bagi diri dan mengharuskan diri menjadi sebenarnya baik. Memaksakan diri untuk kembali hanya bergantung pada Allah. Menjadi diri yang lebih kuat lagi.

5. Memahami arti bangga menjadi orang Indonesia; terlepas dari segala yang berhubungan dengan politik dan birokrasinya yang saya ga bisa komentari, semenjak disini saya malah bangga dengan Indonesia yang merupakan satu-satunya Negara dengan ribuan pulau, Sumber daya alam yang melimpah ruah, merasakan sistem per-angkot-an, fasilitas ibadah yang sangat mudah ditemui, ga perlu repot baca komposisi makanan apakah ada yang tidak halal-nya, terutama beraneka ragam jenis buah-buahan dan sayur-sayuran yang murah meriah, negara dengan umat muslim terbanyak hingga bisa merasakan suasana ramadhan dan hari raya yang ramai, dan kalau di suatu tempat di Jepang ini ketemu orang Indonesia lainnya, langsung bertegur sapa dan langsung akrab. Hal-hal yang hanya bisa dirasakan dan
disadari ketika keluar dari negara Indonesia itu sendiri.

6. Bisa menikmati 4 musim; dimana musim dingin sangat dingin dengan indahnya salju yang turun, musim panas sangat panas dengan lembabnya udara, musim semi sangat cantik dengan bunga-bunganya yang bermekaran, dan musim gugur sangat romantis dengan jatuhnya daun-daun yang berwarna-warni.

7. Bisa bikin iri kawan-kawan yang lain; lalu kawan-kawan tersebut akan akan nanya ke kita gimana caranya bisa dapet beasiswa ke luar negeri, lalu kita bisa bantu cerita dan memotivasi mereka, lalu mereka akan berusaha juga dapet beasiswanya, lalu mereka dapet beasiswa dan bisa meneruskan sekolah ke luar negeri, lalu berulang lagi seperti diawal. Seperti rantai, InshaAllah dari situ pun kita akan terus kebagian pahala ga keputus karena menyebarkan informasi bermanfaat dan memotivasi untuk kebaikan.

Hal-hal itu masih sebagian kecil. Masih banyak lagi hal-hal lain yang mungkin tidak bisa didapatkan jika kita tidak berusaha untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hal-hal yang menjadikan diri lebih bersyukur lalu merasakan bertambahnya nikmat. Hal-hal yang menjadikan diri lebih bersabar lalu merasakan yang terbaik yang didapat. Hal-hal yang menjadikan diri lebih kuat lalu merasakan harus semakin mendekat pada Allah. Hal-hal yang menjadikan kenangan terindah untuk diceritakan di masa tua kelak. Hal-hal yang milyaran orang lain mungkin tidak bisa mengalami dan merasakannya.

Yakin aja dengan janji Allah:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).. dan hanya pada Tuhanmulah engkau berharap.” QS. Al-Inshirah: 5-8

Mari menikmati dengan bahagia setiap perjuangan prosesnya. p(^_^)q

-Dita-

Motivasi Beasiswa 3

Yuli Amalia Husnil
Universitas Indonesia (S1 dan S2)

Yeungnam University,

Gyeongsan, Gyeongsangbuk-do, South Korea

Yuli Amalia Husnil: “Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik”

Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik. Walaupun kesempatan itu sudah terlihat dan bahkan tangan pun sudah hampir mencapainya, jika memang belum waktunya tetap tidak akan teraih. Allah Maha Tahu waktu yang terbaik dengan skenario yang terbaik pula.

Aku masih bisa ingat dengan jelas rasa bingung yang menyerangku terutama menjelang lulus S1. Dunia terasa begitu buram. Jalan di depan terlihat begitu berkelok-kelok tak berujung. Mau ngapain aku setelah lulus? Teman-temanku semuanya bersemangat mengurus transkrip, ijazah, berburu informasi lowongan kerja, ikut bursa kerja, dan semua hal yang berhubungan dengan MELAMAR KERJAAN. Aku? Hanya ikut-ikutan tanpa niat. Yang lebih anehnya lagi, saat sang perusahaan yang aku lamar memanggilku untuk ikut tes kok aku malah tidak bersemangat. ‘Yaah, kok dipanggil sih?’ begitu kira-kira reaksiku saat itu.

