Latest Entries »


Tembagapura, Mimika

Bismillah..

Melanjutkan postingan sebelumnya perjalanan saya selama di papua ngapain aja, Tembagapura selanjutnya. Kecamatan Tembagapura adalah sebuah distrik setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Mimika, Papua. Di kecamatan ini terdapat dua gunung di mana terletak dua tambang besar, masing-masing tambang Ertsberg (tambang tembaga) di Gunung Erstberg dan tambang Grasberg di Gunung Grasberg yang merupakan tambang dengan cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Kedua tambang ini dioperasikan oleh PT. Freeport Indonesia. Kami bertiga sengaja berangkat dari kuala kencana ke tembagapura pagi-pagi dengan mobil freeport ke bandara mozes kilangin di timika, berharap naik coper menuju ke atas supaya lebih cepat sampai tapi alhasil cuaca tak mendukung, alternatif naik bis antri peluru. Yes! kapan lagi naik bis anti peluru :D Kami berangkat pukul 05.00 WIT waktu papua, menuju ke bandara bersama 2 orang panitia dan putranya salah satu panitia, Ryas namanya. Pukul 09.00 WIT kami baru berangkat, awal dibenak saya bis nya ber AC , ada Tv nya dan menyenangkan dan ternyata sebaliknya. Bis pengap, dan tidak bisa melihat keadaan di sekitar seperti apa, 2 jam perjalanan hanya mantengin HP buka google maps ga konek2 -_- dan paling menyedihkan saya duduk disebelah orang papua. Saya akan menggambarkan seperti apa orang disana, hanya adem panas badan saya selama di bis menanti “Kapan sampai” ga kuat dan ga tahan.

1Jalan sekitaran rumah, bersih tanpa sampah

2Adik2 di papua yg sedang mendengarkan pengajian34568Foto2 yang belum saya upload di Kuala kencana :D

Tiba di tembagapura disambut oleh beberapa panitia, yang ternyata masih harus naik2 lagi ke atas sekitar 10 menit menuju tempat tujuan.

11 2123242526272829

Tempat yang membuat betah untuk tinggal tapi juga sport jantung setiap hari :D

47 46Perumahan Freeport

454441403937Bis anti Peluru

36353120201314


Bismillah..

Lama nian saya tak menulis di blog ini, belum sebulan tapi serasa setahun :D Masalah kian berganti hadir silih berganti yang lalu belum usai yang baru ada lagi, ya inilah hidup. Tanpa masalah hidup ini tak berwarna putih polos kain tanpa noda, karena masalah kita belajar KUAT dan SABAR menghadapi apapun. Kalau orang-orang yang selalu saya temui akhir akhir ini selalu bilang saya selalu menebar senyum ke mereka tanpa ada beban dan masalah, padahal tidak. Justru masalah saya itu banyak *ceileh :D apalagi masalah komunitas PB yang belum usai *eh :)) tetapi semua ini banyak pelajaran yang saya dapat dan pembelajaran berharga. Saya jadi tahu mana sahabat-sahabat yang sesungguhnya, makna kepercayaan dan kejujuran dalam hal apapun, dan banyak yang benar benar membuat mata hati saya terbuka lebar. Di tulisan saya utk edisi bulan mei ini saya bukan mau cerita tentang masalah, tapi perjalanan dakwah saya ke papua. Iya, PAPUA yang selalu dulu sebelum saya kesana hanya ada yang ada didalam benak adalah orang orang berkulit hitam semua dengan pemikiran yang belum mau maju, itu pikir saya sebelum datang melihat langsung ke lapangan.

Berawal berangkat dari bandara soekarno hatta cengkareng pukul 17:00 WIB dengan pesawat AIRFAST menuju bandara mozes kilangin international airport. Karena pesawat terbang pukul 20:45 WIB , perjalanan jakarta – papua ditempuh selama 6 jam. Luar biasa pegel nya, tapi kalau niat awal ibadah insyaAllah tak terasa semua indah dan lillahi ta’ala.

