Penulis adalah Ferizal Ramli. Alumni Fakultas Ekonomi UPNVY, Jurusan Manajemen, Angkatan tahun 1990. Pernah bekerja di Singapura dan Malaysia serta mendapatkan bea siswa studi di Program M.C.Sc., FH Furtwangen. Selama studi di almamater UPNVY tercinta, penulis juga aktif di kegiatan kampus, berpartisipasi mendirikan KOPMA dan pernah menjadi Ketua Umum KOPMA UPNVY yang pertama periode 1994-1996. Saat ini Penulis berdomisili di Jerman.

 

Secara umum hampir semua universitas di Jerman berkualifikasi excellent. Standart kualitas pendidikan tinggi di Jerman sangat ketat sehingga kualitas antara universitas satu dengan lainnya relatif sama. Memang benar untuk beberapa universitas tertentu memiliki program yang sangat prestisius dan menjadi unggulan tetapi bukan berarti universitas yang bersangkutan lebih unggul (top rangking) dari universitas lain dalam segala bidang. Sebagai contoh: RWTH Aachen (tempat studi-nya Pak Habbibie) memiliki program unggulan pada bidang mekanika dan elektronika, tetapi untuk bidang Manajemen RWTH Aachen kalah populer dibandingkan FHTW Reutlingen. Begitu juga FH Furtwangen (berdasarkan majalah focus) merupakan universitas terbaik untuk bidang komputer dan TI, tetapi untuk bidang lainnya bisa jadi FH Furtwangen kalah populer dari universitas lain. Jadi, bagi anda yang berminat studi di Jerman memilih perguruan tinggi bukanlah suatu pertimbangan yang penting tetapi yang lebih perlu diperhatikan adalah memilih jurusan yang sesuai dengan prospek karir dan masa depan anda.

Sistem pendidikan di Jerman relatif berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia atau di negara-negara Anglo-Saxon (USA, UK dan Australia). Di Jerman ada 3 katagori perguruan tinggi:

  • Univerität dan Technische Universität (TU). Sistem pendidikan di universität relatif lebih berorientasi pada teori dan research. Prosentasi untuk pengajaran teori mencapai 80%-90% dari kurikulum mata pelajarannya.
  • Fachhochschule (FH) dalam Bahasa Inggris dikenal dengan University of Applied Science. Di universitas ini orientasi kurikulum antara teori dengan praktek relatif berimbang. Prosentase perbandingan antara teori dengan praktek sekitar 60% teori dan 40% praktek plus internship di perusahaan.
  • Berufsakademie (BA) dalam Bahasa Inggris di kenal dengan University of Cooperative Education. Universitas ini merupakan bentuk kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri (seperti KADIN-nya Jerman). Orientasinya sangat praktis yaitu 60% dari kurikulumnya adalah praktikum dan intership di perusahaan.

Nah, pada saat memilih perguruaan tinggi hendaknya perlu juga dipertimbangkan jenis perguruan tinggi mana yang sesuai dengan minat studi calon mahasiswa.

Untuk lebih jelasnya maka para calon mahasiswa disarankan untuk membuka website: http://www.hochshulkompass.de

PROGRAM INTERNATIONAL

Banyak para calon mahasiswa terpaksa mengurungkan niatnya untuk studi di Jerman karena terkendala dengan keharusan menguasai Bahasa Jerman. Kendala tersebut tampaknya saat ini lebih mudah diatasi bagi calon mahasiswa. Dalam 5 tahun terakhir ini perguruan tinggi di Jerman banyak yang melakukan inovasi dengan membuka program internasional khususnya untuk jenjang Master (S-2). Dalam program internasional tersebut perkuliahan dilakukan dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Biasanya pada semester awal perkuliahan menggunakan B.Inggris, baru di semester akhir menggunakan B.Jerman. Komposisi seperti ini akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya.

Tetapi tentu saja bahasa tetap merupakan persoalan serius jika ingin studi di perguruan tinggi luar negeri. Bukan merupakan rahasia umum bahwa kemampuan rata-rata Bahasa Inggris mahasiswa Indonesia relatif rendah. Bahkan secara bergurau seorang kolega yang menjadi Manager Personalia di Mitsubishi Heavy Industry pernah mengatakan bahwa kemampuan Bahasa Inggris Insinyur Indonesia tuh lebih rendah dibandingkan dengan Bahasa Inggris-nya TKW (pembantu) asal Filipina. Kita boleh saja tersinggung dengan pernyataan tersebut. Tetapi jika mau jujur ungkapan tersebut seratus persen benar adanya. Tingkat
kemampuan rata-rata Bahasa Inggris mahasiswa Indonesia relatif rendah. Bagi para calon mahasiswa yang ingin studi di luar negeri persoalan bahasa
merupakan kendala serius yang perlu diantisipasi sejak dini.