Mungkin ini yang namanya sedang mencari jati diri. Keinginan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat begitu besar tapi tak tahu mesti melakukan apa. Aku hanya punya satu keyakinan bahwa menjadi pegawai perusahaan bukanlah jalanku. Lalu aku memutuskan kembali kuliah di jurusan dan universitas yang sama. Semua kebingungan sedikit demi sedikit sirna digantikan oleh semangat yang membara untuk mencari ilmu.

Aku kemudian semakin mengenali diriku sendiri. Pribadi yang suka menyendiri memang paling cocok jadi peneliti :) . Tapi jangan salah, ‘sang bingung’ belum lelah mengikuti aku. Dia selalu kembali mengetuk pada situasi yang sama, menjelang lulus! Pertanyaan yang sama kembali menghantui. Mau ngapain aku setelah lulus? Tapi kali ini aku sudah lebih mantap dengan pilihanku untuk tidak menjadi pegawai perusahaan. Aku ingin menjadi peneliti atau pengajar.

Belum kusebutkah bahwa aku pernah menyampaikan keinginanku ke kepala departemen tempatku S2 kalau aku ingin menjadi dosen di sana? Tiga kali aku sampaikan ke beliau, tiga kali juga jawabannya sama yang intinya departemen butuh S3. ‘Mungkin memang sebaiknya aku melanjutkan S3’, pikirku.

Di semester 3 tahun 2008 kesempatan itu datang. School of Chemical Engineering Yeungnam University mengirimkan informasi lowongan untuk graduate student. Aku memilih lab Process System Design and Control (PSDC). Bukan karena aku tertarik dengan bidangnya tapi karena memang tak ada pilihan lain. Bosan berada dalam kebingungan membuatku tak mau melepaskan kesempatan apapun yang paling tidak bisa membawaku keluar dari situasi yang sungguh tidak nyaman ini. Bahkan kenyataan bahwa bidang ini adalah kelemahanku tak membuatku surut. Di S1 dulu ada mata kuliah Process Control (sama persis kan dengan nama labku?). Nilaiku D dan setelah mengulang pun aku memperoleh B. Ibarat pergi ke medan perang tapi tak bawa senjata. Sungguh bodoh. Tapi terserahlah, yang penting ke luar negeri dan sekolah. “Belajar saja yang giat!”, pikirku.

Tapi perjalanan sampai ke lab ini butuh waktu 1.5 tahun disertai dengan deraian air mata di sepanjang tahun itu.

Air Mata Pertama

Aku berniat mendaftar untuk spring semester tahun 2009. Artinya aku harus lulus semester itu juga. Kalau diingat-ingat memang waktu itu aku semuanya serba nekad. Dalam waktu 4 bulan aku harus mendapatkan data yang tidak hanya banyak tapi juga berkualitas sehingga aku layak maju sidang. Tidak mungkin kesampaian tapi aku terus maju. Penelitian S2-ku bisa dibilang lumayan susah karena semuanya serba terbatas. Terbatas literaturnya, alat penelitiannya, zat kimia untuk analisa, dan tentunya terbatas waktunya. Tapi dalam segala keterbatasan itu ada beberapa pelajaran penting yang aku terima dan sungguh aku syukuri.

Pelajaran pertama adalah bagaimana menggunakan gergaji dan parang :) . Aku meneliti proses produksi bioetanol dari serat bambu. Alhamdulillah kampusku rimbun dengan bambu jadi tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Persoalannya adalah aku harus memotong sendiri bambu-bambu yang lumayan keras itu. Pekerjaan belum selesai karena bambu-bambu tersebut harus dipotong sekecil mungkin untuk memudahkan proses produksi bioetanol. Jadilah aku mahir menggunakan gergaji dan parang. Tapi bukan itu intinya. Kondisi yang begitu tidak mendukung mengajarkan aku untuk benar-benar mengandalkan diri sendiri. Terkadang kita tidak sadar dengan kemampuan kita namun begitu dihadapkan pada keadaan yang mendesak potensi diri akan keluar dengan sendirinya.

