Latest Entries »


Bismillah…

Di lihat dari judulnya seperti saya mau menulis kisah di suatu tempat, iya rabu  17 september 2014 kemarin tepat jam 16:00 WIB saya berangkat dari taman mini menuju blok M. Niat ini sudah saya pendam lama, saya mau silaturahim ke Daarut tauhid jakarta yang berada di cipaku, kebayoran baru jakarta. Alhamdulillah saat searching twitter nya Aagym ada info kajian tauhid di masjid daarut tauhid..Nah! Pas banget! batin saya acara akan di laksanakan pagi atau siang ternyata sore sampai malam , kajian tauhid dimulai 18:30-2100 WIB di masjid daarut tauhid. Buat saya kota jakarta itu adalah kota yang mudah di akses untuk kemana-mana, nyata nya memang iya tapi kemarin tidak. Saya buta jalan menuju Blok M, untuk menuju Blok M bisa dijangkau naik busway dari halte pinang ranti transit di halte bendungan hilir lanjut turun di Blok M. Awal sampai di halte blok M memang cukup mudah karena naik busway buat saya tidak terlalu memusingkan dibandingkan naik angkot, dari blok M saya turun sebenarnya sudah suntuk dengan penuh orang berjalan menuju mall, menurut hasil chat saya dengan panitia DPU daarut tahid via bbm saya dari blok M harus naik kopaja 57 turun di perempatan gereja pasar santa. Baiklah, saya sudah di pusingkan arah menuju pasar santa kemana (?) perempatan blok M yg asing buat saya, akhirnya tanya pak polisi yang berada di tengah jalan dan menunjukkan jalan arah pasar santa. Naiklah kopaja 57 dan petugas kopaja pun kelewatan nurunin saya di tepat pasar santa -__- saya diturunkan depan kampus BSI, alhamdulillah meskipun harus berjalan cukup jauh dari BSI ke masjid daaurut tauhid banyak pelajaran berharga ketemu seorang ibu sendirian yang juga menuju kesana. Benar “Allah Maha Dekat, Maha Memperhatikan, Maha Baik, Maha Menolong, yang tak mintapun diberi, apalagi yang benar2 memohon” lanjut sambil jalan menuju daaurut tauhid ngobrol sama ibu itu ga sempet tanya siapa nama nya, saya tanya : Ibu ga di anter putra/putri nya? jawaban ibu itu : Memangnya saya kelihatan sudah punya anak ya?  , duh apa saya salah tanya yah (batin saya) saya jawab : hehe, maaf bu saya lihat ibu sendirian saja agak kebingungan mau nyebrang jalan tadi. Ibu itu tanya lagi : kamu tebak kira2 usia saya berapa?, saya: senyum manis sambil jawab, 32 tahun bukan? ibu : saya belum nikah mbak, usia saya sudah 54 tahun. Allah masih ingin saya terus minta dan minta kepadNya. Mbak sendiri baru pulang sekolah ga dijemput bapaknya? saya : (Muka kaget) hehe maaf ya bu, saya nda tahu. Saya sendiri kesini, orang tua saya di semarang dan sudah lulus sekolah..ibu itu dengan nada kalem ,” ohh, wajahnya kayak masih sekolah” …dan obrolan bersambung ketika kami sudah sampai di depan masjid dan pisah ibunya langsung masuk ke dalam masjid saya mohon izin ambil wudhu.

Kita harus siap, sebaik apapun yang kita lakukan tak akan bisa memuaskan semua pihak bahkan akan ada yang tetap mencela, kalimat dari aagym ini begitu ngena dihati saya. Kajian aagym dimulai setelah shalat isya berjamaah, setelah shalat maghrib diisi kajian oleh ust edi abu marwa.

Aagym selalu mengulang kalimat ini, “ Makin banyak berharap dipuji, dihargai, dihormati, dikagumi, dicintai, dibalas budi makan gampang tersinggung dan sakit hati” Cukup Allah Saja niatkan lillahi ta’ala. Saya akui apapun yang di sampaikan aagym selalu masuk ke hati benar2 air mata saya selalu keluar ketika saya harus mengingat masa lalu atas dosa2 saya..Astagfirullah semoga Allah mengampuni dosa2 saya yang lalu, karena itu dimanapun ada kajian tauhid pasti saya kejar maupun jauh kalau masih bisa jangkau akan saya perjuangkan untuk datang. Sebelum kajian tauhid di masjid daarut tauhid hari sebelumnya Aa mengisi kajian AL hikam di masjid al latief di pasar raya, saya pun ikut. Malamnya lanjut di daaurut tauhid saya relakan ganti jadwal ngajar privat ke hari selanjutnya karena kamis Aa menunaikan ibadah haji. Jadi itu kajian terakhir sebelum berangkat ke baitullah, sungguh apapun yang di sampaikan dari hati akan sampai ke hati. Begitupun apapun yang di sampaikan Aa ke jamaah nya selalu masuk dan sampai ke hati.

Carilah seribu satu alasan untuk berbaik sangka niscaya akan lebih tenang dibandingkan hidup penuh prasangka buruk.. kadang saya berpikir ketika mengingat dosa2 yang lalu apakah orang yang pernah saya sakiti, saya kecewakan masih mau memaafkan saya? ternyata jawaban nya satu “Khuznudzon” berprasangka baiklah, kalau bisa setiap habis sujud shalat kita doakan karena siapapun dia pasti punya salah dan punya masa lalu. Ketika kita sudah minta maaf, urusan mau dimaafkan atau tidak itu urusan nya sama Allah. Yang pasti kita benar2 tulus minta maaf, jujur mengakui kesalahan dan Lillahi ta’ala… Allah..Allah ..Allah terus kata per kata dan kalimat yg di lontarkan aa yang keluar, air mata saya tak tertahan harus berlinang. Fokus perbaikan diri, biarkan apapun kata manusia mau dipercaya atau tidak itu ga masalah, asal Allah ridha dan kita benar2 ikhlas. Semua akan baik2 saja.

