Bismillah…

Banyak yang mencari keteduhan bagi jiwanya,

yang dianggapnya begitu,

untuk kemudian ada kata-kata belahan jiwa,

yang terpisah darinya,

menjadikan angan-angan terpatri begitu,

yang sepertinya patut dicari dan diperjuangkan bagai nyata. 

 

Kalaupun kita dapat bertanya, “hendak kemanakah kita ini ? atas semua yang terjadi pada diri ini ?”

dan apabila kita dapat menjawab, sudah tentu dengan mantap kita akan menjawab, “Allah !”

 

Jika memang itu tujuan kita maka segala sesuatu yang terjadi pada kita, yang dihadapi dengan semua rasa dan fikiran itu, adalah bersifat bathil dan akan lenyap pada waktu Nya, berganti-gantian bagai malam dan siang, sebagaimana itu tidak ada pada awalnya maka secepat itu pula dapat menjadi tidak ada pada waktu Nya.

 

Sesungguhnya Allah ta’ala akan terus menguji kita, dengan setiap pengakuan dan pernyataan kita sendiri kepada Nya,

dengan apa yang (menurut kita) baik maka belum tentu itu baik untuk kita. Begitu pula berlaku pada hal yang (menurut kita) buruk, seakan Dia berkata, “hadapkan wajahmu itu hanya kepada Ku !, apapun keadaanmu.”

 

Dia menguji kesungguhan kita dengan apa yang dinamakan cinta, seperti anak panah yang melesat dan menancap tepat di dada kita, dalam pada itu ada ketidak berdayaan dan penyerahan, kembali lagi kepada Nya, karena memang itu adalah milik dan ciptaan Nya dan hanya dari Nya sekaligus bagi Nya semata memang bukan untuk selain Nya.

 

Seberapa rela kah kita menukarkan sesuatu itu ?

yang bersifat kesementaraan dan penciptaan dengan keabadian mutlak Nya ?, seperti apa yang telah dikisahkan dan terjadi,pada junjungan kita Al Mustafa sang Sultan Makkah dan Madinah, tambatan cintanya Khadijah kembali pulang kepada Sang Penguasa Kerajaan Baqa dan Qurbah, kepedihan dan keperihannya, terpisahkan jarak yang tidak dapat dijangkau oleh akalnya, karena pengorbanan dan kerelaannya atas hal itu, Al Mustafa pun berjumpa dengan jarak sejengkal bersama dengan Dzat sumber atas semua cinta, dambaan serta tambatan keabadian, di atas seluruh kenikmatan Surga yang disediakan Nya, alam kedekatan Nya, kekasih sesungguhnya yang saling bertatapan.

 

Seberapa malunya kah kita yang terus berjuang ? hanya untuk sebuah kesementaraan, dan rela menukarkannya dengan keabadian Nya ? lihatlah dan tengoklah jiwa kita, bagai orang yang thowaf di sekeliling rumah Nya, ia dapat melihat dan mengira telah mendekat, ternyata dengan jarak kejauhannya sendiri.

 

Allahumma Ya Musabibal Asbab, Ya Muqalibal Qulub. Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin wa laa hawla wala quwwata illa billah..

 

…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

 

Barakallahufikum ….