Pelajaran kedua adalah bagaimana memaksimalkan setiap menit waktu yang ada dalam satu hari. Waktuku tidak banyak tapi daftar eksperimen yang mesti dilakukan sungguh panjang. Lalu aku membuat daftar pekerjaan harian yang sungguh padat. Tidak ada waktu kosong sedikitpun. Bahkan untuk duduk pun aku harus mencuri-curi waktu. Pelajaran ini sungguh penting karena aku jadi lebih memahami betapa berharganya waktu. Sampai sekarang alhamdulillah pelajaran ini masih aku terapkan. Lalu setelah semua daftar eksperimen selesai dikerjakan dan semua data selesai dianalisa, saatnya untuk maju sidang pun tiba. Aku tidak yakin dengan data yang aku punya cukup untuk menghasilkan kesimpulan. Tapi pembimbingku meyakinkan aku untuk tetap maju. Lalu hari sidang tiba. Karena sudah disetujui oleh pembimbingku, aku pun yakin bisa lulus. Tapi ternyata….

“Yuli, kelulusan kamu di-pending dulu ya karena datanya tidak cukup. Kalau kamu tetap diluluskan kamu bakal dapat C”. Byaaarrrrr! Di perjalanan pulang susah payah aku menahan air mata. Begini ya rasanya tidak lulus. Sakitnya luar biasa.

Kalau sudah begini suka tidak suka aku harus menerima kenyataan bahwa rencanaku melanjutkan studi ke Korea harus ditunda. Professorku maklum dengan keadaanku dan masih memberiku kesempatan untuk kembali mendaftar untuk Fall semester.

Aku pun lalu kembali berkutat dengan rutinitas menggergaji bambu dan eksperimen seharian untuk melengkapi data penelitianku. Alhamdulillah 3 bulan kemudian aku kembali sidang di pertengahan semester dan lulus.

Tapi pengalaman ini ternyata memberi dampak yang cukup kuat padaku. Aku kembali menjadi labil dan ragu akan niatku untuk melanjutkan studi. Apa tujuanku? Keraguanku itu bukannya tak beralasan. Jika aku terus melanjutkan studiku sampai S3 sedangkan aku belum bekerja dan tidak juga terikat dengan instansi pendidikan manapun, lalu apa yang harus aku lakukan setelah menjadi doktor? Dari cerita-cerita yang aku dengar, perusahaan manapun akan ragu menerima S3. Dan biasanya para dosen sudah terlebih dahulu mengajar di universitas sebelum mereka melanjutkan S3. Ya Allah…lagi-lagi aku bingung.  Meskipun tetap dalam situasi yang sungguh kelabu seperti itu aku masih saja tetap keras kepala tidak mau mencoba melamar ke perusahaan-perusahaan. Something tells me inside that its just not the road that I have to take. Aku masih tetap pada pendirianku bahwa aku ingin menjadi seseorang yang bergerak di bidang penelitian atau pendidikan.

Air Mata Kedua

Kemudian musim penerimaan PNS pun dimulai dan aku dengan semangat mendaftarkan diri ke LIPI. Mungkin ada jalan yang terbuka lebar untukku disini. Aku melupakan niatku untuk melanjutkan studi. Kepada Professor Lee kemudian aku sampaikan perubahan rencanaku dan beliau lagi-lagi menanggapi dengan positif. Akan tetapi musim penerimaan PNS tiba saat aku belum menerima transkrip resmi S2-ku. Aku pun terpaksa menggunakan transkrip S1 yang IPK-nya hanya sedikit di atas 3.0. Alhasil aku bahkan tidak dipanggil untuk tes tertulis karena IPK-ku tidak lolos seleksi. Oh Tuhan. Aku juga melamar ke BPPT tapi yang ini pun nasibku tidak lebih baik.

Beberapa bulan setelah semua jalan yang aku tempuh tak berujung pada keberhasilan, dunia terasa benar-benar gelap dan bukan lagi kelabu. Aku merasa seperti orang yang tak berguna. Sudah 25 tahun tapi masih bergantung pada orang tua. Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata perasaanku saat itu. Cemas, bingung, marah, takut, sedih, semuanya campur aduk dan hanya bisa diekspresikan melalui satu hal. Menangis. Di tengah tangisan itu aku berdoa pada Allah memohon pertolongan. Lalu seperti lampu yang dinyalakan di ruangan gelap, tiba-tiba pikiranku kembali terang. Professor Lee!