Kajian tauhid ditutup dengan doa dan air mata bertumpahan dari jamaaah, kajian selesai tepat pukul 21:00 Wib, yang saya pikir ketika keluar masjid “semoga Allah ridha, semoga saya sampai rumah dengan selamat. Asli saya pulang sendirian dan gatau naik apa mau menuju blok M nya karena memang sudah sepi, jamaah yang hadir kebanyakan orang2 yang bekerja di sekitar perusahaan2 di dekat daaurut tauhid. Saya niatkan saya pasti sampai rumah, bismillah akhirnya ada kopaja lewat kopaja 57. Memang jadwal kajian hari itu banyak teman2 saya yang ga bisa datang karena jauh dan belum pada pulang kerja. Jadi saya bertekad datang sendiri, saya pulang naik kopaja 57 menuju blok M, saya sudah bilang ke kenek kopaja kalau saya turun di terminal blok M, alhasil saya diturunkan di tengah jalan yang saya sendiri gatau dimana, sepi hanya ada motor dan sebelum saya turun gamis nyangkut di kopaja. Mungkin itu kode jangan turun heu heu tapi apa daya kenek nya bilang blok M mbak, ya saya turun. Ya Allah turun dr kopaja sepi, langsung di hampiri pak polisi ,” mau kemana dik? kata polisinya. Mau ke halte busway yg di blok M pak ,”jawab saya. Ini masih jauh ke blok M, dan belum saya jawab ada tukang ojek,” mau kemana mbak? naik ojek saja. Saya belum jawab apa2 karena ga habis pikir ini rencana Allah juga, akhirnya pak polisi nya bilang,” Ga usah pak, biar saya yang anter. Ayo dik naik kebetulan saya lewat sana, lewat blok M. Sudahlah, saya naik bareng pak polisi. Tadi bilang bagaimana kok bisa turun disana? tanya polisi. Saya bilang turun di terminal blok M pak, dan keneknya bilang mbak turun disini, ya saya turun. “jawab saya. Metromini kurang ajar, gumam pak polisinya. Ya sudah lain kali hati2…

Akhirnya saya diantar sampai depan blok M, dikasih petunjuk masuk arah mall turun satu lantai itu ada loket busway..Alhamdulillah sampai. Allah masih menjaga saya, menolong saya..Istighfar….

Saya sampai rumah tepat jam 22:47 Wib, lumayan sepi dan mata saya sudah ga kuat jalan heu

Luangkan waktu untuk tafakuri diri, taubati lumuran dosa2, sungguh air mata tobat akan jadi jalan ketenangan dan solusi.

Alhamdulillah..Alhamdulillah..Alhamdulillah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Bismillah…

Alhamdulillah..Alhamdulillah..Alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan kepada saya, untuk bisa melanjutkan berceloteh di blog ini lagi setelah dua minggu saya terkapar jatuh dari motor sebulan yang lalu. Tepat sebulan saya jatuh itu luar biasa nikmat dari Allah, jatuh dalam keadaan pingsan lama kepala bocor dan tangan kanan ga bisa digunakan bahkan angkat garpu pun tak kuat waktu itu :D Alhamdulillah, semua berakhir dua minggu an lebih saya di rawat. “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan kesempatan”. (HR.Bukhari dari Ibnu Abbas). Kita seringkali baru merasakan akan berbagai macam kenikmatan hidup sehat adalah ketika kita sedang sakit. Dalam keadaan kita sakit itulah kita baru menyadari akan berbagai hal kenikmatan hidup ketika dalam keadaan badan dan tubuh yang sehat. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa aktif lagi itu adalah sebuah nikmat luar biasa buat saya, ketika saya sakitpun sahabat-sahabat saya berdatangan itu menambah nikmat dan berkah saya.

Hari berikutnya lebaran 2014 momentum bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, sahabat-sahabat terbaik di rumah, ketika kita benar2 jatuh dan terpuruk disitulah kita akan tahu siapa sebenarnya sahabat kita, saya setuju dengan kalimat ini. Ini sudah saya temukan dan rapat rapat tersimpan di hati saya, mungkin saya kenal ribuan bahkan jutaan orang tapi yang akan selalu dikenang di hati ya cukup saya saja yang tahu dan Allah :) Lebaran 2014 bisa dirumah, bisa ikut reuni dengan teman alumni SMA 1 tepatnya IPA 1 itu juga sangat membahagaiakan, teman yang solid dan kompak meskipun sudah banyak berbeda status dan kalangan beda tempat.

IPA 1

Alumni XII IPA 1

2

Tya, Melisa, Saya, Puput, Arum, Susi

3

Sedikit gaya :D

4

Arum, Tya, Saya, Puput

Kumpul dengan satu gang ipa yang masih komit selalu ngajak jalan kalau saya pulang :))

5

Ulfa, Saya. Diaz, Idha

6

Bisa menghadari Walimatul ‘ursy mbak catur, dia kakak kelas, teman liqo, sahabat curhat, sahabat yang selalu mensupport saya untuk memperjuangkan cita cita juga PB ^^

Nikahan mbak catur]

Saya, Mbak Mia, Mbak Catur, Mbak Asri


ina1

Bersama Sahabat2 Komunitas MJWJ

Sampai bisa mengikuti seminar 7 steps to wedding di suscofindo

o

Seminar “7 Steps to Wedding”

 

Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, supaya muncul suatu ketenangan, kesenangan, ketenteraman, kedamaian dana kebahagiaan. Hal ini tentu saja menyebabkan setiap laki-laki dan perempuan mendambakan pasangan hidup yang memang merupakan fitrah manusia, apalagi pernikahan itu merupakan ketetapan Ilahi dan dalam sunnah Rasul ditegaskan bahwa “Nikah adalah Sunnahnya”. Oleh karena itu Dinul Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan dan selanjutnya mengarahkan pertemuan tersebut sehingga terlaksananya suatu pernikahan.
Namun dalam kenyataannya, untuk mencari pasangan yang sesuai tidak selamanya mudah. Hal ini berkaitan dengan permasalahan jodoh. Memang perjodohan itu sendiri suatu hal yang ghaib dan sulit diduga, kadang-kadang pada sebagian orang mudah sekali datangnya, dan bagi yang lain amat sulit dan susah. Bahkan ada kalanya sampai tua seseorang belum menikah juga.
Fenomena beberapa tahun akhir-akhir ini, kita melihat betapa banyaknya muslimah-muslimah yang menunggu kedatangan jodoh, sehingga tanpa terasa usia mereka semakin bertambah, sedangkan para musliminnya, bukannya tidak ada, mereka secara ma’isyah belum berani maju untuk melangkahkan kakinya menuju mahligai rumah tangga yang mawaddah wa rahmah. Kekhawatiran jelas tampak, di tengah-tengah perekonomian yang semakin terpuruk, sulit bagi mereka untuk memutuskan segera menikah.

Gejala ini merupakan salah satu dari problematika dakwah dewasa ini. Dampaknya kaum muslimah semakin membludak, usia mereka pelan namun pasti beranjak semakin naik.
Untuk mencari solusinya, dengan tetap berpegangan kepada syariat Islam yang memang diturunkan untuk kemaslahatan manusia, beberapa kiat mencari jodoh dapat dilakukan :
1. Yang paling utama dan lebih utama adalah memohonkannya pada Sang Khalik, karena Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan (QS.4:1). Permohonan kepada Allah SWT dengan meminta jodoh yang diridhoiNya, merupakan kebutuhan penting manusia karena kesuksesan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh besar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang.
2. Melalui mediator, antara lain:
a. Orang tua. Seorang muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut kriteria yang ia inginkan. Pada masa Nabi SAW, beliau dan para sahabat-sahabatnya segera menikahkan anak perempuan. Sebagaimana cerita Fatimah binti Qais, bahwa Nabi SAW bersabda padanya : Kawinlah dengan Usamah. Lalu aku kawin dengannya, maka Allah menjadikan kebaikan padanya dan keadaanku baik dan menyenangkan dengannya (HR. Muslim).
b. Guru ngaji (murabbiyah). Jika memang sudah mendesak untuk menikah, seorang muslimah tidak ada salahnya untuk minta tolong kepada guru ngajinya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Dengan keyakinan bahwa jodoh bukanlah di tangan guru ngaji. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.
c. Sahabat dekat. Kepadanya seorang muslimah bisa mengutarakan keinginannya untuk dicarikan jodoh. Sebagai gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi SAW dengan Khadijah RA. Diawali dengan ketertarikan Khadijah RA kepada pribadi beliau yang pada saat itu berstatus karyawan pada perusahaan bisnis yang dipegang oleh Khadijah RA. Melalui Nafisah sebagai mediatornya akhirnya Nabi SAW menikahi Khadijah RA..
d. Biro Jodoh. Biro jodoh yang Islami dapat memenuhi keinginan seorang muslimah untuk menikah. Dikatakan Islami karena prosedur yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu di antaranya adalah Club Ummi Bahagia.
3. Langsung, dalam arti calon sudah dikenal terlebih dahulu dan ia berakhlaq Islami menurut kebanyakan orang-orang yang dekat dengannya (temannya atau pihak keluarganya). Namun pacaran tetap dilarang oleh Islam. Jika masing-masing sudah cocok maka segera saja melamar dan menikah. Kadang kala yang tertarik lebih dahulu adalah muslimahnya, maka ia dapat menawarkan dirinya kepada laki-laki saleh yang ia senangi tersebut (dalam hal ini belum lazim di tengah-tengah masyarakat kita). Seorang sahabiat pernah datang kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau. Maka seorang wanita mengomentarinya, “Betapa sedikit rasa malunya.” Ayahnya yang mendengar komentar putrinya itu menjawab, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia menginginkan Nabi SAW dan menawarkan dirinya kepada beliau.”
Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh pengarang buku Tahrirul Mar’ah, bahwa ada seorang temannya yang didatangi oleh seorang wanita untuk mengajaknya menikah. Temannya itu merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak Anda untuk berbuat haram? Aku hanya mengajak Anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya”. Maka terjadilah pernikahan setelah itu.
Semua upaya tersebut hendaknya dilakukan satu persatu dengan rasa sabar dan tawakal tidak kenal putus asa. Di samping itu seorang muslimah sambil menunggu sebaiknya ia mengaktualisasikan kemampuannya. Lakukan apa yang dapat dilakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah. Jika seorang muslimah kurang pergaulan, bagaimana ia dapat mengenal orang lain yang ingin menikahinya.
Barangkali perlu mengadakan evaluasi terhadap kriteria pasangan hidup yang ia inginkan. Bisa jadi standar ideal yang ia harapkan menyebabkan ia terlalu memilih-milih. Menikah dengan orang hanif (baik keagamaannya) merupakan salah satu alternatif yang perlu diperhatikan sebagai suatu tantangan dakwah baginya.
Akhirnya, semua usaha yang telah dilakukan diserahkan kembali kepada Allah SWT. Ia Maha Mengetahui jalan kehidupan kita dan kepadaNyalah kita berserah diri. Wallahu A’lam bishowab.

semoga kita dipertemukan oleh pasangan yang baik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Ayo pantaskan diri!! :)

 

Intinya saya menunggu bulan ini, tepatnya bulan september. Ada dua tanggal yang saya benar tunggu2 :D Dan ketika saya menulis ini belum ada tanggal dari kedua itu yang terlewati, semoga September ini jadi berkah dan barokah buat saya. Aamiin yaa Rabbal’alamiin

September Sejuta Cerita di mulai. ^^

 

 

 

 

 


Tembagapura, Mimika

Bismillah..