11Pemandangan dari atas pesawat

12 13Tiba di bandara pukul 06:30 WIT

Tiba di bandara mozes kilangin tepat pukul 06:30 WIT jam papua, kami langsung menuju ke wisma HMM yang sudah disediakan oleh panitia. Sepanjang perjalanan menuju wisma di dalam batin saya hanya mengucap atas kekaguman bumi Allah yang indah ini. Menuju ke wisma HMM di kuala kencana tempat tinggal kebanyakan orang orang yang bekerja di freeport. Luar biasa peraturan nya, tak nampak ada kemacetan sedikitpun, tak ada lampu merah, tak ada polisi di jalan sepanjang perjalanan ke kuala kencana. Ketika di jalan pun benar benar rapi dan teratur mobil ga ada yang saling mendahului, kecepatan pun sudah di atur jika melebihi aturan bisa kena dena 400-1,2 juta, saluran air pun di jalan bersih tidak ada genangan air untuk sarang nyamuk, jalan masuk dari datang sampai tujuan tidak ada sampah kecuali hanya pohon pohon rindang nan indah yang ada, ini namanya surga dunia…

14

Kuala Kencana 15

16 17 18

Perjalanan hari pertama di kuala kencana ….

Bersambung…. (Lanjut besok saudara2, ada kendala)

 

 

 

 

 

Wanita, Perhiasan Dunia


Bismillah.. Pagi ini di IC, mencari inspirasi baru dengan mbak rindu.

 

Reblog dari Catatan pak Herry Cahyadi, thanks to remind me!  mari kita simak tulisan indah ini sebagai pengingat para Lelaki dan sebagai pembelajaran untuk kita para calon istri dan istri :)

Seringkali saya cukup jengah membaca beberapa artikel yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan saya merasa hal itu sangat keterlaluan. Laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan adalah level ketaqwaannya. 

Namun, dalam teorinya, selalu ada penafsiran yang keliru dan cenderung fallacy(sesat pikir). Bisa jadi hal ini berkembang karena pengaruh tradisi lokal yang cukup kuat. Misalnya, kebudayaan di Asia belum tentu sama dengan di Eropa. Di Asia, tradisi bisa jadi jauh lebih kuat ketimbang penerapan agama. Di Indonesia pun satu daerah belum tentu sama dengan daerah lain. Terkadang pengaruh ini tercampur dengan penerapan agama yang parsial.

Sebagai contoh artikel berikutPengorbanan Istri Yang Sering Tidak Disadari Suami Di dalamnya berisi tujuh poin “pengorbanan” istri terhadap suami. Mengapa saya gunakan tanda petik dua (“), sebab menurut saya apa yang ditulis bukanlah pengorbanan, namun kekeliruan pemahaman. Saya yakin ini kasuistik (hanya dialami oleh penulis atau terlokalisasi di sekitar penulis artikel tersebut). Yang jelas, hati kecil saya berontak dan tidak menerima jika perempuan direndahkan dengan pemahaman keliru. Harus ada yang dikoreksi dari bagaimana cara berpikir sebagian orang mengenai posisi perempuan—terutama ketika dipandang sebagai seorang istri. Berikut komentar saya:

1. “Ketika suami menikah lagi dan perempuan berusaha menerima (karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), ia akan duduk sendiri di setiap malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan sabar.”

O please, jangan jadikan seolah perempuan harus menerima itu semua. Perempuan berhak menolak. Bahkan, sebelum pernikahan perempuan punya hak untuk meminta calon suaminya untuk tidak melakukan hal itu. Saya pribadi suka sekali dengan keberanian Ana dalam Ketika Cinta Bertasbih, ketika meminta calon suaminya untuk tidak menikah lagi selagi dia masih hidup. Ana bilang, “Saya tidak mengharamkan poligami. Tapi saya tidak suka. Sama halnya seperti petai. Saya tidak suka petai, tapi bukan berarti saya bisa mengharamkan petai. Saya tidak makan petai.” Menerima laki-laki yang akan melakukan poligami, sedangkan si perempuan tidak suka, lalu “terpaksa” menerimanya, bagi saya, adalah kebodohan. Pastikan calon suamimu tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, terpikirkan pun tidak. Dan, suami terbaik adalah ia yang tidak pernah membiarkan istrinya menangis, apalagi karena suaminya.

2. “Sebagai istri ia siap mengorbankan impian-impianny­a demi mengurus suami (yang kadang bersifat kekanak-kanakan­ dan minta diurus) dan anak-anak yang bandel.”