Persoalan bahasa akan sedikit bertambah rumit apabila ingin studi di Jerman. Selain persyaratan Bahasa Inggris yang excellent yang dinyatakan dengan TOEFL minimal 550, juga disyaratkan mempunyai sertifikat kursus B.Jerman untuk level dasar (Grunstuffe) dari Gothe Institut. Memang kualifikasi B.Jerman yang dituntut hanyalah tingkat dasar tetapi untuk lulus sertifikat tingkat dasar tetap dibutuhkan waktu belajar sekitar 6 bulan. Sebagai catatan untuk di Yogyakarta terdapat lembaga kursus yang bersertifikat Gothe Institut. Lembaga tersebut berlokasi di dekat Tugu dan didirikan oleh Persatuan Guru Bahasa Jerman.

KEUNTUNGAN STUDI DI JERMAN

Beberapa keuntungan penting studi di Jerman adalah sebagai berikut:

  • Kualifikasi tenaga pengajar yang tinggi. Pengalaman Penulis selama studi di FH Furtwangen menunjukan bahwa untuk Program Master of Computer Science in Software Business Consulting (M.C.Sc.) dibimbing oleh 15 orang Professor-Doktor yang rata-rata mereka memiliki pengalaman sebagai Consultant di berbagai perusahaan multinasional. Menjadi sangat menarik adalah Dosen Professornya sebanyak 15 orang sementara mahasiswanya ‘hanya’ 30 orang. Tentu saja dengan rasio seperti ini kualitas akademiknya sangat terjamin.
  • Fasilitas yang lengkap dan modern. Mahasiswa dapat mengakses fasilitas perpustakaan secara ‘on line’ dengan buku, jurnal, majalah yang sangat lengkap baik dalam bentuk ‘hard copy’ maupun CD Room. Selain itu mahasiswa juga memiliki akses internet bebas selama 24 jam per hari dan gratis.
  • Lingkage Industri. Dukungan industri terhadap perguruan tinggi sangat besar. Pada kasus FH Furtwangen misalnya, di semester 3 seluruh mahasiswa program M.C.Sc. akan kerja praktek di perusahaan selama 6 bulan. Selama kerja praktek tersebut para mahasiswa akan mendapatkan gaji dan seluruh biaya hidupnya dijamin oleh perusahaan. Dan tentu saja bagi mahasiswa yang cemerlang ‘tidak akan pernah lagi’ datang ke kampusnya kecuali hanya untuk pendadaran thesis, karena mereka sudah secara otomatis dipromosikan menjadi karyawan tetap perusahaan dimana mahasiswa yang bersangkutan kerja praktek.
  • Biaya kuliah yang sampai saat ini gratis atau relatif rendah.
  • Adanya program internasional sehingga memudahkan untuk menyelesaikan studi sekaligus menguasai B.Jerman.

BIAYA KULIAH (TUITION FEE)

Hampir semua perguruan tinggi di Jerman membebaskan kewajibanya mahasiswanya dalam membayar uang kuliah. Tetapi tentu saja ada program-program tertentu yang menetapkan biaya kuliah biasanya Program MBA (Master of Business Adminitration). Untuk Program MBA bea kuliahnya berkisar antara Euro 4,000 s.d Euro 20,000 tergantung dari kebijakan masing-masing perguruan tinggi yang bersangkutan, meskipun tetap ada yang menyelenggarakan MBA gratis seperti di FH Pforzheim atau FH Ingolstadt.

Hanya saja kebijakan untuk kuliah gratis di Program Internasional bisa saja suatu hari akan berubah. Dari tahun ke tahun peminat calon mahasiswa untuk studi di program internasional semakin meningkat. Jadi, dimungkinkan jika suatu ketika perguruan tinggi di Jerman akan menerapkan biaya kuliah bagi mahasiswanya khususnya untuk program internasional. Sebagai contoh di FH Furtwangen hingga tahun 2002 ini perkuliahnya gratis, tetapi mulai tahun ajaran 2003 akan menetapkan biaya kuliah untuk Program Master of Computer Science (M.C.Sc.) in Software Business Consulting sekitar Euro 4,500. Memang biaya kuliah tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan universitas di USA, UK atau Australia. Jika di-kurs dalam rupiah ‘paling hanya’ Rp 40 juta-an. Hampir sama dengan biaya kuliah di MM UGM atau dua kali lebih mahal dari biaya kuliah di MM UPNVY. Tetapi jika dibandingkan dengan biaya kuliah di UK (Inggris) yang rata-rata berkisar diatas Rp 150 juta-an untuk program umum dan Rp 200 juta-an untuk program MBA, maka biaya kuliah di Jerman tetap relatif murah. Meskipun begitu, tetap saja terbuka peluang bagi kita untuk dapat mendaftar di perguruan tinggi yang menerapkan kuliahnya gratis tanpa biaya kuliah.

Ketentuan biaya kuliah tersebut diatas sama sekali tidak berlaku untuk program Master yang seratus persen menggunakan B.Jerman. Seluruh program master yang diselenggarakan dalam B.Jerman (bukan program internasional), biaya studinya gratis. Ketentuannya adalah dibutuhkan lulus test sertifikat B.Jerman dari Gothe Institut untuk level intermediate, ZMP (Zentrale Mittelstufenprüfung)Level.