Melanjutkan postingan sebelumnya perjalanan saya selama di papua ngapain aja, Tembagapura selanjutnya. Kecamatan Tembagapura adalah sebuah distrik setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Mimika, Papua. Di kecamatan ini terdapat dua gunung di mana terletak dua tambang besar, masing-masing tambang Ertsberg (tambang tembaga) di Gunung Erstberg dan tambang Grasberg di Gunung Grasberg yang merupakan tambang dengan cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Kedua tambang ini dioperasikan oleh PT. Freeport Indonesia. Kami bertiga sengaja berangkat dari kuala kencana ke tembagapura pagi-pagi dengan mobil freeport ke bandara mozes kilangin di timika, berharap naik coper menuju ke atas supaya lebih cepat sampai tapi alhasil cuaca tak mendukung, alternatif naik bis antri peluru. Yes! kapan lagi naik bis anti peluru :D Kami berangkat pukul 05.00 WIT waktu papua, menuju ke bandara bersama 2 orang panitia dan putranya salah satu panitia, Ryas namanya. Pukul 09.00 WIT kami baru berangkat, awal dibenak saya bis nya ber AC , ada Tv nya dan menyenangkan dan ternyata sebaliknya. Bis pengap, dan tidak bisa melihat keadaan di sekitar seperti apa, 2 jam perjalanan hanya mantengin HP buka google maps ga konek2 -_- dan paling menyedihkan saya duduk disebelah orang papua. Saya akan menggambarkan seperti apa orang disana, hanya adem panas badan saya selama di bis menanti “Kapan sampai” ga kuat dan ga tahan.

1Jalan sekitaran rumah, bersih tanpa sampah

2Adik2 di papua yg sedang mendengarkan pengajian34568Foto2 yang belum saya upload di Kuala kencana :D

Tiba di tembagapura disambut oleh beberapa panitia, yang ternyata masih harus naik2 lagi ke atas sekitar 10 menit menuju tempat tujuan.

11 2123242526272829

Tempat yang membuat betah untuk tinggal tapi juga sport jantung setiap hari :D

47 46Perumahan Freeport

454441403937Bis anti Peluru

36353120201314


Bismillah..

Lama nian saya tak menulis di blog ini, belum sebulan tapi serasa setahun :D Masalah kian berganti hadir silih berganti yang lalu belum usai yang baru ada lagi, ya inilah hidup. Tanpa masalah hidup ini tak berwarna putih polos kain tanpa noda, karena masalah kita belajar KUAT dan SABAR menghadapi apapun. Kalau orang-orang yang selalu saya temui akhir akhir ini selalu bilang saya selalu menebar senyum ke mereka tanpa ada beban dan masalah, padahal tidak. Justru masalah saya itu banyak *ceileh :D apalagi masalah komunitas PB yang belum usai *eh :)) tetapi semua ini banyak pelajaran yang saya dapat dan pembelajaran berharga. Saya jadi tahu mana sahabat-sahabat yang sesungguhnya, makna kepercayaan dan kejujuran dalam hal apapun, dan banyak yang benar benar membuat mata hati saya terbuka lebar. Di tulisan saya utk edisi bulan mei ini saya bukan mau cerita tentang masalah, tapi perjalanan dakwah saya ke papua. Iya, PAPUA yang selalu dulu sebelum saya kesana hanya ada yang ada didalam benak adalah orang orang berkulit hitam semua dengan pemikiran yang belum mau maju, itu pikir saya sebelum datang melihat langsung ke lapangan.

Berawal berangkat dari bandara soekarno hatta cengkareng pukul 17:00 WIB dengan pesawat AIRFAST menuju bandara mozes kilangin international airport. Karena pesawat terbang pukul 20:45 WIB , perjalanan jakarta – papua ditempuh selama 6 jam. Luar biasa pegel nya, tapi kalau niat awal ibadah insyaAllah tak terasa semua indah dan lillahi ta’ala.

11Pemandangan dari atas pesawat

12 13Tiba di bandara pukul 06:30 WIT

Tiba di bandara mozes kilangin tepat pukul 06:30 WIT jam papua, kami langsung menuju ke wisma HMM yang sudah disediakan oleh panitia. Sepanjang perjalanan menuju wisma di dalam batin saya hanya mengucap atas kekaguman bumi Allah yang indah ini. Menuju ke wisma HMM di kuala kencana tempat tinggal kebanyakan orang orang yang bekerja di freeport. Luar biasa peraturan nya, tak nampak ada kemacetan sedikitpun, tak ada lampu merah, tak ada polisi di jalan sepanjang perjalanan ke kuala kencana. Ketika di jalan pun benar benar rapi dan teratur mobil ga ada yang saling mendahului, kecepatan pun sudah di atur jika melebihi aturan bisa kena dena 400-1,2 juta, saluran air pun di jalan bersih tidak ada genangan air untuk sarang nyamuk, jalan masuk dari datang sampai tujuan tidak ada sampah kecuali hanya pohon pohon rindang nan indah yang ada, ini namanya surga dunia…

14

Kuala Kencana 15

16 17 18

Perjalanan hari pertama di kuala kencana ….

Bersambung…. (Lanjut besok saudara2, ada kendala)

 

 

 

 

 

Wanita, Perhiasan Dunia


Bismillah.. Pagi ini di IC, mencari inspirasi baru dengan mbak rindu.

 

Reblog dari Catatan pak Herry Cahyadi, thanks to remind me!  mari kita simak tulisan indah ini sebagai pengingat para Lelaki dan sebagai pembelajaran untuk kita para calon istri dan istri :)

Seringkali saya cukup jengah membaca beberapa artikel yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dan saya merasa hal itu sangat keterlaluan. Laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan adalah level ketaqwaannya. 

