Berhias dengan cita-cita tinggi akan menghalangi dari angan-angan dan perbuatan hina, dan mencegah  dari jurang kehinaan, kerendahan, kemiskinan, dan kemalasan.

Lantas siapakah wanita yang bercita-cita tinggi itu ? Faktor apa saja yang membuat cita-cita seorang muslimah menjadi tinggi? Dan bagaimana mengantisipasi agar sebuah cita-cita tidak rendah dan hina?

Imam Asy-syafi’i pernah berkata “Cita-citaku adalah cita-cita para raja, jiwaku adalah jiwa merdeka, jika aku hidup tidak takut kelaparan, dan jika mati aku tidak khawatir tidak mendapatkan kuburan.

forkomwat

Bismillah..

Jika kisah di bawah ini terjadi pada tahun 2000. Barangkali muslimah yang diceritakan tersebut sudah lulus S3, atau bahkan menjadi seorang Profesor..🙂

= = = = =

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, “Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos”.

Hanya itu saja kalimat yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya padahal di luar sana berjuta – juta orang memimpikan pencapaian ini. Sang dosen tertegun, kemudian dia berkata, “Bagus dong dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek?”

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. “Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini…. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani.”

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya. Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini…

Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalam idenya…. Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . “Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecilmu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti..” .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar … yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya..

“Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?” “Sejak saya kuliah di ITB , Pak.” Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,”Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti.?”

Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen…. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , “Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya.”

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki.

sumber:

http://aininshofiawati.multiply.com/journal/item/72/Akhwat_Berpendidikan_Tinggi_Siapa_Takut

Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilat yang berlebih-lebihan. – Thales-

Al-Barudi mengatakan”“Naiklah ke puncak kemuliaan, laksana seekor helang yang hanya mahu hinggap di puncak gunung. Tinggalkan sesuatu yang hina demi sesuatu yang mulia. Mari kita harungi samudera yang luas dan dalam. Lalu kita tinggalkan anak sungai yang dangkal.”

Generasi yang sedia berlari kencang akan memperoleh keinginannya sementara orang yang beralasan dan bermalasan hanya mampu pasrah pada keadaan.

Sesungguhnya generasi yang bercita-cita tinggi adalah manusia yang penuh rasa optimis (yakin) pada diri dan usahanya. Namun dia tetap sedar bahawa tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah SWT. Baginya tidak ada yang mustahil. Berkat pertolongan Allah SWT dia akan berusaha keras mewujudkan setiap perancangannya. Dan dengan bertawakal kepada Allah, dia akan menghadapi pelbagai gelombang kehidupan yang sulit tanpa terpengaruh oleh apa pun.

Jadilah kamu generasi yang kakinya di atas tanah, tetapi cita-citanya tergantung pada bintang. Jika ia mendaki langit, adalah aib yang jelek kalau ia merasa puas berada di bumi!🙂

Ketahuilah, pada hakikatnya hidup ini adalah perjuangan. Dan kita berada di medan pacuan, jester teruslah berpacu. Jangan terus menerus malas. Orang yang gagal kerana ia malas dan suka memberi alasan. Sebaliknya orang yang berjaya adalah kerana ia mau berusaha dengan bersungguh-sungguh. Maka berusahalah yang terbaik!🙂
so, Akhwat Berpendidikan Tinggi, Siapa Takut?