Saya cuma mau bilang: lelaki macam apa itu? Tega mengubur impian-impian istri demi mengurusi dirinya? Apalagi jika yang dimaksud “mengurus suami” itu sebagai “melakukan pekerjaan pembantu” (tolong bedakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dengan pekerjaan pembantu rumah tangga). Bagi saya, setiap orang punya hak untuk bermimpi dan mengejar impiannya masing-masing. Pasangan yang baik adalah mereka yang bahu-membahu membantu suami atau istrinya mencapai impiannya. Bukankah seharusnya begitu? Bukankah letak keindahannya di situ? Suami mengurangi beban dan ikut merasakan kepayahan istri dalam mengejar cita-citanya. Begitu pula sang istri kepada suaminya. Sehingga mereka berjaya bersama atau hancur bersama.

3. “Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.”

Astaghfirullah! Ketahuilah, sepanjang hidup Rasulullah, beliau tidak pernah sekalipun mencela masakan yang dibuat istrinya. Kalau menggunakan ukuran agama. Pertama, dilarang keras mencela makanan. Kedua, wajib hukumnya berakhlak baik kepada istri (dalam hal apapun). Mencela makanan yang dibuat istri sudah menyalahi kedua syarat akhlak tersebut. Itu baru dua, masih banyak yang lainnya. Jadi, sebelum menyebutkan “kesabaran atau pengorbanan” istri terhadap celaan suaminya, suaminya telah salah duluan. Dan, suami macam apa yang mencela masakan istrinya?

4. “Ia bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.”

Oh stop, please! Istri bukanlah pembantu! Baca lagi Istri bukan pembantu

5. “Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang istri adalah: tukang masak, tukang cuci, cleaning service, babu dan penghibur suaminya digabung jadi satu.”

Na’udzubillah! Ini kesesatan berpikir yang sangat nyata. Di manakah letak kemuliaannya? Bukankah ini bentuk perendahan sejadi-jadinya? Istri jadi seperti babu dan penghibur itu disebut mulia? Astaghfirullah. Saya benar-benar berlindung dari cara pikir seperti ini. Ini kesesatan berpikir yang fatal. Ingin saya rudal rasanya orang yang berpikir seperti ini.

6. “Ketika suaminya menginginkan punya anak 4, 5, 6 atau 9 orang, ia sebagai istri harus siap menderita mengandung anak dan bertarung nyawa melahirkannya.” 

Di poin ini letak semulia-mulianya perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mendapatkan kehormatan ini. Mengandung dan melahirkan adalah proses paling menakjubkan di dunia. Tetapi, perlu dicatat, istri pun berhak untuk mengendalikan kelahiran. Suami pun harus tahu diri tentang hal ini.

Inilah mengapa kewajiban mencari nafkah lahir dan bathin adalah sepenuhnya kewajiban suami. Bisa jadi sebagai pengganti—meski tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan mengandung dan melahirkan—kesakitan sang istri. Dan, perlu diketahui pula bahwa dalam mencari nafkah suami pun harus banting tulang.

7. “Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga.”

Laki-laki memang tidak akan pernah paham bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan seperti poin sebelumnya. Tetapi bukan berarti laki-laki tidak mendapatkan kewajiban pengorbanan yang sama. Dan, ini tidaklah sama dengan menjadikan istri sebagai subordinasi dari laki-laki. Melahirkan adalah sebentuk jihad bagi perempuan.

Tak Habis Pikir

Saya tidak habis pikir mengapa pekerjaan dapur-sumur-kasur itu disematkan sebagai pekerjaan wajib istri. Sehingga mengepel, menyuci, menyetrika, dsb dianggap domain perempuan. Saya meyakini ini adalah produk budaya lokal yang terasimilasi dengan penerapan agama. Ditambah banyak penafsiran terhadap hak dan kewajiban suami-istri yang dipahami parsial, jadilah tradisi subordinasi perempuan terus lestari. Perpaduan antara dominasi laki-laki sebagai budaya lokal dan penafsiran terhadap teks yang terlalu maskulin.

Jika ada perempuan yang menjalani itu semua dengan penuh keikhlasan tanpa tekanan, tradisi budaya, atau pemahaman parsial agama, bagi saya itu bagus sekali. Mungkin banyak alasan yang bisa diberikan. Namun, jika itu semua dilakukan dengan keterpaksaan budaya—tanpa diketahui hakikatnya, maka itulah yang keliru. Lebih keliru jika kesalahan berpikir itu terus dikampanyekan seolah istri-istri akan mulia dengan melakukan pekerjaan pembantu atau seperti poin-poin di atas. Keikhlasan karena kesadaran jauh lebih baik dari keikhlasan karena keterpaksaan.