Namun, dalam teorinya, selalu ada penafsiran yang keliru dan cenderung fallacy(sesat pikir). Bisa jadi hal ini berkembang karena pengaruh tradisi lokal yang cukup kuat. Misalnya, kebudayaan di Asia belum tentu sama dengan di Eropa. Di Asia, tradisi bisa jadi jauh lebih kuat ketimbang penerapan agama. Di Indonesia pun satu daerah belum tentu sama dengan daerah lain. Terkadang pengaruh ini tercampur dengan penerapan agama yang parsial.

Sebagai contoh artikel berikutPengorbanan Istri Yang Sering Tidak Disadari Suami Di dalamnya berisi tujuh poin “pengorbanan” istri terhadap suami. Mengapa saya gunakan tanda petik dua (“), sebab menurut saya apa yang ditulis bukanlah pengorbanan, namun kekeliruan pemahaman. Saya yakin ini kasuistik (hanya dialami oleh penulis atau terlokalisasi di sekitar penulis artikel tersebut). Yang jelas, hati kecil saya berontak dan tidak menerima jika perempuan direndahkan dengan pemahaman keliru. Harus ada yang dikoreksi dari bagaimana cara berpikir sebagian orang mengenai posisi perempuan—terutama ketika dipandang sebagai seorang istri. Berikut komentar saya:

1. “Ketika suami menikah lagi dan perempuan berusaha menerima (karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), ia akan duduk sendiri di setiap malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan sabar.”

O please, jangan jadikan seolah perempuan harus menerima itu semua. Perempuan berhak menolak. Bahkan, sebelum pernikahan perempuan punya hak untuk meminta calon suaminya untuk tidak melakukan hal itu. Saya pribadi suka sekali dengan keberanian Ana dalam Ketika Cinta Bertasbih, ketika meminta calon suaminya untuk tidak menikah lagi selagi dia masih hidup. Ana bilang, “Saya tidak mengharamkan poligami. Tapi saya tidak suka. Sama halnya seperti petai. Saya tidak suka petai, tapi bukan berarti saya bisa mengharamkan petai. Saya tidak makan petai.” Menerima laki-laki yang akan melakukan poligami, sedangkan si perempuan tidak suka, lalu “terpaksa” menerimanya, bagi saya, adalah kebodohan. Pastikan calon suamimu tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, terpikirkan pun tidak. Dan, suami terbaik adalah ia yang tidak pernah membiarkan istrinya menangis, apalagi karena suaminya.

2. “Sebagai istri ia siap mengorbankan impian-impianny­a demi mengurus suami (yang kadang bersifat kekanak-kanakan­ dan minta diurus) dan anak-anak yang bandel.”

Saya cuma mau bilang: lelaki macam apa itu? Tega mengubur impian-impian istri demi mengurusi dirinya? Apalagi jika yang dimaksud “mengurus suami” itu sebagai “melakukan pekerjaan pembantu” (tolong bedakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dengan pekerjaan pembantu rumah tangga). Bagi saya, setiap orang punya hak untuk bermimpi dan mengejar impiannya masing-masing. Pasangan yang baik adalah mereka yang bahu-membahu membantu suami atau istrinya mencapai impiannya. Bukankah seharusnya begitu? Bukankah letak keindahannya di situ? Suami mengurangi beban dan ikut merasakan kepayahan istri dalam mengejar cita-citanya. Begitu pula sang istri kepada suaminya. Sehingga mereka berjaya bersama atau hancur bersama.

3. “Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.”

Astaghfirullah! Ketahuilah, sepanjang hidup Rasulullah, beliau tidak pernah sekalipun mencela masakan yang dibuat istrinya. Kalau menggunakan ukuran agama. Pertama, dilarang keras mencela makanan. Kedua, wajib hukumnya berakhlak baik kepada istri (dalam hal apapun). Mencela makanan yang dibuat istri sudah menyalahi kedua syarat akhlak tersebut. Itu baru dua, masih banyak yang lainnya. Jadi, sebelum menyebutkan “kesabaran atau pengorbanan” istri terhadap celaan suaminya, suaminya telah salah duluan. Dan, suami macam apa yang mencela masakan istrinya?

4. “Ia bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.”

Oh stop, please! Istri bukanlah pembantu! Baca lagi Istri bukan pembantu

5. “Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang istri adalah: tukang masak, tukang cuci, cleaning service, babu dan penghibur suaminya digabung jadi satu.”

Na’udzubillah! Ini kesesatan berpikir yang sangat nyata. Di manakah letak kemuliaannya? Bukankah ini bentuk perendahan sejadi-jadinya? Istri jadi seperti babu dan penghibur itu disebut mulia? Astaghfirullah. Saya benar-benar berlindung dari cara pikir seperti ini. Ini kesesatan berpikir yang fatal. Ingin saya rudal rasanya orang yang berpikir seperti ini.

6. “Ketika suaminya menginginkan punya anak 4, 5, 6 atau 9 orang, ia sebagai istri harus siap menderita mengandung anak dan bertarung nyawa melahirkannya.” 

Di poin ini letak semulia-mulianya perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mendapatkan kehormatan ini. Mengandung dan melahirkan adalah proses paling menakjubkan di dunia. Tetapi, perlu dicatat, istri pun berhak untuk mengendalikan kelahiran. Suami pun harus tahu diri tentang hal ini.

Inilah mengapa kewajiban mencari nafkah lahir dan bathin adalah sepenuhnya kewajiban suami. Bisa jadi sebagai pengganti—meski tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan mengandung dan melahirkan—kesakitan sang istri. Dan, perlu diketahui pula bahwa dalam mencari nafkah suami pun harus banting tulang.

7. “Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga.”

Laki-laki memang tidak akan pernah paham bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan seperti poin sebelumnya. Tetapi bukan berarti laki-laki tidak mendapatkan kewajiban pengorbanan yang sama. Dan, ini tidaklah sama dengan menjadikan istri sebagai subordinasi dari laki-laki. Melahirkan adalah sebentuk jihad bagi perempuan.