Waktu itu kira-kira 5 bulan setelah e-mail terakhir aku kembali mengirimkan e-mail pada Professor Lee yang isinya menanyakan apakah masih ada kesempatan untukku menjadi mahasiswa S3 di lab beliau. Saat itu aku sungguh tidak peduli dengan imej seperti apa yang muncul di benak Professor Lee melihat aku yang maju mundur dengan rencanaku. Alhamdulillah aku tak perlu menunggu lama. Hanya hitungan 1 atau 2 jam setelah e-mail aku kirim beliau langsung menjawab dengan respon yang sungguh membahagiakan. Masih ada kesempatan! Bahkan beliau langsung meminta aku segera mengirimkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Beberapa dokumen bisa langsung aku selesaikan dan aku kirimkan.

Sebenarnya ada satu cerita lagi tentang kebodohanku. Selain ke Yeungnam University, aku juga mendaftar ke TU Delft. Tapi program yang ditawarkan bukan S3 melainkan postmaster. Seperti biasa aku tak mau berpikir terlalu lama, kesempatan ini pun aku coba. Tapi tau ga kebodohan apa yang aku lakukan? Aku mengirimkan transkrip asli S2-ku ke Belanda! Aku bahkan tidak ngeh kalau yang aku kirimkan itu ternyata transkrip yang asli karena bentuknya yang seperti legalisiran. Berkali-kali aku mengutuk kebodohanku saat sadar kalau transkripku ternyata sudah pindah benua. Aku mesti ke kantor polisi untuk mengurus surat hilang supaya aku bisa tetap mendapatkan legalisir foto kopi transkrip. Subhanallah.

Tapi sungguh alhamdulillah, Allah tak pernah berhenti memberiku petunjuk. Pengalaman berkali-kali berkirim e-mail dengan Professor Lee mengajarkan aku pentingnya mengkomunikasikan segala hal. Kemudian aku mengirimkan e-mail pada TU Delft berisi permohonan untuk mengirimkan kembali transkripku ke Indonesia. Aku sampaikan dalam e-mail itu bahwa aku sangat membutuhkan transkrip itu untuk melanjutkan studiku. Dengah bahasa yang baik, sopan, memohon tapi tidak merendahkan diri, mereka pun mengerti dan mengirimkan kembali transkripku. Bahkan biaya pengiriman mereka yang tanggung. Masya Allah.

Memang, jika rezeki yang sudah digariskan oleh Allah akan menjadi milik kita sudah pasti akan sampai ke tangan kita. Hanya dalam waktu seminggu setelah e-mail aku kirimkan ke Professor Lee, aku mendapat kabar gembira bahwa aku diterima di lab beliau. Alhamdulillah. Semuanya berjalan lancar. Bahkan untuk TOEFL sekalipun. Aku tidak pernah ikut kelas persiapan TOEFL tapi alhamdulillah, lagi-lagi memang sudah rezeki dari Allah, tanpa banyak persiapan aku bisa meraih score yang lumayan tinggi. Setelah semua syarat terpenuhi, aku pun resmi diterima sebagai mahasiswa S3 di School of Chemical Engineering Yeungnam University. 1.5 tahun yang kelabu dan penuh air mata alhamdulillah terlewati dan sampai pada tempat yang terang dan membahagiakan.

So, what is the moral of my story?

Perjalanan 1.5 tahun yang singkat tapi terasa lama itu benar-benar aku pegang sampai sekarang. Aku belajar untuk percaya pada kata hatiku dalam setiap mengambil keputusan. Aku belajar untuk tidak takut salah melangkah. Aku percaya jika kita benar-benar pasrah pada Allah SWT, Allah akan selalu mengarahkan aku kembali ke jalan yang benar. Aku juga belajar untuk benar-benar percaya pada kemampuanku sendiri. Allah tidak akan menghadirkan tantangan untukku jika aku tidak sanggup melaluinya.