Jika “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah,” maka lelaki shalih tentu akan menjaga perhiasan itu dengan jiwa raganya, merawatnya dengan teliti dan hati-hati, dan menyimpannya di tempat terbaik. Tidak masuk di akal jika perhiasan itu ia gunakan untuk memukul paku, mengganjal pintu, gantungan baju, atau digunakan untuk pekerjaan kasar, kotor, lagi menggerus keindahan perhiasan tersebut. Bukankah begitu?

Itu yang saya pahami secara sederhana dari perhiasan—dengan makna sesungguhnya. Bagaimana jika “perhiasan” yang dimaksud adalah manusia? Tentu akan jauh istimewa perlakuannya, bukan?”

Dua kali saya membaca artikel diatas dan dua kali pula saya menitikan airmata, saya jadi ingat kalimat ustadz Maulana “Perempuan adalah satu satunya manusia yang rela perutnya dirobek demi kehidupan anak anak suaminya” 

Subhanallah, jaga diri kita ya ukhti untuk jadi perhiasan terindah, I love you …

#menyeka airmata

FKIC – KKO


Bismillah…

KKO

ina

IC

TIM FKIC

l

KKO Bandung


Orang yang membencimu justru orang yang sangat perhatian padamu, tapi dengan cara yang salah.
Biarkan dia membicarakan keburukanmu pada orang lain, toh tak akan membuat dia terlihat hebat. Justru sebaliknya.
Jadi, balaslah dia bukan dengan amarah tapi dengan senyumanmu. :)

Kalimat obrolan dengan seseorang di organisasi yang baru saya ikuti. Sebut saja mas R, saya selalu terkagum kagum dengan apa yang selalu beliau sampaikan. Mulai dari A sampai Z , sekilas kalau dilihat pemalu tapi ilmu agama nya luas sekali. Mengikuti kajian online setiap malam via BBM yang saya ikuti sekarang benar-benar membuat saya menemukan sesuatu yang berbeda dan baru. Allah sayang, Allah Adil selalu menunjukkan jalan kebaikan kepada orang-orang yang mau berusaha lebih baik. Ada kalimat yang pernah saya dengar “Jangan berubah hanya karena ingin dicinta. Jadi dirimu sendiri, dan biarkan seseorang yg tepat menemukan & mencintaimu apa adanya.” Kalau semua orang harus mengerti dan mendukung, kita takkan pernah tau arti memperjuangkan :) Nah disini saya belajar banyak hal, meskipun kajian ini via online dan pertemuan sekali dalam sebulan buat saya lebih efektif. Saya bahagia bersama mereka.

@ JIH

KPK Ni'matul UlumBerhenti menyesali masa lalu, karena itu telah berlalu. Yang terpenting adalah saat ini, jangan sampai kesalahan yg sama terulang kembali. Masa lalu biarlah berlalu…. ^^

Ya Allah, jika karena lisanku ada yang tersakiti, maafkan aku. Dan buka pintu maaf dihati mereka untukku.

 

Salam Cinta :) :) :)

 


Bismillah…

Banyak yang mencari keteduhan bagi jiwanya,

yang dianggapnya begitu,

untuk kemudian ada kata-kata belahan jiwa,

yang terpisah darinya,

menjadikan angan-angan terpatri begitu,

yang sepertinya patut dicari dan diperjuangkan bagai nyata. 

 

Kalaupun kita dapat bertanya, “hendak kemanakah kita ini ? atas semua yang terjadi pada diri ini ?”

dan apabila kita dapat menjawab, sudah tentu dengan mantap kita akan menjawab, “Allah !”

 

Jika memang itu tujuan kita maka segala sesuatu yang terjadi pada kita, yang dihadapi dengan semua rasa dan fikiran itu, adalah bersifat bathil dan akan lenyap pada waktu Nya, berganti-gantian bagai malam dan siang, sebagaimana itu tidak ada pada awalnya maka secepat itu pula dapat menjadi tidak ada pada waktu Nya.

