http://www.facebook.com/notes/dinar-roe/impian-menjadi-habibie/10150587417356523

ini tulisan saya copy paste dari milis grup PPI Leipzig, semoga ada manfaat yang bisa saya ambil..

Dan tak lupa juga sobat-sobat pemburu beasiswa semua..

Tulisan dari kak Dinaroe adalah Mahasiswa Aceh di Jerman dan Sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN)

 

Siapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost (biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitas Studentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internet unlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi.

 

Terima kasih kak dinar roe, semoga semakin banyak pelajar indonesia yang berminat untuk study ke jerman setelah baca ini😀

Aamiin