Seseorang pernah bilang kepada saya kalau cara kamu memperlakukan ibumu adalah representasi bagaimana anakmu memperlakukanmu kelak. Mungkin hal itu terkait dengan hukum alam yang paling berlaku di muka bumi ini: sebab-akibat. Sama halnya seperti: apa yg kamu tanam hari ini adalah apa yang akan kamu panen kelak.

Dengan hukum itu, sebenarnya sekarang kita (calon orang tua) bisa membayangkan akan seperti apa anak-anak kita memperlakukan kita sebagai orang tuanya kelak. Kalau kita masih lebih banyak membantahnya daripada taat. Maka, berhati-hatilah. Barangkali begitu juga perlakuan anak kita nanti. Sebaliknya, kalau kita senantiasa berbakti pada orang tua kita, insya Allah anak-anak kita pun akan melakukan hal yg sama kelak🙂

Kita sering mengalami dilema-dilema seperti itu, mungkin muncul di benak, pertanyaan “Mana yg harus saya pilih?” Pilihan terbaik adalah pilihan yang diridhoi orang tua. Apapun yg kita pilih, nggak masalah selama orang tua meridhoi. Kalau orang tua kita maksa? Ajak berdiskusi dengan baik. Hindari perdebatan apalagi perselisihan. Apalagi jika terkait dengan pilihan-pilihan besar, seperti pernikahan. Ciee, mulai deh ya haha (kembali ke topik)

Seringkali orang tua ‘memaksakan’ sesuatu karena menganggap sesuatu itu adalah yang terbaik buat anaknya. Menurut kacamata orang tua tentunya. Maka yang bisa kita lakukan adalah berbagi ‘kacamata’ dengannya. Mengajak mereka melihat apa-apa yang kita lihat dengan kacamata kita, lalu putuskan bersama. Bukan dengan menyalahkan, menganggap kuno, apalagi sampai memaki. Itu akan mematahkan hati mereka.

Jika sudah tercapai kata sepakat, artinya orang tua sudah membuka pintu keridhoannya lebar-lebar. Bersamaan dengan itu, pintu keridhoan Allah pun terbentang. Intinya, sesusah apapun pilihannya, utamakan keridhoan orang tua. Ridho orang tua itu ibarat pintu kemana saja. Karena, dengan ridho ortu, kita bisa kemana saja, jadi apa saja. Ridho orang tua membukakan pintu langit untuk kita, selanjutnya, Allah yang atur ^^

Beberapa hari lalu seusai mengikuti acara ulang tahun metro Tv ke 14 di kebon jeruk, Jakarta kami berempat (saya, indah, nurul, dan lulu) di perjalanan menuju pulang di busway sendiri menuju pinang ranti tiba-tiba ada empat laki-laki nyamperin saya. Salah satu dari keempat orang itu langsung bilang,” hai mbak ina, apa kabar? muka saya bengong 3 menit karena jujur diantara mereka berempat ga ada yang saya kenal siapa namanya atau saya mencoba mengingat pun belum pernah ketemu. Saya refleks jawab: Alhamdulillah baik, kalian apa kabar? hehe (nyesek sambil mikir) Baik, maaf maaf kalian..e ee (maaf saya lupa namanya) dan salah satu laki laki nyaut : saya L dr UI kita ketemu pas di FE tapi mungkin mbak ina ga tahu, pasti bingung ya? (asliii, saya malu) muka saya benar2 merah nahan karena mereka ramah semua menyebut nama nya satu persatu, sedangkan satupun saya ga tahu. Kami ngobrol 1-15 menit an bertukaran bbm dan whatsapp, dan siapa sangka dunia ini terlalu sempit, ada 2 diantara mereka baru pulang dari amerika mengikuti kegiatan apa namaya saya lupa dan satu akan melanjutkan S3 nya di US juga. Subhanallah, ini rencana Allah luar biasa mempertemukan saya dengan mereka walau sebentar heu…

Kami berpisah karena transit di lebak bulus, ada yang melambaikan tangan dan keep contact ya mbak inaa (muka saya masih malu karena ga tahu awal di sapa tadi) , setahu saya kalau diliat dari wajanya mereka semua senior saya, tapi mereka manggil saya mbak karena gatau usia saya berapa zzz, memang Allah hebat. Saya hampir di tahun 2014 ini dipertemukan dengan orang2 yang berhati luar biasa, bahkan ada yang mencoba mencari no hp saya hanya untuk bilang : ina, saya tahu apa yang kamu hadapi baik pribadi ataupun komunitas mu di PB dan status terakhir mu di FB, saya ga peduli. Yang saya pedulikan adalah kamu bangkit dan saya yakin kamu mampu menyelesaikan dan menaklukkan mimpi2 kamu. Hanya orang bodoh yang melihat masa lalu. Saya tunggu kamu di MIT. SEMANGAT! #Nyess nyaris air mata saya berlinang tiada henti tiap melihat chatting an nya di whatsapp. Ini pilihan, pilihan ketika saya dihadapkan saya harus mundur atau bertahan dan maju untuk menang, Allah melihat apa setiap detik yang dilakukan oleh hambaNya. Jadi ketika saya minta doa restu orang tua, saya mau lanjut ke X ibu bapak setuju, ga ada kata lagi untuk mundur dan menyelesaikan masalah. Ketika saya bangkit orang2 luar biasa hadir, dan orang2 berhati malaikat yang masih setia bersama saya juga banyak, mendukung saya memotivasi saya dan ga kalah penting nya mengingatkan saya. Benar kata ali bin ali thalib : Kamu akan melihat sahabat mu yang sebenarnya ketika kamu terjatuh tertimpa masalah besar dan melakukan kesalahan besar ttp mereka masih besar hati dan Ada buat kamu, mengingatkan mu itulah sahabatmu dan bisa kamu hitung. Memang semua ini pilihan, pilihan untuk bersahabat dengan siapapun, tapi namanya sahabat itu bisa dilihat oleh ketulusan hati, tambah ibu saya. Sama seperti ibu ketika saya di tanya : Kapan pilihanmu kamu bawa ke ibu? Saya juga selalu tegaskan untuk urusan “ini” saya tidak mau diatur, saya yakin Allah sudah menyiapkan nya. Apalagi skrg saya bahkan ga kepikiran untuk hal yang namanya “laki-laki” saya bukan tipikal orang yang gampang jatuh cinta, mungkin kalau kagum suka sering terus 5 hari selesai. Jadi ketika saya sudah “suka” dengan seseorang saya akan bertahan apapun yang terjadi. Karena kebahagian itu ada bersama dengan orang disayang. Asikk bahasan saya menjadi-jadi😄 Pilihan apapun yang dihadapkan yang saya sekarang, saya istikharahkan dan pasti orang tua itu utama.

Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda. Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal esai. Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis soal ‘benar’ atau ‘salah’. Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A atau daftar B” Begitu kalau kata pak tere liye. Selalu inget janji Allah “laki-laki baik untuk perempuan yang baik, gitu juga sebaliknya”. 

@ Metro TV