 

Sesungguhnya Allah ta’ala akan terus menguji kita, dengan setiap pengakuan dan pernyataan kita sendiri kepada Nya,

dengan apa yang (menurut kita) baik maka belum tentu itu baik untuk kita. Begitu pula berlaku pada hal yang (menurut kita) buruk, seakan Dia berkata, “hadapkan wajahmu itu hanya kepada Ku !, apapun keadaanmu.”

 

Dia menguji kesungguhan kita dengan apa yang dinamakan cinta, seperti anak panah yang melesat dan menancap tepat di dada kita, dalam pada itu ada ketidak berdayaan dan penyerahan, kembali lagi kepada Nya, karena memang itu adalah milik dan ciptaan Nya dan hanya dari Nya sekaligus bagi Nya semata memang bukan untuk selain Nya.

 

Seberapa rela kah kita menukarkan sesuatu itu ?

yang bersifat kesementaraan dan penciptaan dengan keabadian mutlak Nya ?, seperti apa yang telah dikisahkan dan terjadi,pada junjungan kita Al Mustafa sang Sultan Makkah dan Madinah, tambatan cintanya Khadijah kembali pulang kepada Sang Penguasa Kerajaan Baqa dan Qurbah, kepedihan dan keperihannya, terpisahkan jarak yang tidak dapat dijangkau oleh akalnya, karena pengorbanan dan kerelaannya atas hal itu, Al Mustafa pun berjumpa dengan jarak sejengkal bersama dengan Dzat sumber atas semua cinta, dambaan serta tambatan keabadian, di atas seluruh kenikmatan Surga yang disediakan Nya, alam kedekatan Nya, kekasih sesungguhnya yang saling bertatapan.

 

Seberapa malunya kah kita yang terus berjuang ? hanya untuk sebuah kesementaraan, dan rela menukarkannya dengan keabadian Nya ? lihatlah dan tengoklah jiwa kita, bagai orang yang thowaf di sekeliling rumah Nya, ia dapat melihat dan mengira telah mendekat, ternyata dengan jarak kejauhannya sendiri.

 

Allahumma Ya Musabibal Asbab, Ya Muqalibal Qulub. Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin wa laa hawla wala quwwata illa billah..

 

…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

 

Barakallahufikum ….

 


Bismilllah…

Dua bulan sudah berlalu dengan berbagai kesibukan yang luar biasa, Allah menghadirkan sahabat-sahabat luar biasa yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Benar dalam sebuah kaliamat, bertemu dengan orang yang salah dulu sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Dan ini yang saya rasakan sekarang, orang-orang yang saya temui awal 2014 sampai detik ini pun luar biasa. Selalu ada warna dan kenyamanan ketika bersama mereka. Bahkan Ujian apapun yang bertubi-tubi jadi terasa ringan ketika ridha Nya nya yang di kejar :)

Ujian adalah guru yang tidak berbicara, tetapi ia sangat mengajar dan mendidik. Ujian terkecil apalagi terbesar adalah takdir Allah. Yang mempunyai maksud tertentu. Karena jahilnya kita, apabila ditimpa ujian sama ada secara langsung dari Allah atau melalui orang lain, kita mulai telatah. Terasa Allah tidak adil, sengaja hendak menyusahkan kita. Atau kita menyalahkan orang yang mendatangkan ujian tersebut. Hati berdendam hati buruk sangka pada Allah yang mendatangkan ujian itu. Allah Maha Pengasih; jauh sekali Allah takdirkan ujian hanya untuk menyusahkan hamba-Nya. Marilah kita sama-sama mengcungkil hikmah di sebalik ujian yang ditimpakan. Ujian sebenarnya melatih kita untuk mendapatkan sifat-sifat yang terpuji. sabar, ridha, tawakkal, baik sangka, mengakui diri sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri dengan Allah, mengharapkan pertolongan Allah, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya. Berasa diri berdosa adalah juga sifat terpuji. Sebab itu bagi orang yang sudah banyak melakukan dosa atau lalai daripada mengingati Allah, maka Allah datangkan ujian kesusahan kepadanya. Supaya hamba-Nya tadi tidak tenggelam dalam dosa dan noda. Kadangkala Allah dedahkan dosa yang dilakukan hingga ramai orang tahu. Bukan untuk menghinakan kita tetapi untuk memberi ingatan supaya kita bertaubat. Dan tidak meneruskan perbuatan dosa itu sehingga bila-bila Ujian juga bermaksud qisas (pembalasan) ke atas dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa mesti dihukum, sama di dunia atau di akhirat (kecuali kita telah bertaubat sungguh-sungguh sehingga Allah mengampunkan dosa itu).

