Bismillah..

Suatu hari di kamar dengan posisi duduk di atas tikar berwarna hijau..

“Alhamdulillah, akhirnya kakak sudah selesai menghafal.”, kataku pada adik sepupu perempuanku yang bersekolah di IT Informatika. Saya menyerahkan mushaf al-qur’an berwarna merah hati pada adik lalu berkata, “Dik, ayo kakak disimak ya! Satu halaman saja. Yang ini!”, kataku sambil menunjuk halaman yang perlu dia simak.

Lalu adik menyimak hafalanku. Alhamdulillah, saya bisa membaca hafalanku dengan lancar. Namun, ketika akan berakhir, adikku memberi kode dengan kepalanya. Saya sadar, berarti ada yang salah atau kurang pada hafalan yang sedang kubentuk itu. Pada halaman itu ada tiga ayat yang sangat mirip. Saya sudah berhasil membedakan dua ayat sebelumnya, tapi pada ayat yang ketiga, ada satu kata yang belum kuucapkan, yaitu kata “minnaa”.

“Wah, ayatnya sangat mirip. Ternyata masih kurang satu kata..”, kataku sendu. Saya merasa belum berhasil, karena target ‘hafalan baru’ haruslah hafalan yang sempurna tanpa kesalahan, tanpa terbata-bata, atau berhenti untuk mengingat-ingat. Hanya saja, memang sudah kukenali kalau hafalanku itu.. biasanya bisa menjadi sempurna kalau sudah disimak dua kali oleh orang lain. Kalau disimak satu kali, kadang masih ada yang kurang, atau mungkin masih ragu2 meskipun akhirnya nanti bisa melanjutkan sampai akhir.

= = = = =

“Alhamdulillah… Halaman ini kakak hafal dalam waktu setengah jam.”, kataku pada adik yang sudah menyerahkan kembali mushaf merah itu padaku.

“Lho, kok bisa cepet banget?”, jawabnya agak heran.

“Mm.. karena kakak sudah biasa mendengar ayat itu. Selain itu, halaman itu sudah kakak terjemahkan..”, jawabku.

Lalu aku balik bertanya padanya, “Kalau adik, target hafalannya berapa?”

“Sekolah menargetkan satu semester satu juz.”, jawabnya. Satu juz pada mushaf madinah terdiri dari 10 lembar. Satu semester ada 6 bulan, tapi mungkin bulan terakhir untuk ujian, maka waktu menghafal adalah 5 bulan.

“Berarti kalau dihitung2, baiknya tiap bulan adik menghafal dua lembar (2 lembar = 4 halaman). Satu bulan ada empat pekan, berarti satu pekan menghafal satu halaman”, jawabku menjelaskan.

“Oh ya, sebenarnya kakak dulu bisa menghafal satu halaman dalam waktu 10 menit. Tapi kondisinya harus sangat tenang, misalnya pagi hari sebelum shubuh.”, tambahku. Hal ini kukatakan padanya untuk memberi motivasi.

“Ya sudah, gitu aja ngafalnya..”, jawab adikku. Mungkin dia berpikir, kenapa tidak 10 menit aja? Kan lebih cepat, lebih enak..

Lalu Saya menjawab, “Tapi kakak tidak suka menghafal cepat2, soalnya kalau ngafalnya cepat biasanya cepet ilang. Trus rasanya kering dan kurang berbekas pada hati. Ya sudah, kakak lebih suka menghafal satu halaman dalam waktu setengah atau satu jam saja. Hati bisa lebih basah dan ada bekasnya. Selain itu, juga tidak mudah hilang.”, jawabku menjelaskan. Ternyata cepat hafal bukanlah segalanya..

= = = = =

Guru ngaji saya tipenya bukan orang yang mudah silau dengan cepatnya murid2 beliau menghafal.. karena beliau melihat dari sudut pandang keseluruhan. Memang menghafalnya bisa cepat, tapi bagaimana dengan tugas tilawah hariannya.. bagaimana dengan tugas muraja’ah hafalannya? Semuanya harus dalam keadaan baik, baru beliau akan menganggap kondisi kita dalam keadaan baik.