Aku semakin menyadari bahwa kenikmatan dalam meraih cita-cita itu ada dalam perjalanannya dan segala tantangannya. Mulai sekarang aku akan memilih impian yang lebih tinggi karena tantangannya akan semakin besar dan insya Allah pelajarannya akan jauh lebih bernilai.

Pepatah bahwa waktu adalah uang benar-benar meresap ke dalam jiwaku setelah melalui fase 1.5 tahun tersebut. Aku berusaha untuk mengisi setiap saat dalam hidupku dengan hal yang bermanfaat, sekecil apapun itu.

Sembari menulis pengalaman ini, aku semakin diingatkan tentang pentingnya mengkomunikasikan sesuatu. Ada banyak pertolongan di luar sana tapi kita tak akan bisa mendapatkannya tanpa komunikasi yang baik. Bahasa memang penentu tapi bukan di posisi pertama. Lancar berbicara atau menulis dalam suatu bahasa bukan berarti kita menjadi ahli berkomunikasi dalam bahasa itu. Menurutku, ketulusan hati dan penghargaan terhadap orang yang kita ajak berkomunikasi adalah faktor yang paling utama.

Mulai sekarang, teruslah berjalan untuk meraih impian mu. Jangan pedulikan tujuannya. Raup semua pelajaran yang kamu temukan di sepanjang jalan. Percayalah itu lebih berharga dari impian yang ingin kamu raih. Pegang teguh keyakinanmu pada Allah, karena hanya Allah-lah satu-satunya pemberi cahaya di terowongan sempit nan gelap gulita ini. Jangan pernah lepaskan impian mu. Tapi terus ingat bahwa hanya Allah yang Maha Tahu waktu terbaik dan skenario terbaik.

-Yuli-

Motivasi Beasiswa 4

Lena Citra Manggalasari

Technische Universität Dresden

Dresden,Germany

Lena Citra Manggalasari: “Allah Bayar Cash dengan Beasiswa Jerman!”

Belajar di Jerman adalah impian saya sejak saya kelas 4 SD.  Sampai kemudian saya kuliah S1 di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, saya masih bermimpi untuk melanjutkan study ke jerman. Berbagai seleksi beasiswa saya ikuti. Dari mulai Studien Reisesampai Sommer Kurs. Tapi tak satu pun yang saya dapat. Berbagai lomba dari Goethe Institut saya ikuti dengan hadiah ke Jerman, pun tak satu pun juga saya menangkan :(

Sedih…serasa Jerman begitu jauh untuk digapai. Cemooh temanpun sering saya dapatkan. “Kamu mau study ke Jerman??… Mimpi!!!!” kalimat ejekan seorang kawan KKN saya yang hingga kini masih saya ingat.

Sakiiiit….
rasanya mendengar kawan saya berkata demikian. Tapi syukurlah saya tidak pernah membenci kawan saya itu karena entah kenapa kata-kata itu malah menambah semangat saya untuk terus mengejar mimpi ke Jerman.

Akhir tahun 2007 saya lulus S1. Setelah mendapat ijazah saya langsung mendaftar beasiswa. Saat itu saya berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa S2 agar saya tidak merepotkan orang tua lagi. Sayangnya saat itu saya menemui banyak kesulitan karena kebanyakan beasiswa Master hanya untuk orang yang mempunyai pengalaman kerja minimal 2 tahun.

Akhirnya saya putuskan untuk melamar pekerjaan. Alhamdulillah tidak lama setelah kelulusan saya diterima bekerja di salah satu universitas di Yogyakarta. Bukan sebagai Dosen tapi sebagai Staf Administrasi. Selama bekerja saya tetap mencari peluang beasiswa. Dari mulai beasiswa ke Swiss sampai yang ke Amerika. Beasiswa apa saja yang cocok dengan qualifikasi yang saya punya saat itu.

Seleksi demi seleksi saya jalani, saya tetap gagal di pertengahan seleksi atau di seleksi akhir. Lama-lama saya rasakan begitu berat. Bulan Juli Tahun 2010 saya mengumpulkan kertas-kertas dokumen yang sudah saya siapkan untuk mendaftar beasiswa Master DAAD (waktu itu sambil menangis).