Bagi orang yang Allah kasih, di dunia lagi Allah hukum, tidak di akhirat. Yakni dengan di datangkan kesusahan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kehilangan pengaruh dan sebagainya. Sekiranya kita boleh bersabar dan ridha, maka itulah ganjaran pahala untuk kita. Sebaliknya kalau kita tidak boleh bersabar dan tidak ridha, malah merungut-rungut, mengeluh dan memberontak, hanya akan menambahkan lagi dosa kita. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya, tidak mau hukum kita di akhirat, karena penderitaan di neraka berpuluh-puluh kali ganda lebih dahsyat daripada penderitaan di dunia. Sekiranya kita telah dihukum di dunia lagi, kita patut bersyukur kerana apabila kembali ke akhirat, kita telah bersih daripada dosa. Adakalanya, kita ditimpakan kesempitan hidup. Sengaja Allah takdirkan demikian kerana Allah sayang pada kita. Allah hendak melatih kita menjadi orang yang bersabar dan ridha dengan takdir-Nya. Mungkin kita akan sombong dan bakhil kalau dikurniakan harta melimpah ruah, maka Allah didik kita dengan kemiskinan.

 

Apabila kita diuji dengan kesakitan, Allah mau memberitahu kita bahwa begitulah susah dan menderitanya orang yang sedang sakit. Semoga kita menjadi orang yang bertimbang rasa; menziarahi dan membantu mereka yang menderita sakit. Orang yang sedang sakit, hatinya mudah terusik. Sesiapa saja yang datang dan memberi nasihat, InsyaAllah mudah diterimanya. Bagaimana pula kalau kita diuji dengan kematian orang yang paling kita sayangi. Ujian ini sangaja didatangkan agar terasalah kita ini lemah; tiada kuasa untuk menolak ketentuan Allah. Akan tertanamlah rasa kehambaan di dalam hati, sekaligus membuang rasa bangga diri. Begitulah, sebenarnya Allah mau kita sentiasa beringat-ingat. Agar dengan ujian itu, kita sebagai hamba akan datang untuk mengadu, mengharap, merintih belas ihsan, dan sentiasa merasakan hanya Allah tempat meminta segala-galanya. Ujian juga adalah untuk menilai sejauh mana keyakinan kita kepada Allah. Semakin diuji sepatutnya semakin bertambah iman kita, dan semakin hampir kita dengan Allah.

Firman Allah dalam surah Al Imran; 142 yang bermaksud:

     “Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang bersabar.” 

 

Firman Allah dalam Surah Az Zumar;10 yang maksudnya: 

     “Sesungguhnya diberi ganjaran orang sabar dengan pahala tanpa hisab.” 

 

Allah takdirkan ujian demi ujian untuk memberi peluang kepada kita mendapatkan pahala sabar. Barangsiapa yang sabar dan redha tanpa mengeluh, merungut atau syurga. Oleh itu, apa salahnya Allah uji kita karena hendak menyelamatkan kita di akhirat kelak! Berbeda pula halnya dengan ujian yang ditimpakan ke atas para Rasul, para nabi, wali-wali dan kekasih-kekasih Allah. Ujian ke atas mereka bermaksud untuk meninggikan darjat dan kedudukan mereka di sisi Allah. Sebab itu ujian yang mereka hadapi berat-berat belaka. Tatkala Rasulullah berdakwah ke Taif,masyarakat Taif bukan sahaja tidak menerima dakwah baginda, malah mencaci, menghina dan melempari baginda dengan batu dan najis. Para malaikat menawarkan diri untuk menghapuskan orang-orang yang berlaku durjana kepada baginda. Tetapi dengan tenang, baginda menjawab:   

“Biarkan mereka, jangan diapa-apakan mereka kerana mereka tidak tahu, mereka masih jahil.” 

