Sungguh banyak kisah akhir kehidupan seseorang yang telah kita peroleh. Tak terhitung pelajaran sangat berharga yang kita rasakan dari mereka. Bagaimana keadaan mereka tatkala meninggal dunia? Bagaimana mereka mengakhiri hidupnya? Apa yang ia lakukan dalam detik-detik akhir usianya? Lalu, yang tidak kalah pentingnya, bagaimana perkataan orang-orang yang mengenalnya tentang dirinya?

 

Ada orang-orang yang hembusan akhir nafasnya menyebutkan harta kekayaannya, menyebutkan orang yang dicintainya, menyebutkan dosa-dosanya, bahkan menyanyikan lagu-lagu orang yang berbuat banyak dosa. Namun ada pula orang-orang yang mengisi waktu akhir hidupnya dengan kalimat tauhid, ayat-ayat al-Qur’an, do’a, istighfar dan dzikir.

 

 

Renungkanlah apa yang kita lakukan saat menjelang kehidupan kita berakhir? Apa kalimat-kalimat terakhir yang kita ucapkan ketika kita harus menyudahi semua kesempatan untuk beramal shalih dalam hidup ini? Bagaimana perkataan orang-orang yang kita kenal tentang kita, setelah kita mati?

 

Dengarkanlah sabda Rasulullah SAW, ”Malaikat datang kepada orang yang akan meninggal. Jika orang itu adalah orang shalih maka Malaikat akan berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang baik yang berada dalam jasad yang baik. Bergembiralah dengan rouh dan roihan, serta Rabb yang tidak marah.” Malaikat terus akan mengatakan hal itu sampai ruh orang tersebut keluar kemudian naik ke langit dan langit pun terbuka untuknya. Dikatakan, “Siapa ini?” Mereka mengatakan, “Fulan”. Lalu dikatakan, “Selamat datang bagi jiwa yang baik yang ada dalam jasad yang baik. Masuklah dengan penuh pujian. Bergembiralah dengan rouh dan roihan serta Rabb yang tidak marah. Kata-kata itu terus dikatakan sampai ruh tersebut bertemu Allah SWT.”

 

 

Jika akhir hidup kita itu tiba, yang tak pernah kita ketahui kapan datangnya, ketika itulah kesempatan beramal sudah tertutup. Tak pernah ada lagi pilihan bagi kita, apakah kita akan beramal taat atau melakukan dosa. Tak pernah ada lagi waktu kita untuk melakukan amal shalih atau keburukan. Tak pernah ada lagi suasana kita giat atau malas melakukan ibadah. Semuanya sudah selesai. Tak peduli sedikit persiapan apa yang sudah kita pupuk. Tak peduli sedikit apa amal yang sudah kita lakukan. Dan sejak itulah kita akan melewati fase kehidupan lain dalam kehidupan yang sesungguhnya. Fase hidup yang gelap dan di saat itulah, hanya amal-amal yang akan menerangi jalan.

 

 

Semoga saja kita mempunyai cukup waktu dan kesempatan. Banyak hal yang bisa kita lakukan, selagi masih ada kesempatan. Mari isi semua kesempatan yang masih kita miliki dengan menunaikan semua keadaan yang bisa meraih cinta Allah SWT. Mari bentangkan semua kesempatan hidup untuk melakukan sesuatu yang bisa menolong dalam fase kehidupan abadi di akhirat. Jangan biarkan ada waktu tersisa. Jangan biarkan ada anggota tubuh yang tersia-sia.

 

Setiap anggota tubuh harus ditunaikan zakatnya kepada Allah SWT. Zakatnya hati adalah tafakkur akan keagungan Allah SWT, kebijaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya. Zakatnya mata adalah melihat dengan mengambil ibrah dari yang dilihat dan menghindari dari yang diharamkan. Zakatnya telinga adalah mendengarkan pada sesuatu yang menjamin keselamatanmu dari api neraka. Zakatnya lisan adalah berbicaradengan sesuatu yang mendekatkanmu pada Allah SWT. Zakatnya tangan adalah menahannya dari keburukan dan mengarahkannya pada kebaikan. Zakatnya kaki adalah berusaha melakukan apa yang baik bagi hatimu dan keselamatan agamamu.” (imam Ghazali, Ihya Ulumuddin).

 

 

Cobalah perhatikan lebih seksama salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah SAW berikut ini. “Ya Allah, rahmat-Mu lah yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri, sekejap mata pun. Perbaikilah semua keadaanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Daud/4426)

 

Tampak jelas sekali bagaimana Rasulullah SAW, figur dan guru paling baik untuk kita dalam kebersihan dan kesucian jiwa itu, memohon dengan segala kesunguhan. Ia bermunajat dengan potongan-potongan kata yang begitu merajuk memohon kasih sayang Allah SWT. Rasul yang ma’shum itu, meminta, agar Allah tidak membiarkannya hanyut terbawa oleh keinginan nafsu. Meski hanya sekejap mata..