Waktu itu sekitar pukul 6 sore saya mengirim aplikasi beasiswa saya di kantor pos pusat Yogyakarta. Waktu itu hujan, saya naik motor menuju kantor pos pusat karena disana buka layanan sampai jam 8 malam. sore itu memang harus saya kirim, karena aplikasi paling lambat harus berstempel tanggal 31 Juli 2010. Dalam hati saya berkata “Ya Allah, sampai disini perjuangan saya, saya tidak akan melamar beasiswa lagi.”

Malamnya saya tidak bisa tidur karena saya harus memutuskan sesuatu untuk hidup saya: “Jika tahun ini masih gagal juga, maka saya hanya akan bekerja saja”. Malam itu saya putuskan: selagi menunggu pengumuman beasiswa, karena ini adalah beasiswa terakhir yang saya daftar, maka saya harus berusaha sepenuh hati!! Saat ini yang saya harus lakukan adalah memperbaiki ibadah dan perbanyak doa!

Mulai saat itulah saya rutinkan sholat tahajudsholat dhuha dan tentu saja,sedekah. Saya menyebutnya “Sedekah gila-gilaan” (sedekah dengan nominal terbanyak yang pernah saya lakukan). Setiap hari Jumat saya sedekah sekitar Rp 200-250 ribu, berlangsung dari Juni sampai November. Saya tidak mau setengah- setengah dalam berusaha, waktu itu saya berpikir karena ini terakhir saya perjuangkan mimpi saya, jika jawabannya tidak juga. paling tidak saya tidak menyerah begitu saja.

Seminggu sekali setiap hari jumat saya datangi rumah tahfidz (rumah hapalan Alquran), disana saya biasanya memberi amplop yg isinya uang sedekah dan kertas doa, di kertas itu saya tuliskan doa-doa saya termasuk doa agar saya lulus seleksi beasiswa. Kertas doa itu nantinya akan dibacakan oleh santri-santri disana setiap mereka selesai sholat. begitu seterusnya selama berbulan-bulan.

Akhirnya saya menemukan titik terang. Saya mendapatkan Email dariTechnische Universitaet Dresden, Jerman yang menerangkan bahwa saya lolos ke tahap wawancara. Saya sangat bahagia waktu itu, lumayan pikir saya waktu itu, naik ke tahap selanjutnya. Beberapa hari kemudia pihak Technische Universitaet Dresden menelepon saya, waktu itu saya sedang bersama teman-teman di rumah coklat di Yogyakarta.

Setelah wawancara selesai saya memberanikan diri bertanya dalam bahasa Jerman waktu itu, “Ist das sicher, dass ich dieses Stipendium bekommen?”(“Apakah saya pasti dapat beasiswa?”), jawabannya tidak memuaskan , “Anda belum tentu lolos di tahap wawancara ini”. Ya sudahlah, saat itu saya tidak mau banyak pikiran , saya hanya mau terus berusaha sampai keputusan final.

Tiba-tiba pada tanggal 9 Desember 2010 sebuah Email datang yang isinya:

Dear Ms. Manggalasari, we are pleased to inform you that you have been awarded a scholarship for the master course “Vocational Education and personnel Capacity Building” at the TU Dresden, Germany.

Saat itu langsung bergetar hati saya.. deggg… deggg… deggg… Subhanallah.. akhirnya mimpi saya untuk mempelajari ilmu yang sangat saya sukai di universitas impian saya datang secara tiba-tiba! Apa yang saya impikan selama ini sudah ada di depan mata! Alhamdulillah…

Akhirnya, tanggal 5 April 2011, MIMPI SAYA DIBAYAR CASH ALLAH SWT dengan BEASISWA S2 ke JERMAN! Saya berangkat dari Yogyakarta menuju Frankfurt, Jerman.

Benar-benar luar biasa ganjaran sedekah yang Allah Swt berikan kepada saya.Nilai beasiswa yang saya terima sekarang ini sekitar Rp 500 juta. Sekarang di Jerman saya kembali rutinkan sedekah gila-gilaan dengan nominal Euro, karena saya punya banyak cita-cita, pengen banget umrah bareng Ibu dan Bapak dan juga pengen nikah (walaupun belom tahu sama siapa hehe.. :)

-Lena-

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…..