 

Demikianlah, orang-orang yang tinggi taqwa dan keimanannya; tidak mengeluh apabila diuji. Berbeza dengan golongan orang awam seperti kita ni, apabila diuji kita mudah jahat sangka dengan Allah dan berdendam dengan orang yang mendatangkan ujian kepada kita. Walhal bukan orang itu yang hendak menyusahkan kita, tetapi hakikatnya Allah. Allah yang hendak uji kita, menggunakan orang itu sebagai perantaraan. Jadi, tanyalah Allah kenapa kita diuji…. 

 

Marilah kita lihat bandingannya. Katakanlah suatu ketika guru besar mengarahkan ketua murid merotan seorang murid yang melanggar disiplin sekolah. Apa reaksi murid yang dirotan itu? Kalau dia seorang yang insaf dan tahu diri, ia segera terfikir akan kesalahan yang dilakukannya, mungkin dia berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Itulah murid yang cerdik, dia sadar hikmah di sebalik dia dirotan. Tetapi bagi murid yang tidak mau berfikir, sudahlah tidak mau mengakukesalahannya, dia berdendam pula kepada ketua murid atau guru besar yang merotannya.Mengapa harus berdendam? Ketua murid hanya menjalankan tugas. Guru besar pula menjalankan keadilan; yang bersalah tidak dihukum, tidak ada jaminan yang dia tidak mengulangi kesalahannya. Kalau begitu, murid yang bersalah itu layaklah dirotan. Begitulah halnya dengan Allah yang Maha Pengasih. Berbagai-bagai cara Allah gunakan untuk mendidik kita.  

 

Diberikan-Nya ujian demi ujian sebagai peringatan kepada kita. Tetapi sedikit sekali yang mencari hikmah dan mengambil iktibar daripada ujian yang ditimpakan. Malahan ujian membuatkan kita bertambah jauh dari Allah; mengeluh dan menyesali takdir Allah. Marilah kita menyadari akan kesilapan kita selama ini. Terimalah segala ujian yang besar mahupun yang kecil sebagai satu didikan terus dari Allah. Dan ingatlah, andai kata kita diuji, kita masih wajib bersyukur kerana masih ada 1001 jenis nikmat lain yang Allah kurniakan kepada kita!  

 

Jadi mengapa mesti merungut ketika diuji?

 

 

Allah Loves You


hidup bukan untuk di sesali, 
bukan untuk di tangisi, bukan untuk di sedihkan.
hidup adalah perjuangan untuk terus bangkit dari kegagalan dan kejatuhan.
dan orang yang berada di puncak, adalah mereka yang sanggup mengelola jiwanya hingga kesedihan,
kecemasan, kegalauan, berlutut menyerah tak berdaya.
sulitnya hidup terkadang merupakan jalan dari tuhan untuk mengasah
 potensi yang ada dalam diri manusia.
bukankah untuk menjadi pedang yang tajam sepotong besi harus rela dibakar dan dipukul berkali kali ?
bukankah untuk menghasilkan mutiara seekor kerang harus rela menahan sakit 
yang berkepanjangan karena pasir yang mengendap di tubuhnya ?
bukankan untuk menjadi seekor rajawali seekor elang harus harus rela menjalani
proses transformasi yang sangat menyakitkan selama berbulan bulan ?
bukankah untuk menjadi seekor kupu kupu yang indah seekor ulat harus
rela menjalani proses menjadi kepompongyang menyiksa ?
dan satu yang harus kita ingat, bahwa kesulitan yang justru membuatmu
 dekat dengan kesulitan, hakikatnya adalah anugrah.
dan kemudahan yang membuatmu jauh dari tuhan hakikatnya adalah petaka.
(Ahmad Rifai Rifan)
ina
ukhuwwah illa jannah (05 Januari 2014)

Lanjut…

Contoh Bidang ilmu sosial. MA in Media

I See myself as a journalist who has been through different facet of media, starting from print, TV, radio and internet. Three years living in the US i can see that the next phase of media industry advancement is heavily depending on visual media, especially moving image in TV and film. Choosing this field is to maximize my skills in visual communication in order to anticipate this next phase of mesia industry trend. I believe that to produce a better quality TV and film product , i need special training in this field. Moreover, as indonesia TV industry is flourishing , a professional trained individual in this filed is higjly in demand while only limited number of people have this kind expertise in indonesia.

The UK’s advanced technology in the field enhance my skills and knowledge and will complete my media related skills to start a new venture in aTV and film production. My acquired TV/visual communication skills in the UK and my hand-on experiences in electronic and printed media will be my valuable asset to star my own business in TV and film production.