Tak Habis Pikir

Saya tidak habis pikir mengapa pekerjaan dapur-sumur-kasur itu disematkan sebagai pekerjaan wajib istri. Sehingga mengepel, menyuci, menyetrika, dsb dianggap domain perempuan. Saya meyakini ini adalah produk budaya lokal yang terasimilasi dengan penerapan agama. Ditambah banyak penafsiran terhadap hak dan kewajiban suami-istri yang dipahami parsial, jadilah tradisi subordinasi perempuan terus lestari. Perpaduan antara dominasi laki-laki sebagai budaya lokal dan penafsiran terhadap teks yang terlalu maskulin.

Jika ada perempuan yang menjalani itu semua dengan penuh keikhlasan tanpa tekanan, tradisi budaya, atau pemahaman parsial agama, bagi saya itu bagus sekali. Mungkin banyak alasan yang bisa diberikan. Namun, jika itu semua dilakukan dengan keterpaksaan budaya—tanpa diketahui hakikatnya, maka itulah yang keliru. Lebih keliru jika kesalahan berpikir itu terus dikampanyekan seolah istri-istri akan mulia dengan melakukan pekerjaan pembantu atau seperti poin-poin di atas. Keikhlasan karena kesadaran jauh lebih baik dari keikhlasan karena keterpaksaan.

Jika “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah,” maka lelaki shalih tentu akan menjaga perhiasan itu dengan jiwa raganya, merawatnya dengan teliti dan hati-hati, dan menyimpannya di tempat terbaik. Tidak masuk di akal jika perhiasan itu ia gunakan untuk memukul paku, mengganjal pintu, gantungan baju, atau digunakan untuk pekerjaan kasar, kotor, lagi menggerus keindahan perhiasan tersebut. Bukankah begitu?

Itu yang saya pahami secara sederhana dari perhiasan—dengan makna sesungguhnya. Bagaimana jika “perhiasan” yang dimaksud adalah manusia? Tentu akan jauh istimewa perlakuannya, bukan?”

Dua kali saya membaca artikel diatas dan dua kali pula saya menitikan airmata, saya jadi ingat kalimat ustadz Maulana “Perempuan adalah satu satunya manusia yang rela perutnya dirobek demi kehidupan anak anak suaminya” 

Subhanallah, jaga diri kita ya ukhti untuk jadi perhiasan terindah, I love you …

#menyeka airmata

FKIC – KKO


Bismillah…

KKO

ina

IC

TIM FKIC

l

KKO Bandung


Orang yang membencimu justru orang yang sangat perhatian padamu, tapi dengan cara yang salah.
Biarkan dia membicarakan keburukanmu pada orang lain, toh tak akan membuat dia terlihat hebat. Justru sebaliknya.
Jadi, balaslah dia bukan dengan amarah tapi dengan senyumanmu. :)

Kalimat obrolan dengan seseorang di organisasi yang baru saya ikuti. Sebut saja mas R, saya selalu terkagum kagum dengan apa yang selalu beliau sampaikan. Mulai dari A sampai Z , sekilas kalau dilihat pemalu tapi ilmu agama nya luas sekali. Mengikuti kajian online setiap malam via BBM yang saya ikuti sekarang benar-benar membuat saya menemukan sesuatu yang berbeda dan baru. Allah sayang, Allah Adil selalu menunjukkan jalan kebaikan kepada orang-orang yang mau berusaha lebih baik. Ada kalimat yang pernah saya dengar “Jangan berubah hanya karena ingin dicinta. Jadi dirimu sendiri, dan biarkan seseorang yg tepat menemukan & mencintaimu apa adanya.” Kalau semua orang harus mengerti dan mendukung, kita takkan pernah tau arti memperjuangkan :) Nah disini saya belajar banyak hal, meskipun kajian ini via online dan pertemuan sekali dalam sebulan buat saya lebih efektif. Saya bahagia bersama mereka.

@ JIH

KPK Ni'matul UlumBerhenti menyesali masa lalu, karena itu telah berlalu. Yang terpenting adalah saat ini, jangan sampai kesalahan yg sama terulang kembali. Masa lalu biarlah berlalu…. ^^

Ya Allah, jika karena lisanku ada yang tersakiti, maafkan aku. Dan buka pintu maaf dihati mereka untukku.

 

Salam Cinta :) :) :)

 


Bismillah…

Banyak yang mencari keteduhan bagi jiwanya,

yang dianggapnya begitu,

untuk kemudian ada kata-kata belahan jiwa,

yang terpisah darinya,

menjadikan angan-angan terpatri begitu,

yang sepertinya patut dicari dan diperjuangkan bagai nyata. 

 

Kalaupun kita dapat bertanya, “hendak kemanakah kita ini ? atas semua yang terjadi pada diri ini ?”

dan apabila kita dapat menjawab, sudah tentu dengan mantap kita akan menjawab, “Allah !”

 

Jika memang itu tujuan kita maka segala sesuatu yang terjadi pada kita, yang dihadapi dengan semua rasa dan fikiran itu, adalah bersifat bathil dan akan lenyap pada waktu Nya, berganti-gantian bagai malam dan siang, sebagaimana itu tidak ada pada awalnya maka secepat itu pula dapat menjadi tidak ada pada waktu Nya.

 

Sesungguhnya Allah ta’ala akan terus menguji kita, dengan setiap pengakuan dan pernyataan kita sendiri kepada Nya,

dengan apa yang (menurut kita) baik maka belum tentu itu baik untuk kita. Begitu pula berlaku pada hal yang (menurut kita) buruk, seakan Dia berkata, “hadapkan wajahmu itu hanya kepada Ku !, apapun keadaanmu.”

 

Dia menguji kesungguhan kita dengan apa yang dinamakan cinta, seperti anak panah yang melesat dan menancap tepat di dada kita, dalam pada itu ada ketidak berdayaan dan penyerahan, kembali lagi kepada Nya, karena memang itu adalah milik dan ciptaan Nya dan hanya dari Nya sekaligus bagi Nya semata memang bukan untuk selain Nya.

 

Seberapa rela kah kita menukarkan sesuatu itu ?

yang bersifat kesementaraan dan penciptaan dengan keabadian mutlak Nya ?, seperti apa yang telah dikisahkan dan terjadi,pada junjungan kita Al Mustafa sang Sultan Makkah dan Madinah, tambatan cintanya Khadijah kembali pulang kepada Sang Penguasa Kerajaan Baqa dan Qurbah, kepedihan dan keperihannya, terpisahkan jarak yang tidak dapat dijangkau oleh akalnya, karena pengorbanan dan kerelaannya atas hal itu, Al Mustafa pun berjumpa dengan jarak sejengkal bersama dengan Dzat sumber atas semua cinta, dambaan serta tambatan keabadian, di atas seluruh kenikmatan Surga yang disediakan Nya, alam kedekatan Nya, kekasih sesungguhnya yang saling bertatapan.

 

Seberapa malunya kah kita yang terus berjuang ? hanya untuk sebuah kesementaraan, dan rela menukarkannya dengan keabadian Nya ? lihatlah dan tengoklah jiwa kita, bagai orang yang thowaf di sekeliling rumah Nya, ia dapat melihat dan mengira telah mendekat, ternyata dengan jarak kejauhannya sendiri.

 

Allahumma Ya Musabibal Asbab, Ya Muqalibal Qulub. Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin wa laa hawla wala quwwata illa billah..

 

…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

 

Barakallahufikum ….

 


Bismilllah…

Dua bulan sudah berlalu dengan berbagai kesibukan yang luar biasa, Allah menghadirkan sahabat-sahabat luar biasa yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Benar dalam sebuah kaliamat, bertemu dengan orang yang salah dulu sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Dan ini yang saya rasakan sekarang, orang-orang yang saya temui awal 2014 sampai detik ini pun luar biasa. Selalu ada warna dan kenyamanan ketika bersama mereka. Bahkan Ujian apapun yang bertubi-tubi jadi terasa ringan ketika ridha Nya nya yang di kejar :)

Ujian adalah guru yang tidak berbicara, tetapi ia sangat mengajar dan mendidik. Ujian terkecil apalagi terbesar adalah takdir Allah. Yang mempunyai maksud tertentu. Karena jahilnya kita, apabila ditimpa ujian sama ada secara langsung dari Allah atau melalui orang lain, kita mulai telatah. Terasa Allah tidak adil, sengaja hendak menyusahkan kita. Atau kita menyalahkan orang yang mendatangkan ujian tersebut. Hati berdendam hati buruk sangka pada Allah yang mendatangkan ujian itu. Allah Maha Pengasih; jauh sekali Allah takdirkan ujian hanya untuk menyusahkan hamba-Nya. Marilah kita sama-sama mengcungkil hikmah di sebalik ujian yang ditimpakan. Ujian sebenarnya melatih kita untuk mendapatkan sifat-sifat yang terpuji. sabar, ridha, tawakkal, baik sangka, mengakui diri sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri dengan Allah, mengharapkan pertolongan Allah, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya. Berasa diri berdosa adalah juga sifat terpuji. Sebab itu bagi orang yang sudah banyak melakukan dosa atau lalai daripada mengingati Allah, maka Allah datangkan ujian kesusahan kepadanya. Supaya hamba-Nya tadi tidak tenggelam dalam dosa dan noda. Kadangkala Allah dedahkan dosa yang dilakukan hingga ramai orang tahu. Bukan untuk menghinakan kita tetapi untuk memberi ingatan supaya kita bertaubat. Dan tidak meneruskan perbuatan dosa itu sehingga bila-bila Ujian juga bermaksud qisas (pembalasan) ke atas dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa mesti dihukum, sama di dunia atau di akhirat (kecuali kita telah bertaubat sungguh-sungguh sehingga Allah mengampunkan dosa itu).

Bagi orang yang Allah kasih, di dunia lagi Allah hukum, tidak di akhirat. Yakni dengan di datangkan kesusahan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kehilangan pengaruh dan sebagainya. Sekiranya kita boleh bersabar dan ridha, maka itulah ganjaran pahala untuk kita. Sebaliknya kalau kita tidak boleh bersabar dan tidak ridha, malah merungut-rungut, mengeluh dan memberontak, hanya akan menambahkan lagi dosa kita. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya, tidak mau hukum kita di akhirat, karena penderitaan di neraka berpuluh-puluh kali ganda lebih dahsyat daripada penderitaan di dunia. Sekiranya kita telah dihukum di dunia lagi, kita patut bersyukur kerana apabila kembali ke akhirat, kita telah bersih daripada dosa. Adakalanya, kita ditimpakan kesempitan hidup. Sengaja Allah takdirkan demikian kerana Allah sayang pada kita. Allah hendak melatih kita menjadi orang yang bersabar dan ridha dengan takdir-Nya. Mungkin kita akan sombong dan bakhil kalau dikurniakan harta melimpah ruah, maka Allah didik kita dengan kemiskinan.

