Tegang! Mungkin itulah padanan kata yang tepat ketika saya pernah berselisih paham dengan seorang sahabat. Adalah M, sahabat saya tersebut. Seorang gadis muda yang tegas namun penuh ketulusan dalam setiap langkahnya, meskipun tidak setiap orang bisa memahami ketegasan di balik ketulusannya itu. Ketegangan yang sempat terjadi diantara kami membuat kami harus mengevaluasi diri, dimana letak salah kami selama ini.

Namun bukan apa sebab ketegangan yang ingin saya bicarakan di sini, tapi sikapnya yang begitu bijak menyikapi ketegangan tersebut. Coba lihat sebuah pesan yang dia kirimkan kepada saya,

When the nails grow, we cut the nails, not the fingers. Similarly, when the misunderstandings raise, we should cut the misunderstanding, not the relations. (Ketika kuku tumbuh, yang kita potong adalah kukunya, bukan jarinya. Sama halnya, ketika kesalahpahaman terjadi, yang kita potong adalah kesalahpahamannya, bukan hubungannya).”

Begitu bijak kata-kata tersebut hingga menginspirasi hidup saya dan meredakan ketegangan yang terjadi. Entah darimana ia dapatkan kata-kata itu, dari buku, internet, atau dari manapun, tak menjadi persoalan bagi saya, karena yang penting kata-kata itu bisa merubah cara pandang saya dalam menyikapi sebuah perselisihan.

Sebab bagaimanapun buruknya sebuah perselisihan dan ketegangan, ia tak bisa diselesaikan dengan kebencian apalagi kekerasan, ia hanya bisa diselesaikan dengan pengertian dan kesabaran. Bila pengertian laksana cahaya dan perselisihan laksana kegelapan, maka cahaya sekecil apapun pasti bisa bersinar di tengah kegelapan. Jadi cobalah untuk bisa mengerti sebelum ingin dimengerti orang lain.