As I am committed to start my own bussines, I will not seek for new job in indonesia;s already high unemployment situation after completion of my study in the UK. instead i will provide more jobs for more indonesians by starting my own vebture in TV and film production. I hope that my acquired skills in the UK will help me in producing better quality TV programming and film for indonesia audience. Programs which are not only entertaining but also educating and opening new horizon for indonesians.

During my academic yeras and professional experiences, i have who many highly competitive schemes. For example, I won 2 different international fellowships to malaysia in 1997 and australia in 1995 . In 1999 i was awarded ford scholarship to pursue my education in washinton DC. In my professional lufe, i won media fellowship in universty of maryland in 2002. These consistent good records resulted from commitment persistence and perseverance to whatever I do.

With these good track records I have bright future in indonesian leadership and my future education in the UK can be a good investment for thr UK-Indonesia relationship.


Bismillah…

Karena banyak nya email yg masuk, alangkah baiknya saya tulis satu-satu disini. Contoh personal statement yg saya tulis adalah hasil mengikuti workshop negeri 5 menara 26 oktober lalu mewakili komunitas Pemburu Beasiswa, Semoga bermanfaat..

Contoh Bidang Ilmu pasti MA in Bio energy

1

           Being a new researcher in environment sector that related to renewable energy technology is a blessing granted to me. Since my interest in renewable energy has been occupied my mind when I studied chemical engineering in………it is a reputable university in indonesia which has been known for the hoghly competitive selection and scientific environment.

         I was one of the lucky people who could experience such a wonderful education process which has built my character and knowledge. Moreover, getting a chance to be supervised by a famaous national bio-fuel expert in doing my thesis research on bio-avtur has strenghened my motivation in devoting myself in bio-energy sector. In addition, I also had a chance to be a teaching assistant for “Industrial Wastewater Management” subject that has built my intereset in environment sector. More specifically about biogas that I think is a most appropriate technology that integrates environment and renewable energy sector.

           these interests have brougt me to my current job. Working at the present time for the…….I generate a comprehensive picture abaout indonesia’s environment problems and where renewable energy could be apart of the solution. In my office, Iam not only getting opportunity to apply my knowledge I obtained in my study but also gaining new knowledge about how policies could be an important factor to support the technology implementation. Being a researcher in a goverment research institution who provides techonlogy service for the society surely is a big achievement for me after my graduation from university.

     I reckon when i was in the first grade, being graduate from university without having experoence in student organization can bring aboutthe imperfection for my student live. Furthermore, experiencein organization might build network, friendship, various feelings and problems that have to be dealt with. It could prepare my properly in facing society when i graduated. Based on these thought, i the university I involved myself in several organizations which attracted me most, for example community development division of student executive board. I even took active participation in voluntary activities for helping earthquake victims occured in indonesia at 2009 . I reckon that these extracurricular activitie have increased my awareness about society until now, although inmanaging all the activities properly, i didn’t get the perfect grades for several subjects. But, i had tried my best effort to accomodate all of my study and orgabization’s activities.

          I am actually a hard worker , enthusiastic , and very motivated person. Iam also an extrovert and sanguine person, hence i like making friend, buliding new network, easily getting along with other people and being involved in community activities.

         When i was involved in biogas project in my office, for me it is utterly remarkable chance because i could not only utilize and deepen my knowledge in renewable energy and environment sector , but also devote myself to give significant contribution for helping society in solving wastewater problems and exploring the provision of biogas renewable energy. My experiences when i was involved in biogas project for two years have strenghened my motivation to indulge myself in this role. Furthermore, I have determined my goal to be a national biogas expert who could bring biogas technology to the society. This is definetely the area in which to devote my attenstions to both in my academic career an my future employment.

      This intention could be achieved if I enable to provide myself with excellent postgraduate education to improve my knowledge significantly. Moreover, I strongly motivate myself to continue research activities in my own country after finishing my study.

         Being nominated for the prestigious scholarship has strongly encouraged me to be a part of the wonderful education system in the US. Studying in the united states will bring me to a worldwide network with the US excellent academic environment, and this will empower me with the excellent substantial knowledge to achieve and realize my dream.

#Part1 selesai ..alhamdulilah :)

x

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers

%d bloggers like this: