Today, 29 february 2012, is a special day for me.. because………

my beloved mother is having birthday today!!!

My mom is spectacular, wonderful and amazing … My pride, my idol, my inspiration, my guide, my motivation and more over she is my best friend.

Happy 47th Birthday Mom

Thank you for being the best “coach” ever for me. You are never tired to coach me (even though really sometimes with hard and difficult way) but I am thankful for all of it. Thanks for guiding me this far and making myself as who I… am right now!

My prays to Allah SWT, I pray for your healthiness and have a long life, for your happiness in the world and in the hereafter,
for the happiness our family either! My heart and prays always with you.

I love you, mom! Thank you for raising me… there’s no way I can repay your kindness. May Allah show mercy to you as you did to me when I was little.

You’re my strength. I am grateful if I can be half as steadfast as you are.

I love you very much^__^

Dan ultah umi kebetulan juga bersamaan dengan ultah kak rifki ,senior saya yang di Groningen, Groningen^__^

Saya baca sungguh luar biasa, terima kasih kak rifki..Semua tulisan nya sangat bermanfaat😀

Yuk di baca😀

 

Hari ini ulang tahun Ibu, empat tahun sekali dan jika benar-benar dihitung kabisatnya maka umurku jauh lebih uzur dari beliau. Bukan, tulisan kali ini bukan tentang Ibu, tapi tentang aku, tentang bagaimana Ibu membuatku percaya bahwa orang berilmu akan lebih berbahagia daripada orang berharta. Itu semua gara-gara cerita beliau tentang ayahnya, Alm. Kakek yang meninggal dalam pengabdiannya sebagai guru, jauh bahkan sebelum Ibu menikah dengan Ayahku. Cerita beliau tentang Kakek meyakinkanku untuk benar-benar serius sekolah, keyakinan yang akhirnya membawaku ke Eropa.

 

Yang akan disampaikan ini mungkin hanya sekelumit saja serba-serbi cerita mahasiswa luar negeri, silahkan diterjemahkan sendiri dan, alhamdulillah, jika ada manfaat yang tersirat semoga menambah amal jariyah juga untuk Alm. Kakek.

 

Setelah berada di semester akhir dalam perjalanan menuju Master of Science, aku jadi tau kenapa lulusan luar negeri, dalam hal ini Eropa, tidak mau dan memang tidak bisa disamakan dengan lulusan dalam negeri. Mengapa demikian, begini (sedikit) ceritanya,

 

Enggress,

Faktor bahasa mutlak jadi pembeda. Aku kuliah di dua negara berbeda, Jerman dan Belanda. Seperti pada umumnya Eropa daratan yang punya bahasa masing-masing, banyak teman-teman internasionalku juga bukan English Native Speaker. Jadi, tak perlu lah kita menjadi terlalu minder dalam berbicara, toh posisinya sama-sama bukan native. Pengalaman kuliah di Jerman-Belanda ini membuka berbagai sudut pandangku, jelas tidak mungkin aku temukan jika kuliah di Indonesia. Terkait juga dengan interaksi sosial pertemanan memang.

 

Aku pernah terkejut dengan seorang Dutch yang tanpa basa-basi menghakimi methodologi teman sehabis presentasi. Sangat Belanda, langsung tanpa basa-basi menyerang legalitas akademis, namun tentunya disampaikan dalam koridor yang sesuai, dalam sebuah diskusi. Belum lagi ketika bekerja kelompok dengan teman-teman dari Afrika yang memiliki logat English yang unik, atau mendengar bagaimana anak Italia, Spanyol atau student dari Latin Amerika yang kata-katanya didominasi oleh bunyi vokal dan selalu berirama.

 

Sejauh ini, teman-teman Jerman menjadi yang cukup bisa aku ikuti, mereka tidak terlalu beda aksen pelafalannya, juga sangat teratur dalam menyusun kalimat argumentatifnya. Tak heran, itu adalah pengaruh tata bahasa Jerman yang sangat teratur tentunya. Lain lagi ketika di kelas aku harus beberapa kali mengulang rekaman amatir seorang Professor asli British misalnya. Dengan aksen yang cepat dan abu-abu, setiap kuliah layaknya mendengar komentator Premier League memandu pertandingan Liverpool lawan Everton. Itu baru sekelumit cerita dalam kendala bahasa yang tentunya amat jarang ditemukan kasus serupa jika anda kuliah di Indonesia. Lainnya?

 

Sepeda,

Ini simbol status seorang mahasiswa. Maka akan amat sangat menyesal lah seorang calon mahasiswa yang akan berangkat ke Eropa jika dulunya sejak kecil dia tidak serius belajar naik sepeda. Terutama di Belanda, Negara dengan jumlah pesepeda terpadat di dunia, sepeda adalah kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Bukan berarti transportasi massal di Eropa itu separah Jakarta, namun sepeda memang sudah menjadi gaya hidup masyarakat Eropa.

 

Lalu bagaimana bisa disamakan, ketika aku berjanji tak akan lupa dengan setting musim gugur, dimana daun-daun melayang diterpa angin dan udara sejuk ditemani sinar matahari seadanya. Bersepeda adalah kemewahan tiada tara. Mungkin hanya sebanding dengan eksotisnya pantai pasir putih di Indonesia.

 

Beban kuliah,

Eropa menamakan system kreditnya dengan satu sebutan yang berlaku di seluruh Negara yang meratifikasinya, ECTS. Sering kali ECTS idientik dengan beban membaca dan memahami jurnal yang kadang tingkat nilai bahasanya keterlaluan, menguras otak dan kesabaran.

 

ECTS juga sebagai angka penentu jangka waktu kita mendapatkan gelar, misalnya di Belanda dengan 60 ECTS saja sudah berhak mendapatkan gelar M.Sc namun Jerman mengharuskan angka dua kali lipatnya. Bedanya? Kuliah di Belanda lebih padat dan bebannya lebih berat. Well, itu pengalaman pribadi sih.

 

Jadi, tak akan pernah sama kondisinya, aku pernah terduduk lemas di atas kasur sebantar dan membayangkan nasi padang. Ya, menyedihkan memang. Saat itu, sehabis kelas dilanjutkan diskusi untuk tugas kelompok aku pulang mengayuh sepeda di suhu hampir tak berangka dan hujan gerimis yang menyebalkan. Kedinginan, capek fisik dan fikiran, serta berada di titik jenuh perkuliahan.

 

Tapi, aku masih harus memikirkan mau makan apa malam itu. Aku mengalah dengan waktu dan kemampuan memasakku yang ada di level memprihatinkan. Akhirnya aku parkir sepeda di Aldi untuk membeli beberapa kerat roti dan pizza. Ya, cuma itu menu andalan, tinggal buka bungkus dan panggang di oven. Kunyah dan telan saja rasa yang aneh itu sebagai pengganti nasi padang.

 

Ibadah,

Sebelum berangkat, Ibu berpesan tegas sekali, jangan pernah tinggalkan Shalat. Ya, tak mudah memang mendirikan Shalat di tengah kehidupan liberal beragama di Eropa. Tapi justru itulah tantangannya. Tak beberapa lama ketika aku baru tiba di Eropa kami memasuki bulan puasa.

 

Ramadhan edisi pertamaku di Eropa berjalan cukup sukses dengan hanya satu hari terpaksa aku batalkan. Ketika itu flu dan batuk disempurnakan oleh demam akibat (mungkin) badan masih perlu waktu menyesuaikan perubahan suhu. Sehabis kelas aku muntah, habis muntah aku lihat jam dan masih 12 jam lagi sebelum berbuka. Bismillah saja, aku membatalkan puasa hari itu. Tak akan pernah Indonesia memiliki durasi puasa sekitar 18 jam lamanya.

 

Pengalaman mendirikan Shalat lain cerita, jangan harap menemukan kemudahan beribadah di kampus-kampus Eropa. Tak akan pernah sama jika bandingannya adalah kampus-kampus Indonesia. Kerap kali aku mencari-cari ruangan kosong dan mengecek kompas digital di HP untuk menemukan posisi kiblat, atau sesekali mengambil posisi di bawah tangga.

 

Yang paling tak bisa kulupa adalah ketika belajar untuk ujian semester pertama, aku “bertapa” di perpustakaan hingga larut malam. Ketika itu, padahal aku sudah mencari rak-rak buku lantai paling atas, tempat kitab-kitab besar yang bertulisakan entah apa didalamnya. Aku yakin, tidak ada orang yang iseng akan berkunjung ke deretan rak tersebut. Mulai lah aku Shalat dan tiba-tiba ketika aku bangkit dari sujud seorang perempuan berteriak kaget dan lari kalang kabut. Shalatku memang batal, tapi aku berdo’a supaya perempuan itu mendapatkan hidayah-Nya.

 

Jalan-jalan,

Ini salah satu alasanku mengapa berani bermimpi kuliah di Eropa. Meskipun tak mudah melewati semua rangkaian akademik tiap-tiap semesternya, namun ketika liburan tiba semua beban itu resmi terbayar dengan pengalaman berkunjung ke tempat-tempat yang jauh, bertemu dengan orang-orang baru dan merangkai cerita-cerita yang tak bisa dibeli dengan harta.

 

Di titik itu aku semakin yakin dengan cerita Ibu tentang Alm. Kakek ku, bahwa orang berilmu lebih berbahagia daripada orang berharta. Mereka berbahagia karena pengalaman menuntut ilmunya yang membuka kesempatan-kesempatan tak terduga, seperti kesempatanku melihat dan menikmati beberapa kota di Eropa, dan sebentar lagi jika Allah mengijinkan dan melancarkannya cerita itu akan bertambah di salah satu pulau di Benua Afrika.

 

Menyadari apa yang baru saja aku tuliskan ini, aku jadi tau mengapa lulusan luar negeri tidak mau dan memang tidak bisa disamakan dengan lulusan dalam negeri. Bukan masalah gelar dan ilmunya saja, tapi juga pengalaman hidup yang membuat hal itu memang sama sekali berbeda.

 

Semoga bermanfaat ya!

 

Selwerd, Groningen, Kabisat 2012, 13.20 ECT

(Rifki Furqon,

Angkatan 2012 · Master of Science · Master of Environmental Infrastructure Planning)
best regards
inna