Persyaratan untuk Mendaftar di Perguruan Tinggi Jerman

Ada beberapa persyaratan administrasi untuk mendaftar studi di Jerman pada Program Internasional. Beberapa persyaratan penting yang
perlu dipersiapkan adalah:

  • Foto kopi legalisir Ijasah S-1 dalam B.Inggris atau B.Jerman.
  • Foto kopi legalisir Transkrip Nilai dalam B.Inggris atau B.Jerman
  • TOEFL B.Inggris 550
  • Sertifikat B.Jerman minimal level Grundstuffe
  • Dua surat rekomendasi dari Dosen tempat mahasiswa menyelesaikan studi S-1 dalam hal ini dosen UPNVY.
  • Surat pengalaman kerja minimal 2 tahun.

Khusus untuk surat rekomendasi dari dosen disarankan untuk mendapatkan rekomendasi dari dosen yang memiliki kualifikasi akademik minimal Doktor (S-3) dan akan lebih baik lagi Professor. Sebagai catatan hampir seluruh dosen di Jerman mempunyai kualifikasi Professor-Doktor, sehingga apabila calon mahasiswa hanya direkomendasikan oleh dosen yang berkualifikasi S-2 maka nilai rekomendasi tersebut akan minimalis. Rekomendasi dari dosen yang berkualifikasi S-2 tetap punya nilai strategis apabila dosen yang bersangkutan memiliki jabatan struktural penting di lingkungan universitas atau fakultas.

BEASISWA

Dimungkinkan bagi calon mahasiswa untuk mendaftar bea siswa DAAD.Persayaratan penting untuk mendapatkan bea siswa DAAD adalah Dosen atau Pegawai Negeri Sipil. DAAD memang memberikan bea siswa untuk umum tetapi proporsi bea siswa untuk umum tersebut jumlahnya sangat terbatas. Untuk di Indonesia kantor DAAD beralamatkan di Gedung Summitmas II, Jl. Sudirman, Jakarta. Hanya untuk catatan penting tidak mudah untuk mendapatkan bea siswa dari DAAD.

Kesempatan mendapatkan bea siswa akan besar jika mahasiswa sudah berada di Jerman. Banyak lembaga non profit atau yayasan yang bersedia memberikan bea siswa. Syaratnya adalah nilai semester yang baik. Dengan demikian ‘apply’ bea siswa di Jerman baru dimungkinkan apabila kita telah studi minimal selama satu semester.

BIAYA HIDUP (LIVING COST), KERJA DAN ‘FREE FALL’

Biaya hidup di Jerman relatif bervariasi. Untuk biaya hidup di kota besar relatif lebih mahal dari pada biaya hidup di kota kecil. Sebagai gambaran biaya hidup di kota besar berkisar antara Euro 600 s.d Euro 800 per bulan. Sedangkan biaya hidup di kota kecil berkisar antara Euro 450 – Euro 600. Perbedaan biaya hidup antarra kota besar dan kota kecil memang relatif ‘significant’. Tetapi keuntungan studi di kota besar adalah dimungkinkan untuk medapatkan kerja part time yang pendapatannya relatif lumayan besarnya.

Kemungkinan kerja sambil kuliah merupakan alternatif yang menarik.Sebagaimana kita ketahui bersama, sangat sulit sekali bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan bea siswa di Indonesia. Untuk itu banyak mahasiswa yang mengambil alternatif kuliah sambil kerja mengingat sistem imigrasi di Jerman memungkin untuk itu. Pada banyak kasus para rekan mahasiswa dari India atau Cina banyak yang datang untuk studi di Jerman dengan uang saku sangat ‘pas-pasan’ bahkan hanya cukup untuk biaya hidup 3 bulan. Modal mereka hanya tekad dan nekad. Pola seperti ini biasanya disebut dengan ‘free fall’ (terjun bebas) berjuang sampai ‘titik darah penghabisan’ di negeri orang. Mereka siap hidup prihatin dan ‘strugle’ dengan kuliah sambil kerja, syukur-syukur mendapatkan bea siswa.

Pola ‘free fall’ ini akan lebih mudah diterapkan jika mahasiswa tinggal di kota besar karena mudah untuk mendapatkan pekerjaan part time. Banyak diantaranya yang sukses dengan pola ‘free fall’ meskipun tetap ada saja yang gagal. Terlepas dari beratnya tantangan yang mesti diatasi, pola ‘free fall’ tetap merupakan alternatif yang menarik bagi calon mahasiswa yang memiliki tingkat ‘adrenalin’ dan confident yang tinggi tetapi kemampuan financial resources-nya terbatas. Moral point yang penting dalam hal ini mengapa pola ‘free fall’ tidak dicoba ? Toh banyak sekali mahasiswa yang sukses dengan pola free fall.

Jangan pikirkan pengorbanan dan tantangan yang mesti akan dihadapi, tetapi fokuskan pikiran tentang masa depan gemilang yang siap menyabut dikemudian hari dengan penuh senyum tentu saja….