 

 

Penegasan kata ‘sekejap mata’ dalam do’a Rasul itu menandakan bahwa hidup ini memang seharusnya tak boleh sedikitpun tergelincir dalam kedurhakaan. Hidup ini, satu detik pun tidak boleh jatuh pada kemurkaan-Nya. Tidak boleh sejenak pun terbawa dalam arus kemaksiatan. Kita sangat memerlukan bantuan Allah SWT di sini. Seperti yang diungkapkan bait-bait do’a Rasulullah yang lain, “Wahai Yang Membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu.”  (HR. Abu Daud).

 

 

Begitu panjang rentang waktu yang harus kita lewati dalam hidup ini. Melangkahkan kaki, satu langkah demi satu langkah. Menata dan menyusun amal-amal dari waktu ke waktu. Melihat ke belakang, berapa jauh jarak yang telah ditinggalkan. Lalu melihat ke depan, jarak yang tak bisa diterka seberapa jauh dan panjangnya. Sejauh dan sepanjang itulah kewaspadaan kita untuk tidak cenderung pada bisikan yang mengajak pada kemaksiatan. Sejauh dan sepanjang itulah kita harus senantiasa memohon dan menghiba kepada Allah SWT agar benar-benar memelihara dan melindungi kita dari kesesatan yang membawa kesengsaraan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kasih sayang Allah…

 

 

Nafsu keburukan itu tak pernah mati. Setiap kita berhasil mematahkannya, maka ia akan muncul kembali dalam bentuk yang lain. Begitulah. Tuntutan nafsu manusia akan terus merengek pada manusia untuk dipenuhi. Ia bisa saja dipatahkan, tapi akarnya akan tetap ada dan suatu saat akan tumbuh dan hidup kembali dalam bentuknya yang berbeda.

 

 

Kuraslah semua potensi terpendam dalam diri kita untuk kebenaran. Habiskanlah waktu yang kita miliki untuk mempersembahkan amal-amal shalih yang banyak itu. Karena, pasti, jika kebenaran menghabiskan potensi terpendam dalam diri kita, maka kebathilan tak akan mendapat tempat untuk menggunakan potensi itu. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “idzaa lam tusyghil nafsaka bil haqq, syaghalatka bil bathil.” (Jika engkau tak menyibukkan diri dengan kebenaran, mmaka dirimu akan disibukkan dengan yang bathil).

 

 

Kita memang tidak boleh bermain-main dengan waktu. Karena, “Waktu bagai pedang yang sangat tajam. Jika kita tidak mampu mengendalikannya, diri kitalah yang akan menjadi sasarannya.”

 

 

Terakhir, di sini. Mari menghitung, berapa banyak waktu-waktu yang kita lewati di jalan keta’atan? Berapa panjang jarak kesempatan hidup yang tak terisi dengan amal-amal shalih? “Sering terjadi pada umur panjang masanya,tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya, tapi panjang manfaatnya”  (Ibnu Athaillah, Al Hikam).

 

Saudaraku,

Ingatlah pula saat Rasulullah ditanya seorang sahabat. “Ya Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau mati dan lidahmu basah dalam dzikrullah…” (HR. Abu Daud).

 

Semoga Allah SWT memberi kenikmatan pada kita untuk meninggalkan dunia dalam keadaan dzikrullah. Menjadikan akhir batas usia kita dengan dzikrullah. Menuntaskan seluruh peran kita dalam hidup dengan dzikrullah. Mengakhiri seluruh kesibukan dan pekerjaan kita di dunia dengan dzikrullah. Menutup semua ucapan lisan kita dalam keadaan basah oleh dzikrullah…

 

Dzikrullah, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah adalah bukti kecintaan hati seorang hamba kepada Allah. “Jika hati tidak diisi dengan cinta Allah SWT maka ia pasti diisi oleh cinta kepada makhluk yang lain.” Bila kita bertanya pada diri sendiri, “Cintakah kita kepada Allah SWT?” Jawabnya adalah dengan mengukur sebatas apa dzikrullah yang kita lakukan.

 

Saudaraku,

Marilah kita menabung untuk akhirat yang pasti, sebelum segalanya berakhir. Berdo’alah selalu agar Allah tak melepaskan kita tanpa perlindungan-Nya, meski hanya sekejap mata.

 

 

Disarikan dari majalah Tarbawi edisi 45/Okt-2002 dan edisi 98/Des-2004