 

Apabila kita diuji dengan kesakitan, Allah mau memberitahu kita bahwa begitulah susah dan menderitanya orang yang sedang sakit. Semoga kita menjadi orang yang bertimbang rasa; menziarahi dan membantu mereka yang menderita sakit. Orang yang sedang sakit, hatinya mudah terusik. Sesiapa saja yang datang dan memberi nasihat, InsyaAllah mudah diterimanya. Bagaimana pula kalau kita diuji dengan kematian orang yang paling kita sayangi. Ujian ini sangaja didatangkan agar terasalah kita ini lemah; tiada kuasa untuk menolak ketentuan Allah. Akan tertanamlah rasa kehambaan di dalam hati, sekaligus membuang rasa bangga diri. Begitulah, sebenarnya Allah mau kita sentiasa beringat-ingat. Agar dengan ujian itu, kita sebagai hamba akan datang untuk mengadu, mengharap, merintih belas ihsan, dan sentiasa merasakan hanya Allah tempat meminta segala-galanya. Ujian juga adalah untuk menilai sejauh mana keyakinan kita kepada Allah. Semakin diuji sepatutnya semakin bertambah iman kita, dan semakin hampir kita dengan Allah.

Firman Allah dalam surah Al Imran; 142 yang bermaksud:

     “Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang bersabar.” 

 

Firman Allah dalam Surah Az Zumar;10 yang maksudnya: 

     “Sesungguhnya diberi ganjaran orang sabar dengan pahala tanpa hisab.” 

 

Allah takdirkan ujian demi ujian untuk memberi peluang kepada kita mendapatkan pahala sabar. Barangsiapa yang sabar dan redha tanpa mengeluh, merungut atau syurga. Oleh itu, apa salahnya Allah uji kita karena hendak menyelamatkan kita di akhirat kelak! Berbeda pula halnya dengan ujian yang ditimpakan ke atas para Rasul, para nabi, wali-wali dan kekasih-kekasih Allah. Ujian ke atas mereka bermaksud untuk meninggikan darjat dan kedudukan mereka di sisi Allah. Sebab itu ujian yang mereka hadapi berat-berat belaka. Tatkala Rasulullah berdakwah ke Taif,masyarakat Taif bukan sahaja tidak menerima dakwah baginda, malah mencaci, menghina dan melempari baginda dengan batu dan najis. Para malaikat menawarkan diri untuk menghapuskan orang-orang yang berlaku durjana kepada baginda. Tetapi dengan tenang, baginda menjawab:   

“Biarkan mereka, jangan diapa-apakan mereka kerana mereka tidak tahu, mereka masih jahil.” 

 

Demikianlah, orang-orang yang tinggi taqwa dan keimanannya; tidak mengeluh apabila diuji. Berbeza dengan golongan orang awam seperti kita ni, apabila diuji kita mudah jahat sangka dengan Allah dan berdendam dengan orang yang mendatangkan ujian kepada kita. Walhal bukan orang itu yang hendak menyusahkan kita, tetapi hakikatnya Allah. Allah yang hendak uji kita, menggunakan orang itu sebagai perantaraan. Jadi, tanyalah Allah kenapa kita diuji…. 

 

Marilah kita lihat bandingannya. Katakanlah suatu ketika guru besar mengarahkan ketua murid merotan seorang murid yang melanggar disiplin sekolah. Apa reaksi murid yang dirotan itu? Kalau dia seorang yang insaf dan tahu diri, ia segera terfikir akan kesalahan yang dilakukannya, mungkin dia berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Itulah murid yang cerdik, dia sadar hikmah di sebalik dia dirotan. Tetapi bagi murid yang tidak mau berfikir, sudahlah tidak mau mengakukesalahannya, dia berdendam pula kepada ketua murid atau guru besar yang merotannya.Mengapa harus berdendam? Ketua murid hanya menjalankan tugas. Guru besar pula menjalankan keadilan; yang bersalah tidak dihukum, tidak ada jaminan yang dia tidak mengulangi kesalahannya. Kalau begitu, murid yang bersalah itu layaklah dirotan. Begitulah halnya dengan Allah yang Maha Pengasih. Berbagai-bagai cara Allah gunakan untuk mendidik kita.  

 

Diberikan-Nya ujian demi ujian sebagai peringatan kepada kita. Tetapi sedikit sekali yang mencari hikmah dan mengambil iktibar daripada ujian yang ditimpakan. Malahan ujian membuatkan kita bertambah jauh dari Allah; mengeluh dan menyesali takdir Allah. Marilah kita menyadari akan kesilapan kita selama ini. Terimalah segala ujian yang besar mahupun yang kecil sebagai satu didikan terus dari Allah. Dan ingatlah, andai kata kita diuji, kita masih wajib bersyukur kerana masih ada 1001 jenis nikmat lain yang Allah kurniakan kepada kita!  

 

Jadi mengapa mesti merungut ketika diuji?

 

 

Allah Loves You


hidup bukan untuk di sesali, 
bukan untuk di tangisi, bukan untuk di sedihkan.
hidup adalah perjuangan untuk terus bangkit dari kegagalan dan kejatuhan.
dan orang yang berada di puncak, adalah mereka yang sanggup mengelola jiwanya hingga kesedihan,
kecemasan, kegalauan, berlutut menyerah tak berdaya.
sulitnya hidup terkadang merupakan jalan dari tuhan untuk mengasah
 potensi yang ada dalam diri manusia.
bukankah untuk menjadi pedang yang tajam sepotong besi harus rela dibakar dan dipukul berkali kali ?
bukankah untuk menghasilkan mutiara seekor kerang harus rela menahan sakit 
yang berkepanjangan karena pasir yang mengendap di tubuhnya ?
bukankan untuk menjadi seekor rajawali seekor elang harus harus rela menjalani
proses transformasi yang sangat menyakitkan selama berbulan bulan ?
bukankah untuk menjadi seekor kupu kupu yang indah seekor ulat harus
rela menjalani proses menjadi kepompongyang menyiksa ?
dan satu yang harus kita ingat, bahwa kesulitan yang justru membuatmu
 dekat dengan kesulitan, hakikatnya adalah anugrah.
dan kemudahan yang membuatmu jauh dari tuhan hakikatnya adalah petaka.
(Ahmad Rifai Rifan)
ina
ukhuwwah illa jannah (05 Januari 2014)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers

%d bloggers like this: